Posted in Diary

Pengguna Jalan

2013-11-24 15.31.27
MENINGGALKAN DESA KLUNGKUNG

Al kisah pada suatu hari, seruas jalan sedang dalam peliputan. Ruas jalan tersebut panjangnya sekitar 8 kilometer (belum dicek ketepatannya, maaf 😀 ). Ruas jalan itu dimulai dari Desa Klungkung  menuju Desa Pamulung, kabupaten Sumbawa. Ruas jalan tersebut hendak kami lalui dengan berjalan kaki. Petualangan yang bisa dicintai karena kebiasaan. Kadang-kadang juga karena sedikit dipaksakan. Hingga akhirnya … suka.  Nama Klungkung mengingatkan nama kota di Bali. Seorang nara sumber mengatakan, dahulu di desa Klungkung ini ada sebuah bangunan batu bata peninggalan kerajaan masa lalu. Namun bangunan itu sudah rata dengan tanah. Apakah desa Klungkung ini bekas ekspansi kerajaan Klungkung dari Bali? #tanyakenapa .

Klungkung-Pemulung 3
LAUT TAMPAK TEPAT DI BAWAH KAKI LANGIT. PEMANDANGAN DARI DESA KLUNGKUNG.

Desa Klungkung adalah tempat menara TVRI pertama di Sumbawa. Kami mulai menyusuri jalan setapak, membelah ladang, menuju tebing landai perbukitan. Selama berjalan kaki  satu jam, kami hanya bertemu petani ladang sedang sibuk di kebun-kebun mereka. Keluar dari desa Klungkung berturut-turut kami menjumpai kebun jambu mente, kebun mangga dan jambu biji.

Klungkung-Pemulung 4
PARA PENGGUNA JALAN

Jika melihat kondisi jalan seperti di atas, apa kira-kira yang kerap melitas di atasnya? Kendaraan roda empat? Saya meragukan jika kendaraan roda empat melalui jalan ini. Karena jalan ini menuju pinggir jurang dan lebar jalan menyempit. Lebih kecil dari lebar kendaraan roda empat umumnya.  Hewan ternak berkaki empat lah yang terbukti melaluinya. Karena ada jejak kotoran hewan berkaki empat di sekitar situ.

Klungkung-Pemulung 5
DI ANTARA BEBATUAN, KEBUN JAMBU MENTE DAN POHON KERING MERANGGAS

Bulan November, hujan di Sumbawa masih satu dua. Nuansa kecoklatan masih dominan di hamparan bukit sekitar Klungkung. Ranting-ranting pohon belum bersemi daunnya. Tapi pohon-pohon yang meranggas tanpa daun itu kelihatan indah, bukan?

Klungkung-Pemulung 6
MENUJU TEPI LEMBAH DI UJUNG PERTIGAAN JALAN

Lihatlah jajaran pohon penuh ranting yang meranggas di kanan jalan itu. Indah sekali. Jauh di hadapan kami ada sebuah puncak bukit lain yang dipisahkan oleh lembah landai.

Klungkung-Pemulung 9
JALAN MENUJU TEPI LEMBAH, PENUH POHON MERANGGAS
Klungkung-Pemulung 13
TEPI LEMBAH LANDAI DENGAN POHON MERANGGAS

Akhirnya kami sampai di tepi lembah. Kanan kiri jalan hanyalah semak. Tidak ada lagi kebun-kebun berpagar seperti tadi. Waktu tempuh hampir mencapai satu jam. Tak berapa lama kemudian kami bertemu bekas-bekas aktivitas penebangan pohon. Potongan batang pohon bergeletakan siap diangkut. Kebun-kebun berpagar mulai kami jumpai lagi. Pagar tersebut  menandakan bahwa kebun itu ada  pemiliknya.

Klungkung-Pemulung 14
AKTIVITAS PENEBANGAN POHON

Logging.  Entahlah, ini legal atau illegal logging. Kami hanya pengguna jalan yang numpang lewat saja.  Sebelah kanan dekat tumpukan kayu itu tampak pagar berduri pembatas kebun. Kawat duri itu sungguh efektif menahan pencuri masuk. Berguna juga untuk mencegah hewan ternak keluar-masuk kebun dengan bebas tanpa seijin pemiliknya.

Klungkung-Pemulung 16
BERTEMU ROMBONGAN PEMOTOR DI JALAN SETAPAK
Klungkung-Pemulung 17
ROMBONGAN PEMOTOR

Hmm… tepi lembah yang sunyi ini tiba-tiba menjadi riuh-rendah dengan kehadiran rombongan pemotor yang juga sedang bertualang  seperti kami. Hahaha…. sama dong minatnya!! Beda alat transportasinya saja … :D.  Jadi inilah jenis kendaraan yang sanggup melalui jalan setapak sempit ini. Rombongan ini menuju Desa Klungkung, desa yang baru kami tinggalkan hampir satu jam yang lalu.

Klungkung-Pemulung 18
PEMIKUL AIR BERSIH

Usai papasan dengan gerombolan pemotor, kami papasan dengan seorang kakek dan seorang perempuan pemikul air . Semula kukira jerigen itu berisi madu, ternyata air bersih. Mereka mengambil air  dari bak penampungan mata air di Desa Uma Buntar. Desa terdekat  yang akan kami tuju. Dua orang pemikul air  ini sedang menuju Desa Klungkung di belakang kami. Sejauh itu kebutuhan air mereka dapatkan, dengan menempuh jalan kaki hampir satu jam. Ketika kakek ini menyadari bahwa dirinya saya ambil gambarnya melalui ponsel, beliau tertawa…. hehehehehe! Senang melihat kakek itu tersenyum.

