Posted in Diary

Bulir Kuning Sumbawa

Sore yang cerah berawan, pukul lima, murid-murid telah pulang. Ada waktu luang sekitar satu jam sebelum sunset, sebelum bedug maghrib berbunyi. Biasanya saya melaju dengan motor keliling kota, sekedar memutari jalan-jalan utama, bertemu sibukan kota jelang matahari turun. Tapi sore itu tiba-tiba terlintas niat pergi ke Pelabuhan Badas. Sebuah pelabuhan di perairan Sumbawa Besar. Ingin sekali mengambil foto pelabuhan dari bukit kecil tempat Hotel Laguna Biru berdiri. Laguna Biru tidak jauh dari rumah. Hanya sekitar 10 menit dengan laju kecepatan sedang. Laguna Biru mengarah ke Timur dari rumah, menyusuri beberapa kelokan bukit dan teluk. Salah satu teluk dengan perairan dalam terdapat beberapa spot penting. Laguna Biru, Pelabuhan Badas dan tangki Pertamina adalah tiga spot yang saling berdekatan di teluk dalam tersebut. Perairan tenang dan dalam sangat cocok untuk sandar kapal-kapal besar di pelabuhan dan di dermaga tangki milik Pertamina.

Kiri : Dermaga Amanwana Kanan : Hotel Laguna Biru
Kiri : Dermaga Amanwana
Kanan : Hotel Laguna Biru

 

20160422_092645
Hotel Laguna Biru , Sumbawa

Jalan naik ke Laguna Biru tidak terjal dan pendek. Ketinggiannya sekitar 50 meter. Sehingga mengambil gambar di sana tidak bisa menangkap keseluruhan fisik pelabuhan. Inilah pemandangan pelabuhan Badas sore itu.

Lab Badas Sbw
Pelabuhan Badas, Kabupaten Sumbawa

 

Dari Laguna Biru terlihat ada dua kapal besar sedang bersandar. Di dekatnya ada sebuah kapal kayu ukurang sedang berkapasitas 20-an penumpang, dan beberapa kapal kayu berukuran kecil. Bangunan besar di pelabuhan adalah gudang dan tangki di sana-sini. Kapal-kapal kayu di sana biasanya digunakan untuk transport ke pulau-pulau kecil seperti Pulau Moyo dan Pulau Medang. Terkadang kapal phinisi dengan kayu berplitur bagus juga sandar di teluk itu. Kapal phinisi itu diam di tengah teluk dijaga jangkar yang dijatuhkan di sana. Kapal phinisi itu rutenya sampai ke Pulau Komodo, menyusuri Laut Flores.

Kapal kayu ke pulau sekitar Sumbawa
Kapal kayu ke pulau sekitar Sumbawa

 

Anak muda lomba lari di dermaga
Anak muda lomba lari di dermaga

 

Langit masih terang, saya pun menuju ke area pelabuhan. Ternyata sore itu sangat ramai. Muda-mudi, lalu lalang dengan motor mereka. Saya berhenti di dermaga sebelah Barat yang sangat luas. Beberapa mobil parkir dan penumpangnya menikmati pemandangan sore pelabuhan yang aduhai. Duh! Bagi kebanyakan orang, pemandangan senja lepas pantai memang mewah. Beberapa orang membawa pancing meski di gerbang masuk pelabuhan tertulis larangan memancing di area pelabuhan. Segerombolan pemuda berkaos seragam warna kuning datang ke dermaga, tak lama mereka mengadakan lomba lari. Luasnya dermaga mendorong mereka beraksi rupanya. Beberapa orang sibuk berfoto, selfie, dan duduk di tepi dermaga. Ini memang bukan Tianan Men tapi saking luasnya dermaga dan kosong pula, biarlah otak saya percaya ini sedang di Tianan Men. Biarlah sejenak berkhayal asal jangan melamun sampai kecemplung laut. Dermaga sebelah Timur rupanya sedang sibuk. Sebuah kapal besar dengan tiga katrol derek sedang menjadi pusat aktivitas sore itu. Gundukan material berwarna kuning-orens nampak diangkut dengan katrol masuk ke lambung kapal. Setelah beberapa menit, nampak sebuah truk mendekati kapal dan buruh pelabuhan bergegas mengayun sekop mengeluarkan material kuning-oren ke lantai dermaga. Material dipindahkan ke dalam jarring pengangkut dan ditarik katrol masuk ke lambung kapal. Truk berikutnya mengangkut material berwarna yang sama juga. Apa gerangan material itu? Saya dekati area bongkar muat. Seorang buruh berdiri dekat saya, dan darinya saya pun tahu bahwa material itu adalah bulir jagung kering. Bulir itu diangkut dari gudang di daerah Seger. Rasa penasaran saya pun terjawab. Kapal besar itu sedang dalam proses muat 8000 ton jagung kering pipilan. Benar, ini memang musim panen. Sumbawa adalah sentra jagung NTB. Bahkan potensi produksi jagung masih bisa ditingkatkan lagi. Karena lahan kosong masih sangat luas. Fakta itu pernah ditulis oleh pemilik usaha penjualan pupuk dan material pertanian (Pak Handoyo) dan tulisannya dimuat di koran lokal Sumbawa.

Bulir Kuning ~ jagung Sumbawa
Bulir Kuning ~ jagung Sumbawa

 

Antrian truk dalam pelabuhan
Antrian truk dalam pelabuhan

 

Beberapa pengemudi truk tampak duduk berkeliling di rumput. Antrian panjang truk jagung bakal menghabiskan waktu panjang sampai seminggu. Seorang buruh dekat saya tadi juga memberi informasi bahwa jagung-jagung Sumbawa akan dikirim diantaranya ke Palembang dan Vietnam. Ekspor! Ya, ternyata jagung Sumbawa mempunyai potensi ekspor sejak tahun 2015. Petani jagung yang serius, menurut info dari Pak Handoyo, bisa memiliki penghasilan melebihi Pegawai Negri. Namun mereka kerap bingung mengelola penghasilan mereka dari ladang jagung. Agak pilu juga mendengan penuturan itu. Harapannya semoga alokasi rejeki mereka bisa tepat guna dan tidak terhambur secara konsumtif. Tahun 2015 itu potensi ekspor jagung Sumbawa mencapai 140.000 ton dengan pengangkutan 11 kapal. Proses angkut bisa mencapai 6 bulan dalam satu masa panen raya seluruh Kabupatan Sumbawa.

Pohon galau (sendirian) di Pelb. Badas
Pohon galau (sendirian) di Pelb. Badas

 

Begitulah kisah di balik ketenangan pelabuhan sore itu. Berawal dari niat yang tiba-tiba terlintas ; kemudian menjadi pengalaman sore hari yang tak terduga. Bagaimana pengalaman tak terduga Anda? Awal pengalaman Anda dipicu oleh apa?

