Posted in Diary

Nasi Gunung Versus Nasi Hotel

Coba kita tanya pada football lover , apa sih serunya nonton bola tanpa versus? Bayangkan sebelas pemain bola oper-operan  ke gawang di hadapan mereka tanpa penghalang … lucu kan? Makanya harus diberi versus supaya ada gregetnya. Selain greget juga ada maknanya, ada seni permainan yang bisa dinikmati, ada teknik-teknik permainan yang baru yang kadang-kadang muncul di momen tak terduga, belum lagi ada aneka kecurangan seperti menggigit telinga lawan, yang bisa jadi pelajaran siapa saja,… dan sebagainya.

Nasi gunung diagung-agungkan oleh siapa saja yang terpesona oleh ‘ketampanan’ rasanya. Meski tersaji dalam piring hadiah deterjen cuci pakaian, sendok tipis yang tidak ditemani garpu, tanpa kode etik penyantapan, tempat menyantap yang semau gue dan kaki nangkring tak ada sopan-sopannya.

Versus
                                                                          Versus

Tapi jangan salah, nasi hotel juga diagung-agungkan oleh siapa saja , yang juga terpesona oleh ‘ketampanan’ rasanya. Meski tersaji dalam piring kualitas wahid, sepasang sendok-garpu yang lengkap dari kelas wahid juga, diiringi beberapa jus dan teh hangat harum, disantap dengan kode etik tertentu, tempat menyantap yang sungguh elok rupawan, di atap hotel dengan genting fiber mirip  konstruksi rumah kaca tanaman, dan kalau tidak malu ya boleh juga kok nekad dengan kaki nangkring yang tak ada sopan-sopannya itu.

Persoalan sayur sekarang. Nasi gunung umumnya dilengkapi dengan tumis sayur lokal yang tersedia di pasar tradisional dan dibeli dengan cara menawar harga. Rasanya pedas, beraroma terasi. Fariasi sayur biasanya kangkung, kacang panjang, toge, dan bayam. Sedangkan nasi hotel dilengkapi dengan sayur tumis bawang yang dibeli dari swalayan di area open frezer. Berbungkus plastik dengan tempelan label harga, tidak boleh ditawar. Rasa manis beraroma lembut. Fariasi sayur yang digunakan biasanya bunga kol putih, brokoli, wortel dan biji kacang polong (bulat, hijau dan kecil itu).

Bab penggemar dan pemuja? Soal ini lebih unik lagi. Penggila nasi gunung justru orang yang biasa makan menu Eropa, menu barat atau menu cepat saji. Mereka dari kota, dan orang-orang Indonesia yang Indonesia banget. sekaligus orang-orang kebanyakan . Penggila nasi hotel adalah orang Indonesia yang nggak Indonesia banget, orang ekspatriat, orang awam yang jarang ke hotel, sekaligus bukan orang kebanyakan.

Kelezatan adalah soal selera. Kalau disuruh memilih, dua jenis nasi itu di hadapan saya, tentu saya pilih nasi hotel. Karena jarang ketemu jenis seperti itu, alias tidak setiap hari bisa dijumpai. Soal selera bukanlah soal yang bisa diperdebatkan, (seharusnya) juga sama dengan soal selera memilih presiden tempo hari itu. Jadi nyerempet ke pilpres sih? Selera tidak cocok dijadikan bahan perdebatan, melainkan hanya cocok dijadikan bahan info kuliner, info dagang dan info lainnya yang jauh dari urusan saling menjatuhkan. Memilih selera menu itu hak prerogative pemilih yang tidak boleh dikritik (kalau betah tidak ngritik sih…..).

Terakhir adalah soal cinta. Menu nasi gunung versus nasi hotel, manakah yang dibuat dengan rasa cinta lebih banyak? Nasi gunung? Nasi hotel? Perlukan rasa cinta dalam memasak diversuskan antara dua menu nasi di atas? Perlu nggak sih? Tergantung sikon yah? Koki hotel yang mengabdi pada keluarganya dengan penuh cinta pasti akan memasak menu nasi hotel atas dasar cinta yang besar pada keluarganya itu. Nasi gunung bagaimana? Ya sama saja. Mana yang lebih besar? Yang lebih besar adalah yang memberi kepuasan kelezatan dan kegembiraan yang tinggi pada penyantapnya. Menurut Anda???

~~~~~~~~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s