Posted in Diary

Tambora Menyapa Dunia

Lapisan di tebing kawah Tambora
Lapisan di tebing kawah Tambora

Spanduk bertulis “Tambora Menyapa Dunia” telah tertancap di Desa Tambora. Berita perayaan itu telah lama didengar masyarakat Sumbawa. Kami sekelompok hobi pejalan kaki telah lama berencana ke sana. Syukurlah di antara kami ada seorang pencetus dan pendorong yang mempercepat terlaksananya rencana lama tersebut. Pak Handoyo lah sang pencetusnya. Beliau pengusaha yang sudah sangat senior di bidang pertanian/peternakan. Menjual pupuk, bibit, alat tani/ternak, dan perlengkapan petani lainnya seperti terpal dan  juga karung. Jaringannya banyak dan luas di Pulau Sumbawa. Urusan jalan beliau banyak sekali mencetus ide tempat tujuan. Kadang tempat tujuannya adalah daerah klien bisnis beliau di berbagai pelosok sekitar Pulau Sumbawa. Seperti pada suatu ketika mengajak komunitas pejalan kaki ke Kecamatan Labangka, tempat salah satu cabang tokonya. Labangka adalah sentra ladang jagung Sumbawa. Tracking menyusuri ladang jagung cukup unik saat pohon jagung tingginya melebihi tinggi manusia. Mudah sekali kehilangan arah untuk kembali ke garis start karena terhalangnya jarak pandang. Pak Handoyo bukanlah seorang pejalan kaki ulung. Tubuh beliau sangat gemuk, gerakan tak lincah lagi, tapi setiap track yang beliau usulkan selalu ditempuh semampunya, meski hanya separoh track. Bahkan kadang harus dibantu dengan menumpang kendaraan, seperti saat menempuh track 9 km menuju desa Poenik. Kesetiaan beliau pada banyak kegiatan jalan kaki membuat dinamika komunitas menghangat. Selain setia, beliau senang membawa konsumsi di setiap kegiatan. Tak mengherankan lagi jika beliau menjadi salah satu leader di komunitas. Ketika Pak Handoyo mencetuskan ide kegiatan mendaki ke Gunung Tambora, temannya mencibir. “Gimana caranya Handoyo itu mau naik Tambora?! Lahhh  Semongkat-Sampar (6 km) saja tidak pernah selesai! Mau cari mati dia itu!” Maksudnya adalah track Semongkat-Sampar yang pendek pun tidak pernah diselesaikan utuh sama Pak Handoyo. Baru setengah track sudah kembali ke garis start. Padahal rute itu dilatih seminggu sekali. Jadi menurutnya mustahil Pak Han mencapai puncak Tambora. Tapi meski demikian  tak sedikit yang mendukung ide tracking Gunung Tambora. Hingga akhirnya dimulailah rapat-rapat perencanaan pendakian. Pendakian Tambora adalah rute alam liar tanpa fasilitas umum yang memadai. Hanya petualang murni yang akan menikmati perjalanan pendakian tersebut.

[1] Kerusuhan Kempo

Sebuah minibus disiapkan oleh Pak Hengky. Beliau pengusaha senior juga. Usahanya di bidang jasa angkutan. Namun beliau memutuskan tidak ikut dalam tracking Gunung Tambora. Kesetiaan beliau pada komunitas mendorongnya memilihkan minibus terbaik untuk tracking ke Tambora. Kami berangkat hari Rabu, 28 Mei 2014, malam hari pukul sepuluh. Sebanyak sembilan orang peserta berbaur dalam minibus, berbagi cerita tentang kesiapan masing-masing. Tidak ada yang mengetahui persis seperti apa rupa tracking kami. Hanya pengetahuan dari internet dan pemandu saja yang jadi acuan. Tujuan  kami adalah Dusun Pancasila. Letaknya di kaki Gunung Tambora. Keluar dari kota Sumbawa Besar, kendaraan melaju ke arah Timur melintasi desa demi desa. Minibus kami terhenti di Desa Kempo sekitar pukul 02.00 WITA. Ada sebuah pohon besar  melintang di jalan. Pohon itu terlalu berat untuk dipindahkan.  Kami juga tidak mungkin turun untuk berusaha menggeser pohon. Masyarakat sekitar tidak menghendakinya. Masyarakat sengaja meletakkan pohon itu dengan posisi sedemikian rupa. Mereka sedang merencakan demo. Kendaraan kami pun terpaksa berhenti. Tiba-tiba seorang pria mendekati kendaraan kami. Ia menjelaskan kerusuhan yang sedang terjadi di desanya. Rupanya beliau adalah mantan kepala Desa Kempo, Pak Rais namanya. Menurutnya, kendaraan kami tidak mungkin menembus barikade pohon sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Selain karena pohon tersebut berat, warga juga melarang siapapun melintas. Sebilah parang di pinggang mereka selalu setia menemani penjagaan barikade. Siapa pun yang memaksa menembus penghalang, parang mereka akan ‘bicara’.   Perjalanan kami masih membutuhkan 3 jam untuk sampai ke Dusun Pancasila. Dusun Pancasila adalah titik awal pendakian, tempat kendaraan kami harus parkir. Kami berembuk sebentar, membuat perencanaan ulang. Akhirnya diputuskan untuk mencari penginapan.  Menunggu pagi sembari berharap warga Kempo telah membuka barikade.  Kami berbalik arah ke ibu kota kecamatan –Kecamatan Manggalewa— dan menemukan penginapan di depan Puskesmas Desa Soriutu.