 

Advertisements
Posted in Diary, Mikropreneur

Sebentuk Utang di Puncak Rinjani

Gunung Rinjani 3726 mdpl.
Gunung Rinjani 3726 mdpl.

Daerah-daerah di Indonesia maupun di luar negri pasti memiliki ikon yang bernilai jual. Baik ikon bentang alam maupun budayanya. BNI sebagai bank kebanggaan anak negri tentu saja selalu memperhatikan ikon-ikon tersebut. Tempat tinggal saya selama tujuh belas tahun terakhir ini adalah pulau Sumbawa. Sebuah pulau yang terletak di antara pulau Lombok (NTB) dan kepulauan Komodo (NTT). NTB sendiri memiliki dua gunung yang menjadi ikon penting. Keduanya sama-sama punya “prestasi” ledakan dahsyat yang pernah mengguncang dunia. BNI  Cabang Sumbawa Besar mempunyai kegiatan olah raga rekreasi bersama nasabah. Olah raga rekreasi itu familiar disebut HASH. Apa itu hash? Dahulu tahun 1938 seorang berkebangsaan Inggris yang tinggal di Kuala Lumpur Malaysia merintis kegiatan lari di tengah padang bersama teman-temannya. Kegiatan lari yang dilakukan itu berakhir di sebuah rumah makan Cina bernama Hash House yang terletak di ujung padang. Dari Hash House  itulah nama kegiatan lari lintas padang ini bermula hingga sekarang. Meski tak setenar atletik (misalnya), kegiatan ini menyebar ke seantero jagad. Kini kegiatan itu lebih bersifat olah raga rekreasi. Berjalan atau pun berlari dengan mengambil rute-rute lintas alam yang unik sambil menikmati pemandangannya. Semacam kegiatan lintas alam.

Kegiatan hash di kabupaten Sumbawa mulanya hanya diikuti oleh komunitas entrepreneur Chinese. Mereka — para pengusaha Chinese — itu sebagian merupakan nasabah BNI. Sekitar tahun 2008/2009 saat datang pemimpin baru, Pak Saiful, sebagian pegawai BNI mulai dianjurkan ikut bergabung dalam kegiatan hash. Anggota grup hash pun bertambah banyak. Seiring berkembangnya keakraban antara pegawai dan nasabah dalam grup, masukan baru juga bermunculan. Diantaranya yaitu tidak membatasi keikutsertaan masyarakat untuk ikut serta di berbagai kegiatan hash. Sejak itu mulailah berdatangan keluarga maupun teman dekat para anggota dalam berbagai kegiatan hash. Anggota baru itu datang dan pergi silih berganti. Saya mulai bergabung pada tahun 2013. Suami yang juga pegawai BNI, mengajak saya ikut bergabung. Jadwal rutin kegiatan hash Sumbawa Besar saat itu adalah hari Minggu sore dan  jalan pagi tiga kali seminggu. Minggu sore  grup sering memilih rute jalan makadam menyusur lembah dan bukit di dusun Semongkat Sampar. Sedangkan jadwal paginya terkadang menyusuri jalan dalam kota atau ke rute makadam lainnya di dusun Perung. Semua tempat tersebut ada di sekitar kota Sumbawa Besar. Anggota grup yang mayoritas berusia sekitar 50 tahun sangat antusias menjalani kegiatan demi kegiatan. Mereka cukup disiplin. Kesadaran akan kebutuhan kebugaran badan cukup tinggi. Terlebih  aktivitas bisnis mereka masih tinggi.

Selain rutinitas tersebut, ada kegiatan besar dengan persiapan khusus seperti naik gunung atau berkunjung ke tempat yang agak jauh. Besar biaya ditanggung secara gotong-royong. Anggota grup hash Sumbawa Besar tergolong solid. Sumbawa Besar merupakan kota kabupaten yang relatif kecil. Masih tinggi karakter gotong-royong masyarakatnya. Karakter itu lebih mudah kita rasakan ketika kita pernah tinggal di kota besar. Akibatnya, ikatan anggota grup hash menjadi kuat. Nasabah, pegawai BNI maupun teman/kerabat di dalam grup berbaur dengan lancar. Nasabah senior yang telah sukses membina usaha tidak segan membagi ilmu bisnisnya. Budaya Cina mereka tularkan juga pada anggota lain. Sesekali kami di undang ke klenteng di hari raya Imlek. Duduk bersama sambil melihat dari dekat tata cara peribadatan mereka. Rasanya seperti keluarga. Bagi saya mereka seperti kakak yang membagi ilmu pada adiknya. Persamaan minat dalam petualanganlah  yang merekatkan kami bagai keluarga. Seperti momen-momen ketika menerobos dusun terpencil lengkap dengan romantika tersesatnya. Juga keasyikan saat sama-sama kelelahan di tengah hutan jauh dari peradaban penduduk dan momen-momen dalam menaklukkan puncak gunung.

Ikon NTB, gunung Rinjani dan Tambora tak luput jadi sasaran kegiatan hash Sumbawa Besar. Gunung berfungsi sebagai pasak bumi, agar daratan menjadi ajeg. Tidak bergeser dengan liar di atas lautan magma yang bergelora dalam perut bumi. Gunung Rinjani memasak Pulau Lombok dan Gunung Tambora memasak Pulau Sumbawa. Pendakian ke Tambora pertama kali dilakukan grup hash bulan Mei tahun 2014. Peluncur ide pertama adalah seorang nasabah senior berusia lebih dari 50 tahun. Pak Handoyo namanya. Beliau masuk dalam kategori orang yang mewajibkan diri jalan kaki sesering mungkin. Ide penaklukan Tambora itu tentu saja diremehkan rekan sebaya beliau. Secara sontak muncul celetukan,

          “Mau cari mati saja Handoyo itu.”

Tetapi ternyata hal yang dianggap mustahil itu sanggup dilakukan dengan berbekal tekad kuat. Pak Handoyo memang hanya mencapai pos 5 yang jaraknya 2,5 jam perjalanan dari puncak. Tapi itu sudah merupakan prestasi yang sangat baik untuk usia beliau dan penyakit diabetes yang dideritanya. Rekan beliau –Pak Ade—yang juga sebaya dan tidak ada penyakit diabet, mampu mencapai puncak Tambora 2851 mdpl (mdpl=meter di atas permukaan laut). Bahkan seorang peserta berusia 40-an yang tak pernah berlatih fisik pun sanggup mencapai puncak. Modalnya sebuah tekad : ingin memetik edelweiss untuk mamanya. Hanya itu tekad utamanya. Manis sekali, bukan?

