Posted in Mikropreneur, Opini

WHO CARE?

Who care? (Siapa yang peduli?)

Who care?
Who care?

Pagi menjelang siang, 6 Januari  seperti biasa saya membuka internet mengunjungi alamat-alamat tertentu yang saya butuhkan. Mengunjungi facebook masih saya lakukan sejak 2008, yaitu sejak mengenal social media tersebut dalam hidup saya. Kejenuhan dan rasa muak tentu kerap hadir. Seperti banyak orang juga merasakannya. Terbukti banyak link berita maupun blog pribadi yang menuliskannya. Mereka banyak menuliskan misalnya : siapa yang peduli keluhan Anda di fesbuk? Siapa yang peduli apakah Anda menikah atau baru bertunangan , atau baru lulus studi. Cuman…anehnya… tulisan tersebut diposting di facebook  juga. Logikanya, kalau nggak suka facebook ya nggak usah membukanya, titik. Agak aneh juga kalau nggak suka facebook tapi masih masuk ke dalamnya untuk berkoar-koar mengumumkan jeleknya facebook. Kalau merasa terganggu dan merasa sudah tidak ada manfaatnya lagi, lebih baik tinggalkan saja 100%, selesai. Kalau  mengulik-ulik, meneropong sisi buruknya, menguliti sampai bersih ya silakan, dan lakukanlah tanpa masuk ke dalam facebook.  Quit is quit, 100% quit, without touching the object where you have been out. Berhenti ya berhenti, 100% berhenti, tanpa menyentuh objek tempatmu telah keluar/berhenti.

Sekali Lagi : Dunia Nyata versus Dunia Maya

Masih sering diperdebatkan antara dunia nyata dan dunia maya. Tentu saja ada bedanya. Meski tipis, dan kadang-kadang malah tak ada bedanya. Kok bisa? Misalnya begini : ada orang yang keukeuh memprotes orang lain dengan ungkapan begini,

“Hei, duniamu itu bukan dunia maya”

Latar belakangnya adalah karena orang yang diprotesnya itu sering terlihat sibuk dengan gadget (ponsel, laptop, notebook, dll). Padahal orang yang dituduh itu telah mengerjakan tugas-tugas dunianya. Hanya kebetulan pas dilihat saja ia sedang sibuk dengan gatget. Karena mereka berdua bertemu hanya pada saat jam istirahat, dimana si tertuduh beristirahat dengan cara bermain gadget, dan yang menuduh merasa tidak diperhatikan. Tentu saja orang yang dituduh tidak merasa hidup di dunia maya, karena ia telah mengerjakan tugas-tugas dunianya. Jika pun yang menuduh merasa tidak diperhatikan … lha mbok yao bilang, “Letakkan sebentar gadget-mu dan pandanglah diriku !” Nah lebih jelas seperti itu , bukan? Lebih menghibur, lebih enak dan tidak menyudutkan secara membabi buta. Gimana, mas bro dan mbak bro?

Kasus lain : misalnya si Kamid, ia pekerja writepreneur (bekerja di dunia kepenulisan). Setiap jam kerja ia sibuk membuka internet. Kadang kala bisa 10 jam per-hari ia bergelut dengan internet. Apakah kita mau mengatakan dunianya dunia maya? Sebenarnya kan ia sedang berada di dunia maya untuk memenuhi tugasnya di dunia nyata. Jadi untuk si Kamid itu boleh dibilang dunia mayanya adalah dunia nyata. Ia pasti berinteraksi dengan keluarganya melalui gadget-nya itu, atau bertatap muka langsung. Ia pasti juga berinteraksi dengan rekan kerja di sela-sela berselancar di internet. Pun ia pasti juga makan, minum, belanja keperluan pribadi, membersihkan diri,  yang hal-hal tersebut pasti dilakukan dengan bertemu langsung dengan orang lain.

Ada lagi persamaan yang jarang disadari oleh kita. Yaitu tentang pasang-surut suasana hati. Interaksi di dunia maya dan di dunia nyata, keduanya sama-sama mengalami pasang-surut suasana hati. Marah, sedih, jenuh, muak, senang, merasa termotivasi, merasa diabaikan, merasa dilecehkan, bangga, dan aneka rupa suasana hati lainnya. Mana yang lebih penting? Mengendalikan suasana hati atau memikirkan saya sedang di dunia maya/nyata?

Ketika Alarm Berbunyi

warning

Ketika alarm berbunyi, tandanya kita harus bangun. Saat kita mengerjakan segala sesuatu , apapun itu, yang penting kita sadar kapan harus bangun, bergerak, dan mengingat Sang Pencipta. Alarm itu misalnya, rasa lelah, suara panggilan ibadah, panggilan orang di dekat kita, atau perut yang keroncongan. Berhentilah sejenak dengan gadget atau kerjaan kita. Jika kita tidak berhenti, akan ada alarm kedua yang sering kali lebih menyakitkan hati atau fisik kita. Percayalah! Karena saya kerap mengalaminya. Hmm jadi terlintas dipikiran, jika kita hendak menggunakan gadget disaat ada orang dekat atau teman di sekitar kita, supaya aman mungkin nggak salah kita izin ,”Saya mau sibuk sama gadget, keberatan nggak?’ Mungkin dengan ungkapan senada itu kita bisa membuat berkah selama menggunakan gadget baik untuk sendiri maupun orang lain. Hmm….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s