Posted in Diary

Poenik

Liburan satu Suro kemarin saya melihat Poenik. Poenik adalah nama dusun. Beberapa hari sebelum jalan ke sana, kami sudah sibuk menyusuri di wikimapia. Mencoba membayangkan seperti apa rute jalan yang akan kita lalui nanti.(http://wikimapia.org/#lang=en&lat=-8.600000&lon=117.250000&z=15&m=b&v=2). Link itu lumayan lucu… (ketawa dulu!) , karena kami menemukan keterangan lokasi yang nggak umum. Misalnya ada sebuah ruang yang kalau ditunjuk dengan pointer akan muncul kalimat :

“Kebun pak BAKRI ( bapakq )”

“Kebun Kopi Ardi Tepal ( Kebunku sejak Okt 2011)

Kami tidak menyangka keterangan peta online bisa jadi klaim-klaim kepemilikan seperti itu.

Syahdan…alkisah , mulailah kami berjalan kaki bareng komunitas pejalankaki, start dari pusat desa Batudulang dan finis di Poenik. Menurut perkiraan, jalan kaki ke dusun Poenik bisa makan waktu sampai 3 jam. Kisah jalan kakinya rasanya datar-datar saja. Tapi ada sepotong jalan yang cukup menantang karena kemiringannya mencapai 60 derajat, …. plus di tengah kemiringan itu ada kelokan memutar hampir 360 derajat. Berjalan kaki melalui rute tersebut tidak menjadi masalah. Tapi justru mengerikan ketika melaluinya dengan naik kendaraan. Meskipun kendaraan sudah memakai empat gardan, tetap saja taruhannya tergelincir ke jurang.

Poenik punya ketinggian 900 – 1000 meter di atas permukaan laut. Sehingga tanaman kopi bisa tumbuh baik di sana. Hutan kemiri banyak juga dijumpai sepanjang jalan. Penduduk Poenik adalah petani kopi dan petani kemiri. Ada warung penjual pulsa di sana. Artinya ada sinyal ponsel terakses di situ. Saat siang , listrik tidak mengalir. Baru malam hari ada listrik masuk ke dusun itu. Barang-barang kebutuhan hidup penduduk sudah pasti harus di angkut dengan kendaraan empat gardan untuk menembus kemiringan depan-belakang 60 derajat tadi. Plus cukup kokoh ditambah dengan kemiringan kanan-kiri 45 derajat. Menukik ke depan dan miring ke samping. Sempurna. Syukurlah sepeda motor masih bisa digunakan untuk mengakses Poenik.

 

 

Poenik
Bunga ungu dalam perjalanan ke Poenik

 

Bunga di kuping itu saya petik di tengah perjalanan menuju Poenik. Terimakasih Poenik, sayang tidak sempat bermalam untuk merasakan dinginnya dan aura dusun lebih lama. Tak banyak yang bisa diungkapkan dengan kunjungan singkat, sekedar duduk, minum minuman botol yang dibeli di warung setempat, lalu pulang. Poenik unik. Pasti kampungmu juga unik , kan? Kan? Kan? Kan? CU…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s