Rinjani adalah sasaran kegiatan selanjutnya. Ia menjadi gunung kedua yang kami pijak di tahun yang sama. Tepatnya bulan Oktober 2014. Ketinggian 3726 mdpl membuat saya sedikit termenung. Ada sedikit keyakinan bahwa saya sanggup mencapai puncak Rinjani. Tambora bisa saya capai puncaknya, mengapa Rinjani tidak? Demikian keyakinan saya. Saya masih ingat betul cara mengatur nafas dan emosi selama pendakian Tambora lima bulan sebelumnya. Dengan keyakinan dan ingatan itu saya mengambil waktu latihan fisik hanya seminggu sebelum keberangkatan. Saat keberangkatan pun tiba. Kami memulai perjalanan darat dari kota Sumbawa Besar, dilanjutkan mengarungi Selat Alas untuk mencapai Pulau Lombok. Tiba di daratan Lombok, perjalanan dilanjutkan menuju lereng gunung yang dinamakan kawasan Sembalun. Kendaraan angkutan turun di Sembalun Lawang. Subuh di Sembalun Lawang tusukan udara dingin yang tajam mulai sedikit menggerus semangat saya. Pendakian direncanakan setelah subuh. Kendaraan bak terbuka mengantarkan sampai ke sebuah tempat sebelum  gapura Taman Nasional Gunung Rinjani. Sinar matahari yang mulai hadir membuat semangat bangkit kembali. Langkah mulai ringan, diselingi lari-lari kecil, seakan siap menaklukkan puncak setinggi 3726 mdpl. Rencananya ada 14 orang di antara puluhan peserta yang akan bermalam di pos tertinggi Pelawangan Sembalun. Sepuluh diantaranya akan melakukan summit attack (istilah untuk menjejak puncak gunung). Delapan pria dan dua wanita. Selebihnya hanya sampai pos satu atau ke pos tiga lalu kembali lagi ke hotel di Sembalun. Lembah kaki Rinjani adalah sabana yang luar biasa indahnya. Pemandangan terbaik sebelum pos tiga saya suguhkan foto-fotonya di bawah ini. Jelang pukul 12.00 perjalanan mulai berat akibat tanjakan yang makin banyak.

Sabana melalui jalur Sembalun.
Sabana melalui jalur Sembalun.

 

Sabana di jalur Sembalun.
Sabana di jalur Sembalun.

 

Bukit di kaki Rinjani.
Bukit di kaki Rinjani.

 

Bukit di kaki Rinjani.
Bukit di kaki Rinjani.

Sampai pos tiga, kami istirahat makan siang. Sekitar sepuluh porter kami libatkan untuk memandu, memasak dan mengangkut perbekalan kami. Sambil menanti bahan mentah siap disantap, kami duduk memandangi banyak pendaki lalu-lalang. Banyak juga yang naik dan tak kalah banyak pula yang turun. Saya memperhatikan lalu-lalang itu dan menemukan beberapa warna kulit dari berbagai ras. Demi memenuhi rasa penasaran, saya bertanya asal negara mereka. Tiga kali bertanya ternyata jawabannya juga tiga macam negara yang berbeda. Teman anggota hash yang lain juga penasaran dari mana saja asal negara pendaki-pendaki itu. Selesai makan siang, kami melanjutkan pendakian. Sepanjang jalan kami selalu diberi semangat oleh pendaki yang sedang turun. Wajah-wajah Melayu akan mengatakan ,

“Ayo semangat… semangat..”

Wajah-wajah kulit putih juga tak kalah gencar  mengatakan sambil mengepal tangan,

“Come on… you can do it.., you can do it.”

Saya mulai grogi. Seberat apakah gerangan meraih summit attack? Kami balas dengan ucapan terimakasih setiap semangat yang mereka berikan, sambil kami terus bertanya asal negara mereka. Hingga mencapai perkemahan di Pelawangan Sembalun kami telah mengumpulkan setidaknya sepuluh macam kewarganegaraan yang tersebar dari empat benua. Hanya pendaki dari benua Afrika yang kebetulan tidak saya temui saat itu. Lima bulan sebelumnya ketika naik Tambora, kami hanya bertemu pendaki dari negri sendiri. Namun Pulau Lombok yang telah memiliki bandara internasional rupanya turut berpengaruh pada kehadiran pendaki dari berbagai negara. Jumlah mereka pun sangat banyak.  Bulan Oktober sepertinya menjadi salah satu puncak musim pendakian. Perkemahan di Pelawangan Sembalun menjadi sangat padat (lihat foto di bawah).

Perkemahan padat di musim pendakian.
Perkemahan padat di musim pendakian.

 

Rinjani12
Perkemahan padat di Pelawangan Sembalun , Oktober 2014.

Selain bertemu banyak kewarganegaraan, kami juga mulai ditantang kemiringan tanjakan yang mencapai 30 sampai 45 derajat. Saya mulai melirik para porter. Lihatlah beban yang dibawanya (lihat foto di bawah ini).

Sosok seorang porter Rinjani yang khas dengan pikulannya.
Sosok seorang porter Rinjani yang khas dengan alat pikulannya.

Tanpa beban saja kami sangat lambat mendaki. Namun para porter dengan beban sebesar itu masih sanggup mendahului kami yang tanpa beban. Perbedaan fisik bagai bumi dan langit itu memberi kesan mendalam pada grup hash kami. Tak sanggup lagi saya berkata-kata. Kekuatan mereka menjadi catatan tersendiri dengan torehan yang kuat di hati untuk bekal menjalani hidup selanjutnya. Saya jadi teringat para pencari belerang di sekitar kawah Gunung Ijen di Jawa Timur. Mereka mirip satu sama lain.

Malam hari di perkemahan, tusukan suhu rendah makin melemahkan nyali. Angin juga kurang bersahabat. Di tambah lagi dengan kisah pasir licin yang disampaikan teman nasabah yang pernah melaluinya. Melalui jalur pasir itu ibarat melangkah maju tiga langkah, disertai mundur dua langkah. Saya langsung memutuskan mundur dari rombongan summit attack. Satu jam jelang pendakian, suami saya mengingatkan dengan setengah menantang.          

“Sudah sejauh ini kok mau mundur? Sia-sia saja jadinya yang sudah dilakukan tadi.”

