Posted in Diary

Rombeng

Pulkan memakai baju rombeng putih.
Pulkam memakai baju rombeng putih.

Saya pernah memiliki blog berbayar. Tapi kemudian tidak saya perpanjang, karena saya tidak tahu cara membuat blog tersebut mendapatkan uang untuk mengganti pengeluaran uang yang sudah saya gunakan untuk membayar blog hosting.  Posting kali ini berjudul “Rombeng” , saya ambil dari blog berbayar saya tadi yang sekarang sudah tidak bisa diakses lagi.

Rombeng menjadi penting di Sumbawa Besar  dan di pulau Sumbawa. Saya diajarkan berbelanja di tempat rombeng oleh mantan boss saya. Kompleks rombeng paling ternama seantero Sumbawa adalah di daerah Buer.

Kec BUER ---- 3/4 jam dari Sumbawa Besar ke arah Timur.
Kec BUER —- 3/4 jam dari Sumbawa Besar ke arah Timur.

Namanya rombeng, …. yahhh barang bekas isinya bro,sis… faham ya! Bagaimana ceritanya sampai bisa akrab dengan rombeng? Saya tidak punya banyak teman karena sifat introvert yang ketat memeluk saya. Tetangga-tetangga saya bekerja di pemerintahan semua. Suami bertahun-tahun dinas jauh di kota lain, bertemu seminggu sekali. Sanak keluarga tak punya karena saya adalah perantauan dari daratan Jawa. Hanya seorang anak laki usia SD saja yang sehari-hari menemani saya. Sehingga untuk mendapatkan kesibukan dan teman, saya pun mencari tempat kerja sana-sini dan akhirnya terdampar di tempat les sempoa anak-anak di kota Sumbawa Besar. Pengelolanya bernama Evi, seorang lajang yang gaul abis. Cocok jadi teman saya yang introvert. Rumah les tempat saya bekerja itu sekaligus menjadi tempat kos Mbak Evi. Mbak nan gaul itulah yang mengajarkan berbelanja di rombeng.  Lokasi tempat les sempoa itu di kelurahan Seketeng, dekat sekali dengan pasar tradisional Seketeng. Sumbawa Besar memiliki setidaknya empat pasar tradisional. Masing-masing pasar itu rata-rata ada stan rombengnya. Maka saat istirahat kerja siang, terbanglah kami ke tempat rombeng. Selain di dalam pasar, agen-agen rombeng juga berjualan barang rombeng di rumah mereka. Mbak Evi banyak mengenal agen-agen rombeng, dan sudah wara-wiri ke rumah mereka. Otomatis saya pun ikut serta dengan takzim ajakan teman saya satu-satunya itu. Diajak ke rombeng pasar Seketeng saya ikut, diajak ke rumah agen rombeng di Kerato saya pun turut. Maklumlah teman satu-satunya yang mampu mengisi hari-hari saya pada masa itu.

Yang saya ingat, pada suatu hari seorang agen rombeng datang ke rumah les kami saat jam istirahat siang, membawa kantong. Isi kantong itu dikeluarkan di lantai begitu saja. Pakaian rombeng pun berhamburan di lantai dengan bebasnya. Mbak Evi langsung mengaduk-aduk tumpukan baju-baju itu, memilah dan memilih. Saya pun ikut memilah dan memilihnya pula. Saya belum melihat sebelah mana daya tarik baju-baju rombeng itu? Saya hanya turut partisipasi duduk di lantai dan memandangi tumpukan rombeng sang agen diiringi celotehan Mbak Evi yang cerewet. Tidak satu pun barang saya beli sampai suatu ketika saya ditawari sebuah blazer abu-abu dengan jahitan super rapi dan bahan kain yang bagus sekali. Saya pun tertarik seketika. Rupa fisik blazernya jangan ditanya ya….kusut! Karena cara agen rombeng menyimpan baju rombeng dalam karung adalah yang penting isi karung itu mampat dan padat. Jadi baju-baju dimasukkan dalam karung tanpa dilipat. Ketika akan menjual, mereka tinggal menuangnya di lantai, mirip pedagang beras menuang beras di kotak dagangan. Bisa membayangkan cerita saya kan? Saya lupa harganya ,kalau tidak salah berkisar dua puluh lima sampai tiga puluh ribu rupiah dan masih bisa ditawar pula.  Duhhh sedddaappp sekali. Itulah transaksi barang rombeng yang paling berkesan selama hidup saya.

Blazer yang menarik perhatian saya itu.....
Blazer yang menarik perhatian saya itu…..

Sekarang mari saya ajak para pembaca ke Kecamatan Buer. Pusat perdagangan rombeng di Buer itu kini berjajar beberapa ruko baru berisi aneka benda kebutuhan rumah tangga. Yaitu : pakaian, alat dapur pecah belah, mainan anak, sepeda, kereta dorong bayi, karpet, dan masih banyak lagi. Aneka benda itu didatangkan dari Batam dan Singapura. Sebagian berupa benda produksi pabrik yang tidak dijual. Jadi masih berupa barang baru, bukan bekas pakai, tapi tidak lolos uji kualitas penjualan. Omset penjualan pedagang rombeng besar? Wah… beberapa dari mereka termasuk nasabah unggulan, punya banyak karyawan dan punya kapal barang sendiri untuk mengambil stok barang ke Batam. Untuk ukuran Pulau Sumbawa, agen-agen rombeng ini pelaku ekonomi yang berjasa bagi masyarakat Sumbawa kebanyakan. Mengapa rombeng tumbuh subur di Sumbawa? Karena pengadaan pakaian jadi dan baru dari Jawa membuat harganya berlipat dua dan tiga ketika sampai di Sumbawa. Pakaian-pakaian itu menjadi relatif mahal. Tapi karena masyarakat Sumbawa adalah penggemar pakaian, maka harga mahal itu pun bisa terbeli. Tentu kemampuan membeli barang baru itu hanya dimiliki oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke atas.  Apakah sudut rombeng hanya dikunjungi masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah? Jawabannya : TIDAK juga……. Keluarga pegawai negri, keluarga pengusaha Cina kaya dan golongan masyarakat menengah ke atas lainnya juga datang dengan penuh antusias ke stan-stan rombeng di seantero Sumbawa. Mereka mengoleksi pakaian-pakaian rombeng bermerek yang kondisi fisiknya masih bagus. Ayayayayayaaaa…… eksotis lah pokoknya….. maklumlah  , saya merasakannya sendiri melankoli dan eksotika rombeng.

Sudut rombeng Pasar Brang Biji Sumbawa.
Sudut rombeng Pasar Brang Biji Sumbawa.
Sudut rombeng di Pasar Brang Biji.
Sudut rombeng di Pasar Brang Biji.

Oh…rombeng…..

Advertisements

2 thoughts on “Rombeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s