Posted in Diary

Semongkat-Sampar

Hash lagi…

Jalan lagi…..  Siang terik pukul 15.00 di tengah kantuk saya pada hari Minggu, tiba-tiba diajak suami dengan antusias (tumben juga). Meng-IYA-kan ajakan itu membutuhkan waktu setengah jam, karena kantuk berat dan udara yang lumayan panas.

Para pembaca yang budiman, di bawah ini banyak saya tayang foto-foto apa adanya tentang perjalanan 1 Sep 2013.  Ada mobil-mobil mentereng di sini, sengaja saya tampilkan karena ada kisah baik di baliknya. Siapakah pemiliknya? Mereka adalah wirausahawan yang telah bertahan di kota kecil Sumbawa Besar selama belasan sampai puluhan tahun. Mereka mempekerjakan orang-orang lokal. Mereka juga membagi pengalaman wirausaha mereka pada anak buahnya.  Di balik kendaraan-kendaraan mentereng ini, mereka terlibat dalam komunitas hash , menjalin keterikatan dengan anggotanya, baik anggota dadakan seperti saya dan dua pria dalam foto di bawah ini. Mereka membagi kisah wirausaha mereka pada peserta hash dan  memberi inspirasi kami tentang kerja ulet mereka.

Titik Start Semongkat-Sampar
Dua peserta dadakan (dua paling kiri), Pak Kunde (kaos biru), Ko Ahing (topi biru) , dan paling kanan Pak Syaf (topi petualang)
Titik Star dan Si Ford
Titik Start dan Si Ford, 1 sep 2013

Hash adalah perkumpulan penggemar jalan kaki, yang biasanya mengambil rute menantang. Rute Semongkat-Sampar adalah rute langganan grup hash Sumbawa Besar. Saya yang hanya orang luar, agak bosan dengan rute itu. Tapi berhubung yang mengajak bukan orang sembarang (suami maksudnya), yahh…dengan susah payah diusahakan. Entah apa sebabnya rute Semongkat-Sampar selalu jadi pilihan track jalan kaki di grup Hash Sumbawa Besar. Rute itu berbentuk huruf “V”.

Mula-mula peserta hash akan menuju titik start dengan kendaraan. Di titik start di mulut gang Semongkat-Sampar peserta memulai berjalan kaki sejauh 6 km. Terdiri dari 3 km pergi ditambah 3 km pulang dari mulut gang Semongkat-Sampar sampai desa Sampar di ujung bukit. Perjalanan diawali dengan turunan curam sepanjang 500-600 meter, lalu menanjak curam-landai sejauh 2,5 km. Sampai di desa Sampar, peserta hash akan kembali melalui track itu menuju tempat awal start. Saat ini grup hash akan mempersiapkan fisik untuk pertemuan hash nasional di Yogyakarta 11 September 2013 mendatang. Selama bulan puasa hingga lebaran lalu, kegiatan hash otomatis libur. Beberapa bulan para peserta tidak melakukan latihan fisik yang berat. Maka Minggu siang kemarin , 1 September, latihan hash kembali diadakan. Berkumpul bareng peserta hash Sumbawa Besar cukup menyenangkan juga. Ada dua orang yang jadi tukang cerita selama perjalanan. Dua orang itu adalah Ko Ahing dan Ko Ayung. Mereka adalah para Koko Chinese yang sangat senior di komunitasnya. Dua Koko itu sangat dekat satu sama lain, dan menjadi salah satu magnet yang merekatkan keakraban dalam komunitasnya.  Mereka adalah para wirausaha di kota kecil, setia di kota kecil karena berkah melimpah ruah yang telah mereka nikmati dan mereka bagikan pula pada anak buahnya. Baik anak buah orang lokal maupun keluarga mereka. Beberapa kali berkumpul bersama mereka saya merasakan nilai-nilai yang baik. Nilai-nilai yang saya dapatkan itu menjawab pertanyaan :

“Mengapa mereka bisa menjadi the best di kota kecil ini ?” dan  “Mengapa Tuhan mengijinkan mereka menjadi besar di kota Sumbawa Besar ini?”

Soal pemandangan di bulan September , saat berada di musim kemarau,  sepanjang rute hash Semongkat-Sampar semak-semak kering di mana-mana dan membentuk hamparan coklat di lembah bukit.  Petak sawah sedang hijau di area dekat sungai di dasar lembah. Rumpun padinya telah dewasa dan mungkin sudah mulai mengeluarkan bulir padi. Saya hanya memandangnya dari kejauhan. Hutan kemiri sepi, tidak banyak pemungut biji kemiri seperti beberapa bulan lalu saat saya melewatinya. Ujung rute Semongkat-Sampar adalah sebuah desa, bernama desa Sampar  yang dilengkapi sebuah surau kecil. Kali ini saya tidak sanggup menyelesaikan rute sampai desa Sampar. Saya menyerah !!! Cukuplah sampai tiga perempat rute, lalu saya memutuskan kembali ke titik start. Ko Ayung yang telah mengalami operasi pemasangan lima ring untuk jantungnya, juga tidak sanggup menyelesaikan rute sampai desa Sampar. Ia berjalan sendirian saat saya temui dalam perjalanan saya kembali. Melihat saya balik ke titik start, Ko Ayung memutuskan ikut kembali bersama saya. Beliau adalah salah satu pencerita, maka sepanjang jalan bersama saya , penuhlah ceritanya tertumpah. Termasuk kisah operasi pemasangan lima ring untuk jantungnya.

Ko Ahing (Orange) , Ko Ayung (paling kanan) bareng Bu Pancawati dan Pak Ransa (dua peserta hash penggembira)
Ko Ahing (Orange) , Ko Ayung (paling kanan) bareng Bu Pancawati dan CEO BNI DPS  di Rute Semongkat-Sampar  2 Juni 2013

Ko Ahing dan Ko Ayung telah setia di kota Sumbawa Besar, terikat kuat dengan tanah ini. Senyum-senyum dalam  foto di atas itu artinya adalah senyum wirausaha dan pelayan kewirausahaan itu.  Ini hanya sepenggal kisah di kota Sumbawa Besar, di lain kota pasti ada kisah yang saya yakin sama seru atau lebih seru.  Jika Tuhan mengijinkan mereka tersenyum di sini, tentu di tempat lain juga demikian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s