Dua pegawai muda BNI dan seorang wanita –Bu Lanny– yang sedianya bersama saya mendaki juga turut menyayangkan keputusan mundur itu. Akhirnya saya berbalik arah, batal mundur demi tantangan dan semangat yang diberikan suami serta teman-teman dalam tim dini hari itu. Pukul dua dini hari kami sepuluh orang mulai bergerak naik. Empat orang tidak turut serta. Mereka tetap di perkemahan. Waktu kami tidaklah banyak. Karena siang hari grup hash BNI telah dijadwalkan turun ke danau kawah. Di sana akan mendirikan kemah kembali dan menginap semalam di tepi danau Segara Anak. Hempasan angin dingin tidak berhenti sepanjang perjalan naik. Kecepatan angin itu makin keras saja. Luluh lantak mental kami dibuatnya. Sepuluh peserta mampu bertahan dalam tiga jam pertama. Pasir licin dan angin dingin sangat menguras daya tahan saya. Tiga setengah jam saja saya bertahan naik dan akhirnya berhenti. Dari sepuluh peserta, sayalah yang paling belakang. Bu Lanny –rekan saya– adalah wanita 50-an tahun yang jauh lebih tangguh dari saya. Namun beliau juga menyerah bersama saya. Kami berdua duduk di balik batu menahan dingin yang luar biasa. Dua jam kemudian tiga orang juga menyerah. Mereka adalah Pak Dirja, Pak Ade dan Pak Budi. Ketiganya nasabah BNI yang kekuatan fisik serta mentalnya tergolong tangguh di antara kami. Sepertinya faktor usia yang mempengaruhi keputusan mereka untuk turun sebelum mencapai puncak. Berikutnya seorang peserti lagi menyerah. Ia pegawai BNI yang masih muda, namun tenaganya telah habis terkuras karena membantu menarik tangan rekannya sepanjang lintasan pasir licin. Empat orang sisanya tetap melanjutkan naik. Mereka itulah yang berhasil meraih summit attack.

Etape pertama pendakian sekitar 9,5 jam dari Sembalun-Pelawangan Sembalun.
Etape pertama pendakian sekitar 9,5 jam dari Sembalun-Pelawangan Sembalun.

 

Perkemahan Pelawangan Sembalun, sarung tangan mulai dipasang.
Perkemahan Pelawangan Sembalun, sarung tangan mulai dipasang.

 

Sunrise jelang 'summit attack'. Terlihat kemiringan fisik Rinjani.
Sunrise jelang ‘summit attack’. Terlihat kemiringan fisik Rinjani.

 

Pemandangan setelah 3,5 jam pendakian, di ketinggian yang mampu kami capai.
Pemandangan setelah 3,5 jam pendakian, di ketinggian yang mampu kami capai.

 

Pak Ade dan Pak Budi berfoto sebelum turun.
Pak Ade dan Pak Budi berfoto sebelum turun.

 

Danau Segara Anak dan Anak G.Rinjani dari puncak Rinjani 3726mdpl.
Danau Segara Anak dan Anak G.Rinjani dari puncak Rinjani 3726mdpl.

 

Jalur pendakian tepat berada di punggung gunung dengan jurang di kanan-kiri.
Jalur pendakian tepat berada di punggung gunung dengan jurang di kanan-kiri.

 

Tiga di antara empat yang mencapai puncak.
Tiga di antara empat yang mencapai puncak : Danang, Ranza, P.Syafrudin (ki-ka).

 

Jelang sore, kami telah sampai di perkemahan tepi danau Segara Anak. Wajah kami menahan luapan emosi akibat takjub pada bentang alam dan tantangan cuaca pendakian. Otak dan hati kami bergelora mengoreksi kesalahan-kesalahan yang menggagalkan enam orang meraih puncak 3726 mdpl. Saya kemudian memahami arti gencarnya suntikan semangat dari banyak pendaki yang berpapasan dengan kami kemarin hari. Memahami arti kesungguhan niat di awal keberangkatan. Memahami arti persiapan latihan fisik yang sepadan. Pun juga memahami akibat rasa meremehkan. Meski rasa itu hadir sedikit saja di masa persiapan pendakian namun mampu menggagalkan pencapaian.

Danau Segara Anak
Danau Segara Anak

 

Pemandangan Danau Segara Anak tempat berkemah malam kedua.
Pemandangan Danau Segara Anak tempat berkemah malam kedua.

 

Pemandangan pulang melalui jalur Pelawangan Senaru.
Pemandangan pulang melalui jalur Pelawangan Senaru.

 

Puncak Rinjani dan Anak G.Rinjani dari arah Pelawangan Senaru.
Puncak Rinjani dan Anak G.Rinjani dari arah Pelawangan Senaru.

 

Kini sudah hampir setahun sejak pendakian Rinjani Oktober 2014 itu. Masih ada rasa berhutang. Ada kesalahan strategi yang belum terbayar. Serta summit attack yang belum tercapai. Adakah bentuk kegiatan lain yang mampu membayar hutang itu? Namun di balik hutang itu ada bentuk berkah lain yang bisa tergenggam. Peserta pendakian merasakan sendiri bagaimana proses kegagalan itu terjadi. Rupanya ketinggian 3726 mdpl pada Rinjani, karakternya cukup ganas. Tingginya kecepatan angin adalah faktor di luar perhitungan. Ketepatan menejemen pendakian versus toleransi mengakomodasi banyak peserta dengan berbagai usia membuahkan hasil terbaik yang telah kami capai bersama. Setidaknya ada empat orang (dua pegawai BNI dan dua dari nasabah BNI) berhasil mencapai puncak. Ke empat orang yang berhasil itu mempunyai modal tekad besar yang tidak dimiliki enam peserta lainnya. Keunggulan fisik saja –tanpa besarnya tekad– tak akan mampu mengantar seseorang mencapai puncak. Kegiatan yang difasilitasi BNI cabang Sumbawa Besar bersama grup hashnya mengijinkan saya mendapatkan pengalaman berharga. Poin berharga itu antara lain menanamkan nilai kemanusiaan dari hadirnya sosok porter yang luar biasa. Kedua, kami bisa melihat sendiri pengaruh bandara internasional di Pulau Lombok pada besarnya arus wisatawan mancanegara ke Gunung Rinjani.

Gunung Tambora yang sanggup ditaklukkan puncaknya lima bulan sebelumnya membuat saya agak meremehkan Rinjani. Jadi telah jelas terbukti bahwa mempertahankan prestasi jauh lebih sulit dibanding meraihnya. Pendakian Tambora yang juga difasilitasi BNI adalah pendakian pertama dalam hidup saya. Usia yang sudah mendekati paruh baya membuat saya bersungguh-sungguh dalam persiapan di Tambora. Ketika menghadapi Rinjani, saya menjadi sedikit santai karena “merasa bisa”. Latihan fisik sering saya tunda-tunda. Hingga akhirnya hanya mendapat waktu latihan efektif selama satu minggu saja. Itulah bentuk kesalahan yang nyata. Sebuah pelajaran yang menjadi poin berharga ketiga.

Bersama hashnya, BNI cabang Sumbawa Besar tetap melakukan kegiatan rutin hingga sekarang. Mutasi pegawai dalam lingkup BNI membuat dinamika keanggotaan hash pun tinggi. Anggota yang tidak lagi tinggal di Sumbawa Besar biasanya tetap merasakan ikatan persaudaraan dengan anggota hash kota itu. Kekuatan itu akan tetap diuji dengan jarak yang jauh. Minat yang besar akan mendorong mereka yang jauh untuk datang kembali ke Sumbawa Besar. Mereka datang dengan suka rela untuk bergabung dalam kegiatan besar hash seperti mendaki gunung atau pertemuan rutin tingkat nasional. Setiap tahun selalu ada pertemuan rutin tingkat nasional. Pertemuan diadakan bergiliran di berbagai kota di Indonesia. Minat yang sama akan meleburkan anggotanya di sana tanpa sekat SARA. Mereka bertemu dan langsung berbaur melakukan petualangan dan perjalan. Terjadi saling menantang kekuatan fisik yang membuat suasana kompetisi menggembirakan. Betapa indah dinamika seperti itu. Terimakasih Tuhan, terimakasih BNI.

