Posted in Diary

Tjangkir

CANGKIR 1
CANGKIR 1

Hari ini saya ajak para pembaca untuk melihat panorama cangkir. Anda pasti punya cangkir di rumah.  Jika tak punya, pastilah sudah pernah melihat dan mengenal cangkir di rumah orang lain. Cangkir harus punya belalai untuk mengaitkan jari kita. Jika sebuah wadah besar, berdiameter 20 sentimeter dan tak punya belalai tempat mengaitkan jari kita, itu bukan cangkir namanya tapi ember! Besarnya cangkir selalu lebih pendek dari gelas. Cangkir yang lebih tinggi dari gelas , namanya berubah menjadi mug! Persaudaraan antara cangkir, gelas dan mug sungguh kental. Cangkir tak mau disebut dengan mug dan mug juga tidak sudi disebut dengan gelas.

CANGKIR 2
CANGKIR 2

Anda punya nama, bukan? Siapa nama Anda? Rahayu kah? Anda pasti tidak mau dipanggil dengan Fransisca, kan?  Tapi Rahayu masih akan menoleh jika ada orang memanggil dengan ,

“Yuk, … Ayuuuk!”

Sedikit variasi cara memanggil tak membuat Rahayu keberatan dipanggil dengan “Ayuk” . Huruf asli namanya tidak hilang dalam panggilan barunya “Ayuk”. Jadi… para pembaca sekalian, cangkir di atas meski tanpa belalai dengan lubang tempat mengaitkan jari, tetaplah disebut cangkir. Perlu disebutkan alasannya? Baiklah , akan saya sebutkan. Tinggi cangkir di atas masih di bawah tinggi gelas normal dan meski tidak punya belalai, ia punya kuping gajah yang jadi tempat jari kita menjepitnya. Body cangkir berkuping gajah ini juga masih dilengkapi lepekan (alas cangkir) yang merupakan ciri khas cangkir yang ke dua. Tak perduli datar atau bergelombang yang penting ia punya lepekan , atau alas, atau landasan duduk.

CANGKIR 3
CANGKIR 3

Pembaca yang budiman, Anda pernah mendengar Sir Alex Ferguson? Itu lo… mantan pelatih klub sepak bola MU (Manchaster United). Ia punya gelar aristokrat ‘Sir’. Apakah Anda setuju dengan saya  jika cangkir ke-3 yang saya tampilkan ini seperti gelar aristokrat milik Sir Alex Ferguson itu?

CANGKIR 4
CANGKIR 4

Pemilik cangkir yang ke-4 ini sepertinya seorang wanita berambut panjang yang rajin merawat tubuhnya dan selalu harum sepanjang masa. Mengapa? Secara tampilan pink rose yang mendominasi permukaan cangkir gitu lohhh! Pink rose cenderung menempel dengan wanita cantik berambut panjang ketika ia hadir dalam media. Lho, … Anda jangan cemberut jika tidak mendapatkan fakta yang seperti saya bayangkan! Mungkin sepupu Anda orang yang tomboy tapi koleksi cangkirnya penuh bunga rose pink seperti cangkir-4 ini, benar begitu? Jika benar, tulislah di kolom komentar tentang kenyataan yang Anda temui itu , please?!

CANGKIR 5
CANGKIR 5

Cangkir ke-5 yang saya tampilkan di sini , seperti mengumumkan bahwa pemiliknya adalah penggila desain grafis. Kalau saya pergi ke rumah teman yang profesinya berhubungan dengan kreatifitas, saya sering menemukan cangkir semacam ini di kamarnya. Cangkir semacam ini juga saya temui di rumah teman saya yang seorang entrepreneur–duh bahasa apa ini? Orang bisnis maksudnya … lahh entrepreneur kan bukan kata aneh dan baru kan? Karakter pemilik cangkir ke-5 ini juga menyiratkan kepribadian yang terbuka. Uhuuuy! Sok teu banget saya ya!

CANGKIR 6
CANGKIR 6

Tampilan cangkir yang nomer 6 ini smart. Adakah di antara Anda yang allergi dengan kata ‘smart’? Saya mendapat info dari sahabat hati saya, bahwa warna oren itu berkesan smart. Begitu! Selain smart, pemilik cangkir oren ini juga kreatif penuh imajinasi. Lihat, lepekannya asimetris. Nggak nyangka kan? Cangkir ini cocok dimiliki orang yang memiliki  kualitas kreatifitas yang cenderung sangat unik, sangat nggak biasa dan sangat mencengangkan hingga membuat orang lain terinspirasi plus termotifasi habis! Superb dahhh!

CANGKIR 7
CANGKIR 7

Oh, yang ini cangkir yang membawa kita ke suasana tahun 60-an. Saya agak kebingungan mendiskripsikan suasana nge-teh dengan cangkir yang transparan seperti ini. Kira-kira percakapan yang mengiringinya penuh basa-basi atau tidak ya? Anda punya gambaran yang lebih akurat tidak tentang cangkir nomer 7 yang saya tayangkan di sini? Saya hanya tertarik transparannya saja, yang memudahkan kita melihat isinya dari kejauhan tanpa repot-repot melongok ke dalam mulut cangkir. Hanya itu!

CANGKIR 8
CANGKIR 8

Pemilik cangkir nomer 8 ini , nggak banyak cing-cong. Sang pemilik hanya berkata  begini ,

“Pokoknya aku suka biru!” selesai sampai di situ. Tak ada percakapan lebih lanjut.

