Posted in Diary, Mikropreneur

Ego Pemain/Pelatih Bola vs Ego Pengamat Bola

13818848062008685565

 

Pertama perlu ditegaskan di sini yang dimaksud “Bola” adalah permainan sepak bola. Bukan bola yang lainnya.

Ego Pengamat Bola

Sampai detik ini pengamat bola Indonesia mungkin sepakat bahwa pertandingan karya anak negri yang terbaik adalah pertandingan U-19 vs Korsel , Sabtu : 12 Oktober 2013 beberapa hari lalu.  Anak-anak didik usia belasan itu, masih sangat patuh pada pelatihnya. Berkah Tuhan pula buat mereka squad U-19 itu, karena mendapatkan pelatih yang punya semangat bahwa keberuntungan kecil-kecil di lapangan itu adalah wajib diserahkan kembali pada Yang Maha Memberi keberuntungan itu. Wujud penyerahan kembali itu adalah sujud syukur setiap kali mendapat gol. Indah sekali. Luhur sekali. Semangat itu semoga mengajarkan semua anak asuhannya, memberi keyakinan bahwa segala usaha mereka di bawah pengawasan melekat Tuhan Maha Penyayang. Semoga semangat itu tertancap kuat di tim mereka. Mengalahkan keinginan untuk “menang di atas segalanya”. Mengalahkan euforia setiap kali berhasil mencetak gol. Ini memang harapan yang amat tinggi dari pengamat bola dan masyarakat pecinta bola anak negri. Harapan yang terlalu sempurna tentunya.

Anak-anak belasan tahun itu, entah bagaimana mereka terbentuk dalam keluarga mereka. Semoga kerendah hatian adalah yang terutama diajarkan oleh lingkungan masa kecilnya. Ini semacam doa dari pecinta bola anak negri (karya asli anak negri tanpa pemain import). 

“Jangan tepuk dadamu, adik-adik…supaya kami juga tenang menonton aksimu. Shooting-shooting akurat sepanjang pertandingan, siapa lagi yang memberi itu selain atas ijin Tuhan-mu, adik-adikku…” 

Ego Pemain/Pelatih Bola

Berikutnya pada hari Selasa, 15 Oktober 2013, ada laga Timnas vs China. Hati penonton menjadi redup. Kadang terlintas apa tidak sebaiknya diadakan laga Timnas itu vs U-19, atau katakan U-23 vs U-19.  Agar masing-masing bisa saling belajar? Timnas Senior dan U-23 tentu lebih kaya pengalaman, sedang U-19 adalah tim yang solid kerja sama tim dan sangat melibatkan Tuhan secara intensif di sela-sela pertandingan. Setidaknya dalam action sujud syukur yang dibudayakan pelatih Indra Syafri itu lhohhh efeknya buat pemain sungguh luar biasa. Ia meredam euforia setelah mencetak gol, ia mengalah ego pemain dan mencegahnya menepuk dada secara berlebihan. Saya jadi ingat ego pemain yang tak terbendung. Contoh : Andik Fermansyah. Ia adalah pemain dengan kecepatan lari yang sangat menonjol. Apa boleh buat dalam bermain tim, ia menjadi menonjol sendirian. Untuk satu-dua kali pertandingan, kemampuan Andik memang sangat mencuri perhatian, namun untuk tim menjadi kurang sehat. U-23 memang transisi teknik bermain lama menjadi permainan baru. Karena itu jika kurang sempurna , kami pecinta bola juga maklum. Kualitas tim mencerminkan kualitas menejemennya. U-19 mendapatkan menejemen yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Hasilnya pun sepadan. Pernyataan-pernyataan pelatih yang juga manusia biasa, kadang menyurutkan semangat pecinta bola. Semisal, ketika U-19 merebut gelar piala AFF U-19, Rahmad Darmawan mengatakan :

“Dua tahun lalu permainan tim saya kan seperti itu. Jadi itu bukan hal yang baru. Kalau sekarang kebetulan terlihat dominan karena mereka punya usia yang sama dengan pemain lawan dan mereka memiliki persiapan yang cukup lama dengan hanya sedikit pemain keluar masuk tim,” ujar Rahmad. (RD-23Sep2013

Seperti tidak mau kalah ya…, jika memang benar demikian Pak RD , mari kita antar anak asuhan Anda itu memperoleh gelar dunianya. Bapak RD cukup rendah hati, entertainable pula. Saya masih ingat banyolannya saat bergabung dengan grup OVJ … menghibur sekali. Modal-modal Pak RD tersebut cukup kuat sebagai pelatih sekaliber Pak Indra Syafri. Pak Indra Syafri pula, setelah anak asuhnya memenangkan laga melawan Korsel, muncul juga egonya ;

“Sudah saya bilang …Korsel itu nggak ada apa-apanya,” komentar beliau.“Saya senang sekali, sangat gembira. Sudah saya bilang, Korsel gak ada apa-apanya. Inilah momentum yang tepat untuk bersatu. (Kemenangan) ini harus dicontoh semua timnas, Indonesia pasti bisa lebih bangkit lagi, Indonesia lebih baik.” (IS-12102013

Tunggu dulu , Bapak. Itu karena asuhan Bapak menang. Kalau asuhan Bapak kalah, apa Bapak masih mengucapkan hal itu?  Siapa bilang Korsel nggak ada apa-apanya?  Inilah ego para pelatih.

Kami sayang adik-adik ini. Masuk ke piala dunia adalah tujuan bersama. Semoga cita-cita itu tercapai beserta segenap kerendahan hati para pecinta bola anak negri. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s