 

Penulis :

Amalia Tri Agustini (dalam rangka #69TahunBNI)

Sumbawa Besar ~ NTB

 

~~~&&&~~~ 

Posted in Diary, Opini

NatGeo Wild-isme

Wow…kalau soal alam ada banyak rupa gerakannya. Menurut saya yang bisa dijadikan patron utama adalah tayangan National Geography-Wild  yang ditayangkan dalam satu channel khusus di televisi. Akibat tayangan NatGeo-Wild itu dan reaksi seorang teman di dunia maya, munculah tulisan ini.

Sumber : https://www.pinterest.com/pin/344736546446223405/
Sumber : https://www.pinterest.com/pin/344736546446223405/

Sepengetahuan saya selama bergaul di dunia nyata dan tidak nyata (dunia maya di berbagai sosial media) bisa disebutkan beberapa gerakan cinta alam misalnya : di sekolah dan perguruan tinggi dengan grup pecinta alamnya dan juga di fakultas yang memuat mata kuliah ekologi, kehutanan, pertanian, peternakan juga perikanan. Gerakan cinta alam di tengah masyarakat juga muncul secara acak, ada tabloid atau website yang khusus mengupas tujuan wisata alam, dan ada juga acara stasiun tivi yang cukup menjamur berbicara soal alam liar Indonesia, destinasi spot alam cantik tersembunyi di berbagai pelosok negri. Ada juga sosok-sosok pecinta alam yang mau mengajak teman-temannya hingga terbentuk komunitas khusus untuk menjelajah alam liar, baik jalan kaki, naik sepeda, menggunakan motor trail atau kendaraan-kendaraan roda empat. Jutaan bahkan lebih rupa gerakan yang ada, maka jutaan pula jejaknya. Namun satu objeknya yaitu : to love nature –mencintai alam.

Kita menjatuhkan diri pada pilihan “cinta alam” kadang-kadang karena terjebak pekerjaan. Kadang juga memang sudah dititiskan ke darah kita sejak lahir. Kalau di soal kerjaan, kadang kita terlibat dengan orang-orang yang memiliki hobi jelajah alam. Akhirnya kita tenggelam di dunia itu dan berenang-renang menikmatinya. Itu namanya tergiring lalu tercebur di arena. Bagi yang bisa menikmati , ia akan mengembangkan perannya untuk menyebarluaskan kecintaan alamnya pada masyarakat luas. Bagi yang setengah-setengah saja menikmati, gaungnya akan berhenti di permukaan kulitnya. Bagaimana pun hasrat kecintaan tidak bisa dipaksakan. Kalau kita terjun di dalamnya, itu sudah garis tangan. Menurut bahasa yang lebih serius disebutkan : Tuhan sudah memilihmu.

Jadi kalau sudah cinta ya jangan marah lihat gerakan orang lain yang punya rupa beda. Yang suka jalan, ya nggak perlu marah lihat orang lain yang sedang gembar-gembor mempromokan gerakan komunitasnya. Ada komunitas modal dengkul (tak memerlukan banyak biaya) , ada komunitas banyak biaya (karena kebetulan anggotanya orang-orang berduit), ada komunitas yang dibiayai negara (karena ia bergerak dalam institusi pendidikan milik negara), ada juga yang disponsori swasta dan ada yang mencari uang dari gerakan cinta alamnya. Beberapa yang saya sebutkan di atas juga masih sangat terbatas jenisnya. Terbatas kemampuan saya untuk menjabarkan motivasi gerakan mencintai alam. Terlalu luas.

Saya ingin cerita tentang motivasi gerakan cinta alam yang mendatangkan duit. Saya terkesan dengan sepak terjang dan motivasinya. Seorang mantan reporter tivi, yang juga penyiar berita, memutuskan pensiun dari pekerjaannya dan mengambil kerjaan baru di bidang traveling. Ia membangun website bersama fotografer rekan kerjanya. Websitenya memuat foto-foto bagus yang membuat saya jatuh cinta. Kualitas foto yang bagus memang bisa menarik jutaan calon pelancong untuk datang ke tujuan wisata yang sedang di promokan. Sang fotografer itu juga berhasil menjangkau pulau terpencil di kawasan perairan Maluku untuk berjumpa burung pelikan yang datang ke pulau tersebut pada musim tertentu.

Pelikan di Baronda Maluku . Sumber : http://marischkaprudence.blogspot.com/search/label/%23BarondaMaluku
Pelikan di Baronda Maluku . Sumber : http://marischkaprudence.blogspot.com/search/label/%23BarondaMaluku

Saya yang karena terbatas geraknya di seputaran pulau Sumbawa, merasa surprise melihat hasrat sampai sejauh itu menunggu kehadiran pelikan-pelikan mendarat di pulau terpencil di Maluku. Ah mungkin tak adil juga yah saya memuji berlebihan di tengah hati Anda yah? Tapi point saya… ada banyak percikan kebahagiaan di sekitar kita, dimanapun kita berada. Berdoalah mendapatkannya. Jika sudah Anda dapat, saya ucapkan selamat! Semoga kebahagiaan tak luntur diterpa badai.

Untuk pembaca “NatGeo Wild-isme” …trims sudah mampir.

Posted in Diary

Tambora Menyapa Dunia

Lapisan di tebing kawah Tambora
Lapisan di tebing kawah Tambora

Spanduk bertulis “Tambora Menyapa Dunia” telah tertancap di Desa Tambora. Berita perayaan itu telah lama didengar masyarakat Sumbawa. Kami sekelompok hobi pejalan kaki telah lama berencana ke sana. Syukurlah di antara kami ada seorang pencetus dan pendorong yang mempercepat terlaksananya rencana lama tersebut. Pak Handoyo lah sang pencetusnya. Beliau pengusaha yang sudah sangat senior di bidang pertanian/peternakan. Menjual pupuk, bibit, alat tani/ternak, dan perlengkapan petani lainnya seperti terpal dan  juga karung. Jaringannya banyak dan luas di Pulau Sumbawa. Urusan jalan beliau banyak sekali mencetus ide tempat tujuan. Kadang tempat tujuannya adalah daerah klien bisnis beliau di berbagai pelosok sekitar Pulau Sumbawa. Seperti pada suatu ketika mengajak komunitas pejalan kaki ke Kecamatan Labangka, tempat salah satu cabang tokonya. Labangka adalah sentra ladang jagung Sumbawa. Tracking menyusuri ladang jagung cukup unik saat pohon jagung tingginya melebihi tinggi manusia. Mudah sekali kehilangan arah untuk kembali ke garis start karena terhalangnya jarak pandang. Pak Handoyo bukanlah seorang pejalan kaki ulung. Tubuh