CANGKIR 9
CANGKIR 9

Cobalah sekali-sekali bertamu ke rumah teman yang memiliki cangkir a la jamban duduk begini. Koplak! Bertamulah di saat Anda kehabisan ide padahal hari begitu cerah tanpa awan sedikit pun. Coba datang ke teman Anda itu, dan rasakan pengaruhnya ketika Anda pulang dari sana.  Kegilaan! Bagaimana dengan kopi dalam cangkir no.9 di atas? Tegakah, sudikah, nyamankah Anda meminumnya? Hahaha…

CANGKIR 10
CANGKIR 10

Tampilan cangkir ke-10… pemiliknya adalah nasabah bank terlabel. Jika bukan pemiliknya yang nasabah bank, mungkin keponakan pemilik adalah nasabah bank terlabel, atau dikasih cucu yang kebetulan nasabah bank itu. #Branding! #Selling!  #Marketting!

CANGKIR 11
CANGKIR 11

Pemiliknya cukup punya daya kreatifitas, tapi ndak mau ribet-ribet amat.

“Lepekan ya lepekan , sekedar kasih alas, nggak perlu lebar-lebar, ribet amat sih!”

Meskipun agak sadis sedikit ungkapannya, tapi daya kreasinya cukup unik kan?

CANGKIR 12
CANGKIR 12

Pemiliknya sedikit suka oldies, barang-barang kuno yang artistik. Karakternya nggak biasa, body cangkir cembung seperti gentong , ornamen bergaya mediteranian. Gaya bicara akan renyah dengan suguhan cangkir semacam ini. Siapa saja pemiliknya? Bisa profesional, bisa artis, atau seseorang di tengah perkampungan padat yang nggak biasa-biasa saja. Punya mimpi , dan optimis.

CANGKIR 13
CANGKIR 13

Ketika Anda duduk, lalu disuguhkan cangkir no.13 ini, saya yakin Anda terhenyak di tempat duduk Anda dan melongo seraya terpukau.  Pemiliknya kadang menceritakan sebuah teori atau kajadian yang jauh di luar nalar. Atau jauh di luar keseharian. Sang pemilik cangkir tidak suka formalitas dan punya cara sendiri  dalam menyelesaikan masalah. Sebuah cara yang tidak umum namun mampu menyelesaikan masalah lebih efektif kadang-kadang jika dibanding dengan cara orang kebanyakan.

CANGKIR 14
CANGKIR 14

Seramai bunga pada body cangkir, selebar lepekannya, maka pemiliknya juga akan memiliki cerita yang ramai , panjang dan lebar. Makan waktu lebih dari satu jam mengobrol dengan pemilik cangkir ini.  Sebuah ide brillian bisa muncul dari pemilik cangkir berlepek gelombang ini, namun pemaparannya sungguh lebar… hahaha.  Ia bisa menceritakan peniti yang  jatuh dari meja hingga tiga paragraf panjang. Bisa menceritakan konser musik orang dekatnya hingga lima paragraf panjang. Atau tentang buah yang ditemuinya di pasar yang dikunjunginya suatu pagi hampir enam paragraf. Heboh!

Ini adalah kisah fiksi tentang cangkir. Jika ada kemiripan karakter dan tipe cangkir yang saya tampilkan di sini itu hanya kebetulan saja. Karena paparan ini bukan ditujukan untuk memojokkan seseorang. Setiap karakter punya nilai dan peran yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun dan penting semua.  Ngomong-ngomong, Pak Munarman kemarin menyiram air pada rekannya pakai cangkir atau gelas ya? Sungguh, paparan posting ini terinspirasi dari peristiwa penyiraman oleh Pak Munarman yang ditayangkan secara live di TV One. Tak lepas dari membicarakan karakter manusia, karakter Pak Munarman pun diijinkan hadir bahkan di depan jutaan pemirsa, tentu karakter tersebut boleh ada di tengah kita guna memberi hikmah pada karakter-karakter pemirsa TV One. Bukan begitu kah?

CANGKIR 15
CANGKIR 15

Terakhir adalah cangkir loreng kuning, yang diobral di toko Sarinah Malang, karena tokonya mau tutup untuk direnovasi.

“Cangkir ini unik, loreng kuning” demikian menurut Ibunda saya yang membelinya.

Begitulah …! Karena ia murah, karena ia loreng dan nggak bisa pilih warna lainnya karena cuma ada warna kuning di ajang obralan itu.

Cangkir ini menemani penulisan cangkir yang memerlukan kerepotan mengumpulkan empat belas gambar cangkir pilihan dari internet dan satu cangkir pribadi milik Ibu di Malang. Waktu postingan ini saya publish , saya yakin orang sudah mulai melupakan Munarman. Tertimbun oleh kejadian lain, oleh karya orang yang lain lagi, oleh berita bencana yang lain. Agak malu sebenarnya mau mengucapkan terimakasih pada Pak Munarman di saat reramai orang menilai negatif perilakunya. Apa boleh buat, saya memang memikirkan cangkir setelah melihat tayangan penyiraman air oleh Munarman…

Baiklah . pembaca yang budiman , sampai bertemu lagi ya, .. terimakasih sudah membaca kisah saya. Semoga terhibur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s