Posted in Diary, Mikropreneur

Ayo Ke Merente

Sungai di Desa Merente - ALAS - SUMBAWA
Sungai di Desa Merente – ALAS – SUMBAWA

Lagi-Lagi Komunitas Hash

Makin lama bergaul, bergumul, berinteraksi, lama-lama makin hafal, makin mengerti dan kadang-kadang juga makin nggak habis pikir. Pergi ke mana-mana ini adalah akibat bergaul dengan komunitas hash. Apa itu hash? Hash adalah komunitas pejalan kaki. Mengambil rute perjalanan yang dipilih oleh komunitas tersebut. Biasanya rutenya di alam yang cukup menantang, rute-rute liar yang jarang terjamah manusia, kebanyakan di tempat-tempat terpencil, pelosok. Tempat tujuan semacam itu juga digemari komunitas sepeda gunung, komunitas motor trail, dan mobil-mabil offroad.  Indah adalah indah, suka adalah suka. Kalau kita sudah bilang “indah” tidak peduli orang lain mau bilang apa. Kalau kita sudah bilang “suka” ya nggak peduli juga orang lain bilang apa.  Padahal apa yang kita “suka”  hari ini bisa jadi “biasa” di kemudian hari ya!

# ~~Sejarah Hash House Harriers
Hash House Harriers merupakan olahraga yang dilaksanakan di luar ruang atau alam bebas (outdoor activity) yang sangat mirip dengan olahraga lari lintas alam. Kegiatan hashing sebenarnya sudah dimulai sejak 246 SM. yang dilakukan oleh Hanibal berlari dengan start atau on on dari pintu gerbang Roma, dengan rute sepanjang Pegunungan Alpen dengan menandai perjalanannya dengan kotoran gajah (Jumhan Pida : 2001). Tetapi hashing secara modern dilaksanakan pada
bulan Desember 1938 di Kuala Lumpur Malaysia oleh Albert Stephen Ignatius Gispert yang seoarang Akutan di Evant & Co. berkebangsaan Inggris yang berada di Malaysia. Hash House Harriers berawal dari klub yang didirikan oleh Horse Thomson, Cecil Lee, Bennet, dan Albert Stephen Ignatius Gispert yang berada di Kuala Lumpur. Klub ini pertama hanya beranggotakan 12 orang, kemudian dengan keaktifan Albert Stephen Ignatius Gispert di dalamnya dengan berjalannya kegiatan ini anggotanya mulai bertambah. Mereka melakukan run (lari) pertama pada hari Jum‘at yang kemudian diubah pada setiap hari Senin. Dari kegiatan ini maka Registra of Societies mengesahkan Albert Stephen Ignatius Gispert sebagai orang pertama yang mengawali “ The Hash House Harriers”. Pada mulanya kegiatan lari ini hanya mengitari padang. Pada akhir padang terdapat rumah makan Cina yang mereka kenal dengan nama Hash House. Selanjutnya rumah makan tersebut mereka gunakan sebagai tempat finish dari kegiatan lari tersebut selain itu mereka juga minum bir dingin. Pada tanggal 11 Februari 1942 Albert Stephen Ignatius Gispert terbunuh dalam perang Asia Timur Raya di Pulau Singapura. Kegiatan lari (hashing) ini menjadi terhenti dan baru tahun 1946 salah satu anggota Hash House Harriers yang ada di Selangor berhasil mengkoordinir kembali kegiatan lari ini. Bennet selama 12 bulan berusaha mengumpulkan kembali teman-temannya yang selamat dalam perang Asia Timur Raya untuk dapat melakukan hashing kembali. Dan pada bulan Agustus 1946 itulah dapat dilaksanakan run (lari) yang pertama setelah Albert Stephen Ignatius Gispert mangkat. Dari sanalah berkembang kegiatan lari lintas alam yang terkenal dengan istilah Hash House Harriers ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia dan Yogyakarta pada khususnya.(Jumhan Pida, 2001). (Sumber HHH)

Sungai di Merente
Sungai di Merente
Para HASHER
Para HASHER
Para HASHER yang mencari jalan untuk menyeberang sungai
Para HASHER yang mencari jalan untuk menyeberang sungai
Hasher yang sedang istirahat  dan tak lupa "ngGadget"
Hasher yang sedang istirahat dan tak lupa “ngGadget”
Special HASHER
Special HASHER

Hasher

Hasher adalah sebutan untuk peserta Hash. Hash memang berasal dari bahasa Inggris artinya makanan daging yang dicincang halus. Dilihat dari sejarah di atas, restoran Cina yang menjadi asal-muasal nama komunitas ini barangkali memang menjual makanan daging (Hash House). Hasher bukan berarti pemakan makanan daging tersebut , tapi peserta komunitas Hash House Harriers. Kalau di kota Sumbawa Besar cukup familiar disebut komunitas Hash saja. Keuletan mereka memang sangat jelas terlihat dari gerak fisik saat di lapangan. Meskipun beberapa dari mereka kesulitan menyeberang sungai setinggi pinggang, dengan arus yang lumayan deras, mereka ‘ogah’ dibantu sembari mengatakan :

“Jangan..jangan… biarkan mandiri….”

Mereka tidak mau dikatakan lemah, tidak mau dibantu membawakan barang bawaan mereka, dan ingin menyeberang dengan usaha mereka sendiri. Hehehe…. baiklah para bapak-ibu Hasher yang tangguh… kami agaknya harus menjaga dari jauh saja. Sambil was-was…karena usia mereka sudah tidak muda lagi…  Ketika mereka semua telah sampai ke seberang, legalah kami semua. Inilah isi liburan kami bareng komunitas Hash yang ulet, rada keras kepala tapi senyumnya nggak ilang-ilang dari wajah mereka…. whatever..

Saat menyeberang sungai
Saat menyeberang sungai

Hmmm…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s