beliau sangat gemuk, gerakan tak lincah lagi, tapi setiap track yang beliau usulkan selalu ditempuh semampunya, meski hanya separoh track. Bahkan kadang harus dibantu dengan menumpang kendaraan, seperti saat menempuh track 9 km menuju desa Poenik. Kesetiaan beliau pada banyak kegiatan jalan kaki membuat dinamika komunitas menghangat. Selain setia, beliau senang membawa konsumsi di setiap kegiatan. Tak mengherankan lagi jika beliau menjadi salah satu leader di komunitas. Ketika Pak Handoyo mencetuskan ide kegiatan mendaki ke Gunung Tambora, temannya mencibir. “Gimana caranya Handoyo itu mau naik Tambora?! Lahhh  Semongkat-Sampar (6 km) saja tidak pernah selesai! Mau cari mati dia itu!” Maksudnya adalah track Semongkat-Sampar yang pendek pun tidak pernah diselesaikan utuh sama Pak Handoyo. Baru setengah track sudah kembali ke garis start. Padahal rute itu dilatih seminggu sekali. Jadi menurutnya mustahil Pak Han mencapai puncak Tambora. Tapi meski demikian  tak sedikit yang mendukung ide tracking Gunung Tambora. Hingga akhirnya dimulailah rapat-rapat perencanaan pendakian. Pendakian Tambora adalah rute alam liar tanpa fasilitas umum yang memadai. Hanya petualang murni yang akan menikmati perjalanan pendakian tersebut.

[1] Kerusuhan Kempo

Sebuah minibus disiapkan oleh Pak Hengky. Beliau pengusaha senior juga. Usahanya di bidang jasa angkutan. Namun beliau memutuskan tidak ikut dalam tracking Gunung Tambora. Kesetiaan beliau pada komunitas mendorongnya memilihkan minibus terbaik untuk tracking ke Tambora. Kami berangkat hari Rabu, 28 Mei 2014, malam hari pukul sepuluh. Sebanyak sembilan orang peserta berbaur dalam minibus, berbagi cerita tentang kesiapan masing-masing. Tidak ada yang mengetahui persis seperti apa rupa tracking kami. Hanya pengetahuan dari internet dan pemandu saja yang jadi acuan. Tujuan  kami adalah Dusun Pancasila. Letaknya di kaki Gunung Tambora. Keluar dari kota Sumbawa Besar, kendaraan melaju ke arah Timur melintasi desa demi desa. Minibus kami terhenti di Desa Kempo sekitar pukul 02.00 WITA. Ada sebuah pohon besar  melintang di jalan. Pohon itu terlalu berat untuk dipindahkan.  Kami juga tidak mungkin turun untuk berusaha menggeser pohon. Masyarakat sekitar tidak menghendakinya. Masyarakat sengaja meletakkan pohon itu dengan posisi sedemikian rupa. Mereka sedang merencakan demo. Kendaraan kami pun terpaksa berhenti. Tiba-tiba seorang pria mendekati kendaraan kami. Ia menjelaskan kerusuhan yang sedang terjadi di desanya. Rupanya beliau adalah mantan kepala Desa Kempo, Pak Rais namanya. Menurutnya, kendaraan kami tidak mungkin menembus barikade pohon sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Selain karena pohon tersebut berat, warga juga melarang siapapun melintas. Sebilah parang di pinggang mereka selalu setia menemani penjagaan barikade. Siapa pun yang memaksa menembus penghalang, parang mereka akan ‘bicara’.   Perjalanan kami masih membutuhkan 3 jam untuk sampai ke Dusun Pancasila. Dusun Pancasila adalah titik awal pendakian, tempat kendaraan kami harus parkir. Kami berembuk sebentar, membuat perencanaan ulang. Akhirnya diputuskan untuk mencari penginapan.  Menunggu pagi sembari berharap warga Kempo telah membuka barikade.  Kami berbalik arah ke ibu kota kecamatan –Kecamatan Manggalewa— dan menemukan penginapan di depan Puskesmas Desa Soriutu.

Posisi kerusuhan Kempo
Posisi kerusuhan Kempo

Subuh kami bangun dan mulai mencari informasi. Teman kami telah mempunyai kontak nomor telpon Pak Rais. Mantan Kepala Desa Kempo yang menghampiri minibus kami tadi malam. Rupanya sampai pagi, ketegangan warga belum reda. Warga mempunyai tuntutan pembagian lahan untuk ternak kerbau di padang sabana lembah Gunung Tambora. Lahan sabana itu hendak digunakan untuk sebuah lahan industri, sehingga lahan ternak berkurang. Sementara jumlah kerbau yang telah merumput secara turun-temurun sejak jaman dahulu telah mencapai angka ribuan ekor. Sehingga membutuhkan lahan yang luas. Kemarahan warga memuncak karena kenyamanan mereka menikmati ketersediaan lahan ternak secara turun-temurun telah terusik. Pohon masih melintang dan belum ada kata damai terhadap tuntutan warga. Ekspedisi pendakian kami tak mungkin dibatalkan. Melalui Pak Rais, kami meminta tolong untuk mengawal  melintasi barikade dengan berjalan kaki. Pak Rais bersedia membantu. Kami berangkat dengan minibus dari penginapan ke tempat barikade, berjumpa dengan Pak Rais di sana. Pak Rais mengawal kami berjalan, sementara warga masih siaga dengan parang masih tersemat di pinggang mereka. Pandangan mereka penuh kecurigaan. Kami was-was juga. Tak kami lewatkan kesempatan itu untuk menyapa warga Kempo dan mohon permisi numpang lewat. Warga hanya diam memandangi kami. Syukurlah Pak Rais mampu meyakinkan warga menggunakan bahasa Dompu, bahasa mereka. Sambil tetap menyapa warga, kami terus berjalan. Tak kami sangka ternyata ada tiga pohon besar melintang di sepanjang jalan utama Kempo dengan jarak agak berjauhan. Persimpangan di tengah desa juga ditutup sehingga beberapa warga Kempo sendiri tak bisa menggerakkan kendaraannya keluar desa. Akhirnya kami tiba diujung barikade terakhir dan singgah di rumah Pak Rais. Kami terpaksa menyewa kendaraan lain dan menunggu mobil sewaan di situ. Minibus kami harus tinggal di Manggalewa terhambat barikade. Kami sangat berterimakasih telah mengenal Pak Rais, pastilah Tuhan telah mengirimkan Pak Rais untuk kami. Puji syukur kami tak terkira pada Tuhan. Ketegangan belum berakhir. Kami mendapat informasi di dalam kendaraan bahwa rombongan kami dikira rombongan pemilik industri yang merampas lahan ternak warga. Itu sebabnya, ketika kendaraan kami mulai berangkat meninggalkan desa Kempo, ada sebuah barikade lagi yang menutup jalan kami. Syukurlah, lagi-lagi Pak Rais dan temannya bisa bernego menepis kecurigaan warga. Apalagi kami memang tidak ada sangkut paut dengan masalah mereka.