Posisi kerusuhan Kempo
Posisi kerusuhan Kempo

Subuh kami bangun dan mulai mencari informasi. Teman kami telah mempunyai kontak nomor telpon Pak Rais. Mantan Kepala Desa Kempo yang menghampiri minibus kami tadi malam. Rupanya sampai pagi, ketegangan warga belum reda. Warga mempunyai tuntutan pembagian lahan untuk ternak kerbau di padang sabana lembah Gunung Tambora. Lahan sabana itu hendak digunakan untuk sebuah lahan industri, sehingga lahan ternak berkurang. Sementara jumlah kerbau yang telah merumput secara turun-temurun sejak jaman dahulu telah mencapai angka ribuan ekor. Sehingga membutuhkan lahan yang luas. Kemarahan warga memuncak karena kenyamanan mereka menikmati ketersediaan lahan ternak secara turun-temurun telah terusik. Pohon masih melintang dan belum ada kata damai terhadap tuntutan warga. Ekspedisi pendakian kami tak mungkin dibatalkan. Melalui Pak Rais, kami meminta tolong untuk mengawal  melintasi barikade dengan berjalan kaki. Pak Rais bersedia membantu. Kami berangkat dengan minibus dari penginapan ke tempat barikade, berjumpa dengan Pak Rais di sana. Pak Rais mengawal kami berjalan, sementara warga masih siaga dengan parang masih tersemat di pinggang mereka. Pandangan mereka penuh kecurigaan. Kami was-was juga. Tak kami lewatkan kesempatan itu untuk menyapa warga Kempo dan mohon permisi numpang lewat. Warga hanya diam memandangi kami. Syukurlah Pak Rais mampu meyakinkan warga menggunakan bahasa Dompu, bahasa mereka. Sambil tetap menyapa warga, kami terus berjalan. Tak kami sangka ternyata ada tiga pohon besar melintang di sepanjang jalan utama Kempo dengan jarak agak berjauhan. Persimpangan di tengah desa juga ditutup sehingga beberapa warga Kempo sendiri tak bisa menggerakkan kendaraannya keluar desa. Akhirnya kami tiba diujung barikade terakhir dan singgah di rumah Pak Rais. Kami terpaksa menyewa kendaraan lain dan menunggu mobil sewaan di situ. Minibus kami harus tinggal di Manggalewa terhambat barikade. Kami sangat berterimakasih telah mengenal Pak Rais, pastilah Tuhan telah mengirimkan Pak Rais untuk kami. Puji syukur kami tak terkira pada Tuhan. Ketegangan belum berakhir. Kami mendapat informasi di dalam kendaraan bahwa rombongan kami dikira rombongan pemilik industri yang merampas lahan ternak warga. Itu sebabnya, ketika kendaraan kami mulai berangkat meninggalkan desa Kempo, ada sebuah barikade lagi yang menutup jalan kami. Syukurlah, lagi-lagi Pak Rais dan temannya bisa bernego menepis kecurigaan warga. Apalagi kami memang tidak ada sangkut paut dengan masalah mereka.

