Posted in Diary

B O A N

B O A N
B O A N

BOAN adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat Sumbawa untuk sebuah pohon yang banyak terdapat sarang lebahnya. Boan tidak satu jenis pohon saja, melainkan banyak. Lebah memilih pohon di tempat yang jauh dari gangguan aktivitas sosial manusia. 

Hari Minggu 7 September 2014 lalu, setelah mengunjungi Moyo Hilir , saya menemani suami ke Lunyuk . Sama seperti Moyo Hilir , Lunyuk juga merupakan sebuah kecamatan di wilayah Kabupaten Sumbawa. Letaknya di pesisir Selatan Pulau Sumbawa. Kami tempuh dari kota Sumbawa Besar melalui satu-satunya jalan raya lintas Sumbawa Besar  – Lunyuk. Kelokannya sangat membuat mual dan pusing bagi yang belum terbiasa. Sungai di Lunyuk relatif lebar. Saat menempuh perbukitan , sungai itu menjadi pemandangan spektakuler. Ia berkelok di dasar jurang dengan warna air yang hijau gelap dan tanah bantaran sungai yang cokelat muda membuatnya terlihat indah dilihat dari jalan di atas bukit. Jalan raya di perbukitan itu saat ini masih dilebarkan dengan cara mengikis tebing bukit menggunakan alat berat. Masyarakat Lunyuk telah tumbuh sejak jaman penjajahan. Di sana terdapat peninggalan jaman Jepang berupa lapangan udara yang sudah tidak difungsikan lagi sejak lama. Lunyuk pernah mendapat musibah tsunami raksasa dengan ketinggian 5-8 meter tahun 1977. Kini masyarakatnya hidup tenang dengan pekerjaan utama di bidang pertanian/kehutanan, peternakan dan pemerintahan daerah. 

Boan sendirian di antara jalan raya dan sungai besar di Lunyuk
Boan sendirian di antara jalan raya dan sungai besar di Lunyuk

Beberapa ratus meter menjelang masuk daerah pusat pemukiman, terdapat sebuah boan yang hidup sendiri di tepi jalan raya utama (jalan raya lintas Sumbawa Besar – Lunyuk) . Kami sengaja berhenti di bawah boan yang tinggi dan sendirian itu. Kurang lebih lima belas menit kami mengambil gambar dari berbagai sisi. Pohon dengan struktur lurus hampir mulus permukaannya itu telah dipasang pasak bambu untuk pijakan pemanjat. Cabang terendah berada puluhan meter dari tanah. 

Pasak pijakan di pohon sarang lebah (BOAN) di Lunyuk
Pasak pijakan di pohon sarang lebah (BOAN) di Lunyuk

Bulatan-bulatan hitam di cabang pohon tersebut adalah sarang lebah madu. Tersisa kurang lebih sepuluh sarang. Selama berhenti di sana hanya kami jumpai tiga kendaraan melintasi jalan pada pukul satu siang hari itu. Dugaan saya , itu sebabnya lebah masih membangun sarang di pohon tepi jalan itu karena lingkungan masih asli , jauh dari kesibukan populasi manusia.  

Penuh sarang lebah ~~ Boan di Lunyuk
Penuh sarang lebah ~~ Boan di Lunyuk

Tiba-tiba terdengan suara lagu dangdut dari kejauhan, makin lama makin memekakkan telinga. Apa gerangan? Ternyata sebuah sepeda motor pedagang cilok. Si pedagang tertawa sumringah pada kami. Celetuk teman kami , ” Walaupun tidak laku ciloknya, sepertinya orang itu sudah terbahagiakan dengan lagu dangdutnya yang menggelegar. Gelegarnya seperti ingin mengajak penghuni hutan sepanjang perjalanannya untuk ikut merasakan gelora semangatnya. Sungguh, hanya hutan, jurang dan tebing yang harus ditemui sebelum bertemu desa terdekat. Begitu dangdut cilok berlalu, kembalilah alam siang itu sunyi …. normal kembali. Itulah pengalaman pertama kali saya ke Lunyuk. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s