[2] Dusun Pancasila

Tambora Trekking Centre
Tambora Trekking Centre
Koordinator Perijinan Dusun Pancasila
Koordinator Perijinan Dusun Pancasila (Update Mei 2014)

Menyelesaikan hambatan di Kempo menghabiskan waktu sampai sekitar pukul 10.00. Persinggahan kami berikutnya adalah desa Kadindi Atas untuk menjemput sebelas orang porter di rumah sewa. Mobil bak terbuka L-300 siap mengangkut sebelas porter itu. Beberapa barang yang tak diperlukan ditinggal. Kami pergunakan waktu di rumah sewa itu untuk membersihkan diri dan sholat bagi yang beragama Islam.  Tiba di Dusun Pancasila, kami disambut dengan hawa dingin dan hamparan perkebunan kopi. Makan waktu  4 jam dari Kempo  sampai di Dusun Pancasila. Sudah termasuk waktu singgah di desa Kadindi Atas. Sebuah rumah berpapan nama “K-PATA” & “TAMBORA TREKKING CENTRE” (‘trekking’ = tracking) menjadi tujuan kami. Rumah itu berada di pinggir lapangan bola dusun tersebut. Setiap pendakian harus melaporkan waktu dan jumlah timnya agar terpantau jika terjadi keterlambatan pulang. Tim kami tiba hari Kamis tanggal 29 Mei 2014 dan merencanakan pulang paling lambat hari Sabtu, tanggal 31 Mei 2014. Menjelang pukul tiga sore urusan perijinan dengan koordinator perijinan Saiful Bahri, barulah selesai.

[3] Portal (Pintu Rimba) dan Pos 1

PORTAL  (Pintu Rimba)
PORTAL (Pintu Rimba)

Kendaraan L-300 mengangkut kami dari Pos K-Pata sampai mendekati portal. Mobil bak terbuka itu tidak berhasil mengantar kami tepat di portal karena tanjakan terakhir terlalu licin. Beberapa saat akhirnya berkumpul semua sejumlah 21 orang di depan portal. Pak Budi, Pak Handoyo, Pak Ade, Pak Sabb, Pak Sigit, Jefry, Manan, Ivan, Kanzu, saya dan sebelas porter. Kami berdoa dengan kepasrahan, membentuk  lingkaran serta memohon pada Tuhan untuk keselamatan selama dalam ekspedisi. Hari telah sore sekitar pukul 4 saat kaki kami mulai meninggalkan portal, menerobos kebun kopi. semak-semak  dari yang rendah dan renggang sampai semak tinggi dan rapat. Komunitas lintah perlu diwaspadai sepanjang jalan setapak antara portal sampai pos 1. Kita harus menutup kaki dengan kaos kaki untuk mencegah lintah menempel di kaki. Waktu yang dibutuhkan sekitar 2 jam sampai di pos 1 dengan kecepatan perjalanan sedang.  Saat itu sudah pukul 17.40 Wita.  Beberapa anggota ingin melanjutkan perjalanan sampai di pos 2. Namun sebagian besar tidak menginginkan berjalan malam hari dalam kondisi tidak memahami medan. Akhirnya tenda-tenda pun di pasang, perbekalan di keluarkan, dan porter mulai memasak untuk makan malam.

Pos 1
Pos 1 : ki-ka > Jefry – Pak Ade – Kanzu – Saya – Manan – Pak Handoyo – Pak Sigit – Pak Budi Siren.

Menikmati malam pertama perkemahan, suasana kebersamaan mulai terbangun. Keriuhan menyiapkan makan malam, membuat Pak Ade melontarkan sebuah ide konyol. Demi melihat jumlah porter sebelas orang, beliau tak sanggup menghafal nama satu per satu. Maka beliau memanggil kesebelas porter itu dengan panggilan “Jony”. Porter-porter yang rendah hati dan ringan tangan itu hanya nyengir lebar. Selanjutnya sampai pada perpulangan, kami sering memanggil mereka dengan “Jony”. Beberapa nama asli mereka ada juga yang kami ingat. Tapi Pak Ade keukeuh memanggil semua porter dengan “Jony”.

[4] Pos 2 dan Pos 3

Pukul 07.40 Wita kami siap melanjutkan perjalanan setelah sarapan dan berkemas. Saya banyak membaca artikel tentang perjalanan ke puncak gunung Tambora. Mereka rata-rata berusia muda, datang dari jauh di luar pulau dan telah banyak menjelajah beberapa gunung tanah air. Mereka memilih mendaki Tambora karena keistimewaannya yang sudah banyak diketahui orang. Keistimewaannya adalah gunung dengan kawah terbesar di Indonesia dan letusan terdahsyat dalam peradapan manusia modern. Peradapan modern yang telah melahirkan teknologi telegraph sebagai alat komunikasi antar negara masa itu.

Anggota Hash Sumbawa dan porter, menuju Pos 2
Anggota Hash Sumbawa dan porter, menuju Pos 2

Semak dan hutan hujan yang ramah menemani perjalanan ke Pos 2. Kemiringan jalan setapak juga masih ramah yaitu di bawah 30 derajat. Mula-mula kami 21 orang tertib beriringan berdekatan dipimpin ketua porter paling depan. Jalan setapak membuat kami hanya bisa berada dalam satu baris saja, panjang seperti ular. Akhirnya gerakan jadi melambat, karena menyesuaikan kemampuan anggota yang kecepatan jalannya rendah. Medan yang masih ramah akhirnya membuat kami merasa aman untuk saling mendahului. Tidak ada percabangan di alur jalan setapak, anggota yang mampu berjalan cepat tidak masalah meninggalkan rombongan, dan bergegas menuju Pos 2. Sungai terdengar deras alirannya mendekati Pos 2. Beruga (shelter) Pos 2 tepat di atas tebing sungai. Botol-botol air yang telah kosong bisa diisi di sungai ini dan bisa langsung di minum. Pacet merajalela di area lembab sungai di tengah hutan. Pacet kecil yang tak mudah ditangkap penglihatan kita, mudah sekali menempel di kaki atau kulit kita yang tak terlindung. Sungai yang jernih mengundang para pejalan yang ingin menyegarkan tubuh,  berendam kaki atau mandi. Satu per satu akhirnya lengkap kami 21 orang berkumpul di Pos 2, mengisi botol air dan istirahat sejenak. Sungai di Pos 2 adalah sumber air terbesar sepanjang jalur Pancasila ini. Sebagian yang telah pulih penatnya segera melanjutkan menuju Pos 3.

Pos 2, tepi sungai.
Pos 2, tepi sungai.