[2] Dusun Pancasila

Tambora Trekking Centre
Tambora Trekking Centre
Koordinator Perijinan Dusun Pancasila
Koordinator Perijinan Dusun Pancasila (Update Mei 2014)

Menyelesaikan hambatan di Kempo menghabiskan waktu sampai sekitar pukul 10.00. Persinggahan kami berikutnya adalah desa Kadindi Atas untuk menjemput sebelas orang porter di rumah sewa. Mobil bak terbuka L-300 siap mengangkut sebelas porter itu. Beberapa barang yang tak diperlukan ditinggal. Kami pergunakan waktu di rumah sewa itu untuk membersihkan diri dan sholat bagi yang beragama Islam.  Tiba di Dusun Pancasila, kami disambut dengan hawa dingin dan hamparan perkebunan kopi. Makan waktu  4 jam dari Kempo  sampai di Dusun Pancasila. Sudah termasuk waktu singgah di desa Kadindi Atas. Sebuah rumah berpapan nama “K-PATA” & “TAMBORA TREKKING CENTRE” (‘trekking’ = tracking) menjadi tujuan kami. Rumah itu berada di pinggir lapangan bola dusun tersebut. Setiap pendakian harus melaporkan waktu dan jumlah timnya agar terpantau jika terjadi keterlambatan pulang. Tim kami tiba hari Kamis tanggal 29 Mei 2014 dan merencanakan pulang paling lambat hari Sabtu, tanggal 31 Mei 2014. Menjelang pukul tiga sore urusan perijinan dengan koordinator perijinan Saiful Bahri, barulah selesai.

[3] Portal (Pintu Rimba) dan Pos 1

PORTAL  (Pintu Rimba)
PORTAL (Pintu Rimba)

Kendaraan L-300 mengangkut kami dari Pos K-Pata sampai mendekati portal. Mobil bak terbuka itu tidak berhasil mengantar kami tepat di portal karena tanjakan terakhir terlalu licin. Beberapa saat akhirnya berkumpul semua sejumlah 21 orang di depan portal. Pak Budi, Pak Handoyo, Pak Ade, Pak Sabb, Pak Sigit, Jefry, Manan, Ivan, Kanzu, saya dan sebelas porter. Kami berdoa dengan kepasrahan, membentuk  lingkaran serta memohon pada Tuhan untuk keselamatan selama dalam ekspedisi. Hari telah sore sekitar pukul 4 saat kaki kami mulai meninggalkan portal, menerobos kebun kopi. semak-semak  dari yang rendah dan renggang sampai semak tinggi dan rapat. Komunitas lintah perlu diwaspadai sepanjang jalan setapak antara portal sampai pos 1. Kita harus menutup kaki dengan kaos kaki untuk mencegah lintah menempel di kaki. Waktu yang dibutuhkan sekitar 2 jam sampai di pos 1 dengan kecepatan perjalanan sedang.  Saat itu sudah pukul 17.40 Wita.  Beberapa anggota ingin melanjutkan perjalanan sampai di pos 2. Namun sebagian besar tidak menginginkan berjalan malam hari dalam kondisi tidak memahami medan. Akhirnya tenda-tenda pun di pasang, perbekalan di keluarkan, dan porter mulai memasak untuk makan malam.

Pos 1
Pos 1 : ki-ka > Jefry – Pak Ade – Kanzu – Saya – Manan – Pak Handoyo – Pak Sigit – Pak Budi Siren.

Menikmati malam pertama perkemahan, suasana kebersamaan mulai terbangun. Keriuhan menyiapkan makan malam, membuat Pak Ade melontarkan sebuah ide konyol. Demi melihat jumlah porter sebelas orang, beliau tak sanggup menghafal nama satu per satu. Maka beliau memanggil kesebelas porter itu dengan panggilan “Jony”. Porter-porter yang rendah hati dan ringan tangan itu hanya nyengir lebar. Selanjutnya sampai pada perpulangan, kami sering memanggil mereka dengan “Jony”. Beberapa nama asli mereka ada juga yang kami ingat. Tapi Pak Ade keukeuh memanggil semua porter dengan “Jony”.

[4] Pos 2 dan Pos 3

Pukul 07.40 Wita kami siap melanjutkan perjalanan setelah sarapan dan berkemas. Saya banyak membaca artikel tentang perjalanan ke puncak gunung Tambora. Mereka rata-rata berusia muda, datang dari jauh di luar pulau dan telah banyak menjelajah beberapa gunung tanah air. Mereka memilih mendaki Tambora karena keistimewaannya yang sudah banyak diketahui orang. Keistimewaannya adalah gunung dengan kawah terbesar di Indonesia dan letusan terdahsyat dalam peradapan manusia modern. Peradapan modern yang telah melahirkan teknologi telegraph sebagai alat komunikasi antar negara masa itu.