Klungkung-Pemulung 19
RUMAH PERTAMA YANG KAMI TEMUI DALAM PERJALANAN

Tepat satu jam berjalan, akhirnya rumah penduduk kami jumpai juga. Pohon mangga memenuhi halaman rumah tersebut. Bentuk rumah adalah rumah panggung. Rumah khas di daerah kebun dan daerah pedesaan di Sumbawa. Rumah panggung juga terdapat di berbagai wilayah di Indonesia seperti Lombok, Sulawesi dan sebagainya. Adat Sumbawa banyak dipengaruhi oleh adat Sulawesi di jaman kerajaan masa lalu. Itu sebabnya banyak adat kebiasaan yang serupa. Salah satunya adalah bentuk rumah panggung ini. Kami telah memasuki daerah Desa Uma Buntar. Kebun dalam bahasa Sumbawa adalah “uma” .  

Klungkung-Pemulung 20
PEMBAKARAN LAHAN DI LERENG LEMBAH DESA UMA BUNTAR

Setelah rumah pertama, tak ada lagi rumah penduduk berikutnya. Kami hanya bertemu uma-uma (kebun-kebun) berhektar-hektar. Kebun mangga, dan kebun jambu biji. Lereng-lereng lembah juga penuh dengan tanaman ladang. Pembakaran ladang di lereng lembah nampak pada gambar di atas. Pembakaran ladang adalah hal yang selalu terjadi di banyak tempat, terutama menjelang musim hujan seperti bulan November ini. Peladang membakar semak kering untuk menyiapkan ladang mereka. Seperti inilah pemandangan seusai pembakaran lahan di lereng lembah.

Klungkung-Pemulung 21
PEMBAKARAN LAHAN DI LERENG LEMBAH

Batang-batang kayu hangus tampak bergeletakan. Tepat di lokasi ini pula, kami menjumpai tempat bak penampungan mata air  yang berupa bangunan permanen. Inilah penampungan air pertama yang kami temui di Desa Uma Buntar. Mata airnya berasal dari Desa Klungkung. Keterangan itu saya dapat dari penduduk yang sedang beraktivitas di penampungan air tersebut. Dekat penampungan ini mulai nampak beberapa rumah lagi. Setelah itu , kembali kami temui kebun-kebun berpagar. Buah kuning jambu biji di kebun tersebut begitu menyita perhatian saya. Inilah pohon jambu yang kami temui di tengah kebun berpagar kawat duri.

POHON JAMBU BIJI DI KEBUN DESA UMA BUNTAR
POHON JAMBU BIJI DI KEBUN DESA UMA BUNTAR

Pohon jambu biji di perkebunan di Desa Uma Buntar ini sedang musim berbuah. Lebat dan berwarna kuning , menggoda pejalan kaki yang sedang kehausan dan kelaparan. Nyaris saja saya  mencurinya, hingga teman saya mengingatkan. Panas terik matahari ini rupanya sudah mencairkan kewarasan saya :D. Beberapa pohon liar di luar pagar juga berbuah lebat. Sayang berada jauh dari jangkauan tangan. Akhirnya teman kami berusaha mencari pemiliknya untuk minta beberapa buah saja. Syukurlah seorang ibu yang sedang menunggu kebun itu sangat baik hati. Beliau memberi kami buah jambu dalam jumlah yang lebih dari yang kami harapkan. Kata si ibu itu ,

“Nggak apa-apa, ambil saja. Ini buahnya banyak sekali sampai dimakan burung. Dari pada dimakan burung, ambil saja,”

“Terimakasih , Buu…. … semoga banyak rejeki ya , Bu! Ha ha ha ha !”

Sedikit terobati dahaga kami. Maklumlah kami juga membawa anak kecil dalam perjalanan ini. Stok air minum yang kami bawa juga menipis. Selesai melihat deretan kebun, sampailah kami di SD/SMP Desa Uma Buntar.

SDSMP YANG BARU DI UPGRADE
SDSMP YANG BARU DI UPGRADE

Bangunan SD/SMP ini sudah mencerminkan kemakmuran desanya. Kelihatan sejahtera bangunan ini karena selesai di perbaiki dan menyesuaikan dengan model bangunan terkini versi sederhana.  Perjalanan selanjutnya masih satu jam lagi. Kami melewati kampung-kampung yang dipenuhi pohon mangga. Ternak berkaki empat bertebaran di sana-sini. Inilah pusat Desa Uma Buntar.

Nyaris menjelang dua jam jalan kaki, akhirnya sampailah pada kondisi jalan beraspal halus. Sebuah hiburan yang menambah tenaga berjalan kaki sebelum ambruk. Bunga lantana di kanan-kiri jalan adalah bonus yang lain lagi dalam perjalanan menjelang finis. Bunga lantana biasa kita temui hampir di banyak wilayah Indonesia. Tanaman ini tahan kering dan panas. Kami hampir mencapai finis di Desa Pamulung. Namun beberapa peserta jalan kaki rupanya telah lama sampai di finis. Mereka tidak sabar menunggu kami tiba. Kelambanan kami pastilah karena sibuk dengan urusan jambu biji di kebun orang tadi. Para pendahulu itu mengirimkan sebuah kendaraan menjemput kami. Kami pun harus naik agar cepat bergabung dengan peserta lain yang telah lama menunggu di garis finis. Baiklah, … dan berakhir pulalah kisah ini.

SERUMPUN BUNGA LANTANA DI AKHIIR PERJALANAN
SERUMPUN BUNGA LANTANA DI AKHIIR PERJALANAN

—The End—

Advertisements

One thought on “Pengguna Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s