Anggota Hash Sumbawa dan porter, menuju Pos 2
Anggota Hash Sumbawa dan porter, menuju Pos 2

Semak dan hutan hujan yang ramah menemani perjalanan ke Pos 2. Kemiringan jalan setapak juga masih ramah yaitu di bawah 30 derajat. Mula-mula kami 21 orang tertib beriringan berdekatan dipimpin ketua porter paling depan. Jalan setapak membuat kami hanya bisa berada dalam satu baris saja, panjang seperti ular. Akhirnya gerakan jadi melambat, karena menyesuaikan kemampuan anggota yang kecepatan jalannya rendah. Medan yang masih ramah akhirnya membuat kami merasa aman untuk saling mendahului. Tidak ada percabangan di alur jalan setapak, anggota yang mampu berjalan cepat tidak masalah meninggalkan rombongan, dan bergegas menuju Pos 2. Sungai terdengar deras alirannya mendekati Pos 2. Beruga (shelter) Pos 2 tepat di atas tebing sungai. Botol-botol air yang telah kosong bisa diisi di sungai ini dan bisa langsung di minum. Pacet merajalela di area lembab sungai di tengah hutan. Pacet kecil yang tak mudah ditangkap penglihatan kita, mudah sekali menempel di kaki atau kulit kita yang tak terlindung. Sungai yang jernih mengundang para pejalan yang ingin menyegarkan tubuh,  berendam kaki atau mandi. Satu per satu akhirnya lengkap kami 21 orang berkumpul di Pos 2, mengisi botol air dan istirahat sejenak. Sungai di Pos 2 adalah sumber air terbesar sepanjang jalur Pancasila ini. Sebagian yang telah pulih penatnya segera melanjutkan menuju Pos 3.

Pos 2, tepi sungai.
Pos 2, tepi sungai.
Merunduk di bawah barikade balok, rute Pos 2 ke Pos 3
Merunduk di bawah barikade balok, rute Pos 2 ke Pos 3

Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 adalah yang terpanjang dibanding jarak antar pos yang lain. Namun jalan tetap terlindung di bawah kanopi hutan hujan lereng Tambora. Sehingga kita tidak terlalu mengalami dehidrasi akibat sengatan matahari langsung. Kemiringan tanjakan masih relatif ramah. Jarah tempuh saya di track ini adalah 2 jam 24 menit. Anggota yang lain rata-rata juga menempuh waktu kurang lebih sama. Anggota yang terakhir tiba di Pos 3 adalah Jefry, kakinya kram sejak kemarin, sebelum mencapai Pos 1. Kisah Jefry bisa sampai masuk dalam tim pendakian Tambora adalah kisah unik. Ia tidak pernah ikut latihan rutin, jarang aktif di kegiatan hash. Oomnya-lah yang berinisiatif mengajak naik Tambora. Si Oom ini tak lain adalah Pak Budi. Tanpa ada persiapan fisik apa pun Jefri setuju ikut naik Tambora. Tentu saja ia yang lebih dulu bermasalah dengan kakinya. Pak Sigit dan seorang porter menemani Jefri dengan sabar, dan mengikuti jalannya yang super lambat sampai tiba di Pos 3. Pak Handoyo sempat menyarankan agak Jefry kembali ke Pos melapor di Dusun Pancasila dan menunggu di sana  sampai kami kembali. Kami memang khawatir dia justru menghambat perjalanan sampai puncak. Tapi rupanya Jefri punya tekad kuat mau sampai ke puncak Tambora. Tentu kami tak boleh menghambat tekad teman kami. Namun kami sarankan tetap didampingin seorang porter untuk menjaga kemungkinan terburuk. Itulah Jefry. Cita-citanya sungguh luhur : ingin memetik edelweis untuk mamanya. So sweet….

Area kemah paling luas terdapat di Pos 3
Area kemah paling luas terdapat di Pos 3

Sumber air letaknya masih 200 meter dari Pos 3. Sumber itu sangat kecil mirip aliran kran di rumah, kecil sekali. Beberapa botol diisi kembali untuk bekal selama sisa perjalanan hari itu. Sebenarnya kami lapar, tapi porter pembawa bekal masih jauh di belakang. Mereka sedang sibuk membereskan tenda di Pos 1 sementara kami berjalan meninggalkannya. Sehingga tidak berhasil menyusul kami saat jam makan siang. Akhirnya kami makan bekal yang ada, semacam coklat, wafer dan snack bergula yang bisa mengganti energi tubuh dengan cepat.  Menunggu porter pembawa bekal tiba akan menambah berat perjalanan karena kegelapan akan menyulitkan kami memahami medan yang mulai rawan. Kabut mulai turun di Pos 3 karena ketinggian telah mencapai 1.615 mdpl. Dua orang anak muda, tiba di Pos 3 saat kami tengah istirahat. Mereka karyawan sebuah industri di Bogor yang sudah mendaki banyak gunung. Gunung di Jawa, Lombok (Rinjani) dan beberapa di Sumatra telah mereka daki. Nampaknya cukup profesional. Mereka memanggul perlengkapan sendiri dilengkapi dengan sepasang tongkat khusus pendaki di tangan. Karena masih muda, mereka tak membutuhkan waktu sebesar yang kami butuhkan untuk duduk istirahat. Mereka pun ijin mendahului  melanjutkan ke Pos 4 setelah perkenalan singkat dengan kami. Heru dan Ichsan namanya. Semangat muda Heru dan Ichsan menular pada kami. Membuat kami bergegas bersiap melanjutkan perjalanan. Sarung tangan mulai dipasang, menyambut area tanaman jelatang (Dioica urtica) di hadapan kami dan udara dingin yang mulai menusuk. Lepas dari Pos 3 Pak Sigit terbebas dari pendampingan Jefry sehingga bisa berjalan lebih cepat sesuai kemampuannya. Jefry tetap paling belakang dengan semangat membaranya demi sekuntum edelweis untuk mamanya.

[5] Pos 4 – Pos 5  

Menyerbu dari sisi kanan dan kiri : jelatang (Urtica dioica)
Menyerbu dari sisi kanan dan kiri : jelatang (Urtica dioica), rute menuju Pos 4

Kabut tidak terlalu tebal, alam masih mengijinkan kami yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tambora untuk menikmati pemandangan yang disajikan. Hutan cemara mulai terlihat, hutan tropis mulai ditinggalkan. Vegetasi menyesuaikan ketinggian dari 1615 mdpl ke 1890 mdpl di Pos 4. Jelatang (Dioica urtica) adalah jenis perdu dataran tinggi yang baru ditemui di atas 1615 mdpl lereng Tambora. Tanaman ini juga banyak ditemukan di daerah subtropik benua Eropa dan Amerika. Hasil googling ternyata jelatang juga termasuk tanaman obat. Sementara saat di lapangan kami hanya tau bahwa daun itu adalah musuh bebuyutan karena gatal dan sedikit nyeri yang ditimbulkannya meskipun kulit kita hanya sedikit menyenggol daunnya. Alkisah teman kami kebelet di pipis di Pos 4. Pos 4 hanya ditandai oleh papan nama yang terpaku di pohon pinus tanpa beruga. Manan, teman kami itu hampir saja memetik daun jelatang untuk mengelap tangan dan bekas pipisnya. Syukurlah ia sempat bertanya sehingga terhindar dari bencana. Alkisah yang kedua adalah Bapak Ade yang sangat protektif dan sayang pada anaknya , Ivan. Berulang kali kami semua tersenggol daun gatal itu termasuk Pak Ade. Saat tersengat si “stinging nettle” atau si jelatang itu, beliau hanya mengerutu saja. Namun begitu Ivan yang tersengat, bangkitlah amarahnya. Meskipun namanya amarah, tapi kami yang mendengarnya tertawa sampai ROTF (Rolling On The Floor). Bagaimana tidak, beliau sekuat tenaga memukulkan tongkatnya ke semak penyengat itu sambil berteriak, “PKI kamu….PKI kamu… dasar PKI,“ teriak beliau berulang-ulang sambil mengayun tongkatnya kian-kemari , memukul perdu jelatang yang rimbun di kanan-kiri jalan setapak. Mendengar cerita beliau saya sampai terkesan seolah-olah perdu jelatang itu bangkit hidup dan melawan serangannya.

Pos 4 hanya ditandai papan di pohon. Tidak ada beruga (shelter) untuk bernaung.
Pos 4 hanya ditandai papan di pohon. Tidak ada beruga (shelter) untuk bernaung.
Suasana di Pos 4
Suasana di Pos 4

Perjalanan menuju Pos 4 hanya makan waktu sekitar satu jam. Jarak dari Pos 3 ke Pos 4 relatif pendek namun selisih ketinggian cukup besar. Sehingga kemiringan track mulai ekstrim. Sama seperti track menuju Pos 5. Rute zigzag dengan kemiringan 45 derajat banyak ditemui. Namun karena berjalan di sore hari itu di selimuti kabut dan udara dingin, dehidrasi tidak terjadi. Sebuah padang ilalang akan kita temui di pertengahan jalan menuju Pos 5. Berdiri di padang ilalang itu kita bisa menyaksikan puncak Tambora yang datar seperti meja. Bagai tumpeng yang terpenggal setengahnya, begitulah rupa fisik Gunung Tambora.

Memulai perjalan menuju Pos 5
Memulai perjalan menuju Pos 5
Padang ilalang , rute dari Pos 4 kr Pos 5.
Padang ilalang , rute dari Pos 4 ke Pos 5.
Pendirian tenda di Pos 5, sebelum summit attack
Pendirian tenda di Pos 5, sebelum summit attack

Tiba di Pos 5 pukul 5 sore, kami melihat Heru dan Ichsan (pendaki Bogor yang kami kenal di Pos 3) telah mendirikan tendanya. Mereka sedang memasak. Tandanya mereka telah lebih dari satu jam tiba di lokasi. Sambil duduk istirahat, saya rasakan udara dingin mulai menusuk tulang. Rasa lapar mulai melanda pula. Porter-porter kami yang membawa logistik baru sampai pukul 7 malam. Makan siang yang terlewatkan membuat kami lapar berat. Suhu makin menantang. Dua lapis baju tidak cukup untuk menahan rendahnya suhu. Setidaknya tiga lapis baju, terdiri dari baju kaos, sweater, jaket satu atau dua buah jika suhu dirasa masih terlalu menusuk, Tak cukup dengan itu. Kaki masih harus memakai kaos kaki rangkap dua, sarung tangan dan penutup kepala juga rangkap dua. Barulah tubuh agak nyaman untuk melanjutkan aktifitas di area kemah.  Sumber air di Pos 5 berupa sisa air hujan dalam cerukan batu. Air itu coklat karena tidak mengalir. Air itu kami minum langsung dengan penuh syukur karena itulah sumber air terbaik yang tersedia. Menyeduh kopi dan merebus mie juga memakai air itu. Mie direbus campur dengan sulur pakis muda sisa panenan di sekitar Pos 1 tadi pagi. Tidur di ketinggian 2100 mdpl lumayan sulit. Kami terbiasa tidur di suhu hangat pesisir. Suhu rendah menusuk tulang sepanjang malam. Beberapa teman dan porter ternyata punya cerita cukup menegangkan sekitar pukul dua malam. Rupanya pada jam tersebut merupakan jadwal babi hutan melintas perkemahan kami. Mungkin tujuannya adalah sumber air di lereng dekat tenda kami. Hewan-hewan itu mungkin sedang mencari air. Teman-teman yang masih terbangun terpaku melihat hewan-hewan itu mendekati tenda. Syukurnya tenda tidak diseruduk kawanan babi hutan itu.

[6] Summit Attack

6.09 Wita, tepi kawah Tambora.
6.09 Wita, tepi kawah Tambora. (Kanzu)
Tepi kawah menjelang puncak. (Manan)
Tepi kawah menjelang puncak. (Manan)
Sunrise Tambora 30 Mei 2014
Sunrise Tambora 30 Mei 2014
Act on Summit Tambora 30 Mei 2014
Act on Summit Tambora 30 Mei 2014
Aneka bentuk tebing kawah Tambora.
Aneka bentuk tebing kawah Tambora.

Summit attack adalah tujuan utama semua pendaki. Kekuatan tekad diuji. Meski fisik tak terlalu prima tapi kalau tekad sangat kuat, seorang pendaki akan berhasil mencapai puncak tertinggi gunung. Kesepakatan kami meneruskan perjalanan menuju puncak Tambora adalah pukul 3 pagi. Lama perjalanan sekitar 2,5 – 3 jam. Sehingga diperkirakan sun rise bisa kami temui tepat di puncak. Perlengkapan kami siapkan untuk pulang-pergi dari puncak kembali ke tenda Pos 5. Teman kami ada yang memakai senter kepala, dan ada yang menggunakan senter tangan. Bekal air secukupnya, serta sedikit permen sudah cukup untuk menemani summit attack pulang-pergi dari Pos 5. Perjalanan malam akan melalui tepian jurang dan melintasi  beberapa bukit. Kondisi itu memaksa kami berjalan beriringan agar bisa saling menjaga satu sama lain. Semangat summit attack membuat kami bertahan mendaki selama 2,5 jam. Namun sayang Pak Handoyo harus membatalkan pendakian karena merasa terhuyung akibat diabet yang dideritanya. Beliau kembali ke tenda ditemani seorang porter. Kami berdelapan peserta melanjutkan perjalanan. Jalan pintas rupanya sudah longsor. Kami sempat tersesat mencari jalan alternatif. Dua pendaki asal Bogor, Heru dan Ichsan, telah jauh di depan kami. Mereka membawa gadget yang dilengkapi aplikasi GPS. Arah summit telah mereka temukan namun jalan pintasnya telah longsor. Menyisakan jurang menganga di depan mereka dan tidak memungkinkan untuk dipijak. Jika nekad bisa-bisa terjun bebas ke dalam jurang. Akhirnya Heru dan Ichsan berbalik arah dan bertemu dengan kami. Porter penunjuk jalan kami akhirnya mencari jalan pintas alternatif. Sebuah jurang yang lebih dangkal dia yakini sebagai jalan akses menuju puncak. Kami harus menuruni jurang tersebut dengan kedalaman sekitar 10 meter. Tebingnya 90 derajat dan pijakannya tak mudah dijangkau kaki. Kami saling bantu satu sama lain. Menjaga agar tak ada yang jatuh ke jurang. Langit mulai sedikit membiru. Sedikit cahaya langit membantu kami melalui jurang dan bergegas mencari puncak Tambora. Kawah raksasa telah dekat di depan kami. Gejolak rasa mulai menggelegak ingin segera melihat keajaiban kawah berukuran raksasa. Sedikit rona merah mulai nampak di langit. Sun rise mulai menyapa kami. Senter telah kami padamkan semua. Di kejauhan kami melihat bukit kecil yang menjadi puncak tertinggi Gunung Tambora. Bendera merah-putih tertancap di puncaknya. Sambil menyusuri jalan setapak kami menikmati kemegahan cekungan raksasa. Cekungan itu tepat di sisi kiri kami. Menganga tak terperi luasnya. Goyah hati, berpendar mata takjub luar biasa. Kawah terbesar di Indonesia itu berdiameter 6-7 km dengan keliling 16 km. Anda berminat mengitarinya satu putaran penuh? Sediakan waktu dua atau tiga hari lagi untuk menuntaskan keinginan itu. Sepuluh menit dari kawah akhirnya kami menginjakkan kaki di puncak tertinggi. Pukul 6.41 WITA beberapa anggota telah menyentuh puncak. Spanduk digelar merayakan pencapaian. Tak lupa menyapu pemandangan 360 derajat. Ketika kami memandang ke arah timur-laut, kelihatan sebentuk awan seperti jamur mengembang. Mirip asap letusan gunung. Kami tak menyadari kejadian sesungguhnya. Setelah hp teman kami bisa menangkap sinyal, masuklah sebuah pesan dari keluarga. Keluarganya mengkhawatirkan kami karena ada gunung meletus subuh tadi di daerah Bima. Barulah kami sadar asap yang kami lihat adalah asap letusan gunung yang terjadi subuh tadi. Gunung Sangeang Api adalah sebuah pulau kecil. Sebuah gunung api memenuhi pulau itu. Letaknya di utara kota Bima. Kami menikmati puncak hingga pukul 7.22 saja mengingat sisa waktu libur kami yang terbatas. Kini, berduyun-duyun kami turun. Lutut mulai mengerjakan tugasnya menahan beban berat kami. Seorang kawan kami, Jefry, berpapasan di tepi kawah. Ia baru memulai summit attack. Kami tinggalkan ia dan akan menunggunya di Pos K-Pata.

Ichsan, Pak Ade, Heru dan Ivan (ki-ka)
Ichsan, Pak Ade, Heru dan Ivan (ki-ka)
Kawah Tambora dan letusan Sangeang Api
Kawah Tambora dan letusan Sangeang Api
Kawah Tambora dilihat dari puncak tertinggi.
Kawah Tambora dilihat dari puncak tertinggi.

[7] Home

Down the hill and go home
Down the hill and go home
Tebing kawah Tambora
Tebing kawah Tambora

Perjalanan pulang sepakat kami lakukan dalam satu tahap sampai finis di Pos K-Pata. Tak ada banyak waktu tersisa karena telah tersita oleh hambatan di Kempo. Sejak berangkat pukul 3 pagi, kami hanya berhenti makan di Pos 5 kemudian berjalan tanpa banyak jeda hingga pukul 9 malam. Pak Handoyo sampai jatuh terjerembab hingga muka mencium tanah. Lutut kami luar biasa sakit. Namun kepuasan kami membantu kekuatan tubuh menyelesaikan jarak sampai tuntas. Perjalanan 18 jam akhirnya selesai. Syukurlah di pos K-Pata tersedia 4 kamar penginapan. Sebuah pondok rumah panggung kayu yang nyaman menurut ukuran saya. Koordinator perijinan sekaligus pemilik penginapan itu adalah Pak Saiful Bahri. Ia bersama istri melayani tamu-tamu penginapan. Kopi produk gunung Tambora juga dijual di kedai teras rumahnya. Kahawa namanya. Kahawa adalah kopi dalam bahasa Dompu. Kami terhempas lega. Jefry masih tertinggal di Pos 1 ditemani beberapa porter. Ia mengalami mual luar biasa. Tekadnya memang baja meski fisiknya hancur. Ia menginap di Pos 1 dan tiba di Pos K-Pata pagi keesokan harinya.
Pagi hari para porter ikut berkumpul sarapan bersama. Saya melihat porter-porter itu adalah pria-pria muda yang kurus-kurus. Tapi tenaganya beberapa kali lipat dibanding kami. Mendaki sudah menjadi menu harian mereka. Sudah pasti anatomi otot mereka jauh beda dengan kami. Berkat mereka perjalanan kami lebih aman. Terimakasih kesebelasan porter kami… yang dipanggil Jony-Jony semua.

Pemondokan di Sekretariat K-Pata & Tambora Trekking Centre
Pemondokan di Sekretariat K-Pata & Tambora Trekking Centre
Sekretariat Tambora tracking. Dusun Pancasila. ~~~ Saatnya pulang.
Sekretariat Tambora tracking. Dusun Pancasila. ~~~ Saatnya pulang.

Dari kiri ke kanan : Ichsan, Heru, Ibu dan Bp. Saiful Bahri (Koordinator perijinan), Pak Ade, Ivan, Pak Syafrudin, Kanzu, Pak Handoyo, Manan, saya, Pak Sigit dan Pak Budi Siren. Sebuah kutipan bagus saya petik dari Kompas.com untuk mengakhiri posting ini. Terimakasih tak terhingga kami ucapkan kepada pembaca yang mampir atau sekedar tersesat dalam pencarian keyword di web searcher. Demikian petikan itu :

  • Ada banyak jalan di gunung yang bisa berujung maut. Mulai dari tersesat, jatuh ke jurang, terserang hipotermia, kelelahan, serangan jantung, hingga kekurangan oksigen. Bahkan, pendaki terhebat sekalipun yang didukung perhitungan matang bisa menemui ajal di gunung.
  • Bagi para pendaki, risiko itu dianggap sepadan. Bahkan, seperti dituturkan Ernest Hemingway, penulis Amerika peraih Nobel Sastra, yang disebut olahraga sejatinya hanya mendaki gunung, selain adu banteng. ”Yang lain hanya permainan,” katanya. (Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2012/04/22/08110159/tambora..pendakian.terakhir.widjajono)
Penulis di puncak Tambora (summit attack)
Penulis di puncak Tambora

~ ~ ~ ~ ~

Advertisements

2 thoughts on “Tambora Menyapa Dunia

  1. AWW ATA,
    Beberapa kali aku nang Sumbawa Besar. Baru ngerti kalau sampeyan ada di Taliwang justru setelah melewati Kota Taliwang sekira sebuan lalu.

    Insya Allah, Kalau ada kesempatan aku mampir.

    Mohon doanya juga, agar proyek listrik Kami di Sumbawa Besar bisa goal, jadi bisa mampir ke Taliwang, Sumbawa Barat.

    Wassalaam, Ari Wijaya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s