Merunduk di bawah barikade balok, rute Pos 2 ke Pos 3
Merunduk di bawah barikade balok, rute Pos 2 ke Pos 3

Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 adalah yang terpanjang dibanding jarak antar pos yang lain. Namun jalan tetap terlindung di bawah kanopi hutan hujan lereng Tambora. Sehingga kita tidak terlalu mengalami dehidrasi akibat sengatan matahari langsung. Kemiringan tanjakan masih relatif ramah. Jarah tempuh saya di track ini adalah 2 jam 24 menit. Anggota yang lain rata-rata juga menempuh waktu kurang lebih sama. Anggota yang terakhir tiba di Pos 3 adalah Jefry, kakinya kram sejak kemarin, sebelum mencapai Pos 1. Kisah Jefry bisa sampai masuk dalam tim pendakian Tambora adalah kisah unik. Ia tidak pernah ikut latihan rutin, jarang aktif di kegiatan hash. Oomnya-lah yang berinisiatif mengajak naik Tambora. Si Oom ini tak lain adalah Pak Budi. Tanpa ada persiapan fisik apa pun Jefri setuju ikut naik Tambora. Tentu saja ia yang lebih dulu bermasalah dengan kakinya. Pak Sigit dan seorang porter menemani Jefri dengan sabar, dan mengikuti jalannya yang super lambat sampai tiba di Pos 3. Pak Handoyo sempat menyarankan agak Jefry kembali ke Pos melapor di Dusun Pancasila dan menunggu di sana  sampai kami kembali. Kami memang khawatir dia justru menghambat perjalanan sampai puncak. Tapi rupanya Jefri punya tekad kuat mau sampai ke puncak Tambora. Tentu kami tak boleh menghambat tekad teman kami. Namun kami sarankan tetap didampingin seorang porter untuk menjaga kemungkinan terburuk. Itulah Jefry. Cita-citanya sungguh luhur : ingin memetik edelweis untuk mamanya. So sweet….

Area kemah paling luas terdapat di Pos 3
Area kemah paling luas terdapat di Pos 3

Sumber air letaknya masih 200 meter dari Pos 3. Sumber itu sangat kecil mirip aliran kran di rumah, kecil sekali. Beberapa botol diisi kembali untuk bekal selama sisa perjalanan hari itu. Sebenarnya kami lapar, tapi porter pembawa bekal masih jauh di belakang. Mereka sedang sibuk membereskan tenda di Pos 1 sementara kami berjalan meninggalkannya. Sehingga tidak berhasil menyusul kami saat jam makan siang. Akhirnya kami makan bekal yang ada, semacam coklat, wafer dan snack bergula yang bisa mengganti energi tubuh dengan cepat.  Menunggu porter pembawa bekal tiba akan menambah berat perjalanan karena kegelapan akan menyulitkan kami memahami medan yang mulai rawan. Kabut mulai turun di Pos 3 karena ketinggian telah mencapai 1.615 mdpl. Dua orang anak muda, tiba di Pos 3 saat kami tengah istirahat. Mereka karyawan sebuah industri di Bogor yang sudah mendaki banyak gunung. Gunung di Jawa, Lombok (Rinjani) dan beberapa di Sumatra telah mereka daki. Nampaknya cukup profesional. Mereka memanggul perlengkapan sendiri dilengkapi dengan sepasang tongkat khusus pendaki di tangan. Karena masih muda, mereka tak membutuhkan waktu sebesar yang kami butuhkan untuk duduk istirahat. Mereka pun ijin mendahului  melanjutkan ke Pos 4 setelah perkenalan singkat dengan kami. Heru dan Ichsan namanya. Semangat muda Heru dan Ichsan menular pada kami. Membuat kami bergegas bersiap melanjutkan perjalanan. Sarung tangan mulai dipasang, menyambut area tanaman jelatang (Dioica urtica) di hadapan kami dan udara dingin yang mulai menusuk. Lepas dari Pos 3 Pak Sigit terbebas dari pendampingan Jefry sehingga bisa berjalan lebih cepat sesuai kemampuannya. Jefry tetap paling belakang dengan semangat membaranya demi sekuntum edelweis untuk mamanya.

[5] Pos 4 – Pos 5  

Menyerbu dari sisi kanan dan kiri : jelatang (Urtica dioica)
Menyerbu dari sisi kanan dan kiri : jelatang (Urtica dioica), rute menuju Pos 4

Kabut tidak terlalu tebal, alam masih mengijinkan kami yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Tambora untuk menikmati pemandangan yang disajikan. Hutan cemara mulai terlihat, hutan tropis mulai ditinggalkan. Vegetasi menyesuaikan ketinggian dari 1615 mdpl ke 1890 mdpl di Pos 4. Jelatang (Dioica urtica) adalah jenis perdu dataran tinggi yang baru ditemui di atas 1615 mdpl lereng Tambora. Tanaman ini juga banyak ditemukan di daerah subtropik benua Eropa dan Amerika. Hasil googling ternyata jelatang juga termasuk tanaman obat. Sementara saat di lapangan kami hanya tau bahwa daun itu adalah musuh bebuyutan karena gatal dan sedikit nyeri yang ditimbulkannya meskipun kulit kita hanya sedikit menyenggol daunnya. Alkisah teman kami kebelet di pipis di Pos 4. Pos 4 hanya ditandai oleh papan nama yang terpaku di pohon pinus tanpa beruga. Manan, teman kami itu hampir saja memetik daun jelatang untuk mengelap tangan dan bekas pipisnya. Syukurlah ia sempat bertanya sehingga terhindar dari bencana. Alkisah yang kedua adalah Bapak Ade yang sangat protektif dan sayang pada anaknya , Ivan. Berulang kali kami semua tersenggol daun gatal itu termasuk Pak Ade. Saat tersengat si “stinging nettle” atau si jelatang itu, beliau hanya mengerutu saja. Namun begitu Ivan yang tersengat, bangkitlah amarahnya. Meskipun namanya amarah, tapi kami yang mendengarnya tertawa sampai ROTF (Rolling On The Floor). Bagaimana tidak, beliau sekuat tenaga memukulkan tongkatnya ke semak penyengat itu sambil berteriak, “PKI kamu….PKI kamu… dasar PKI,“ teriak beliau berulang-ulang sambil mengayun tongkatnya kian-kemari , memukul perdu jelatang yang rimbun di kanan-kiri jalan setapak. Mendengar cerita beliau saya sampai terkesan seolah-olah perdu jelatang itu bangkit hidup dan melawan serangannya.

Pos 4 hanya ditandai papan di pohon. Tidak ada beruga (shelter) untuk bernaung.
Pos 4 hanya ditandai papan di pohon. Tidak ada beruga (shelter) untuk bernaung.
Suasana di Pos 4
Suasana di Pos 4

Perjalanan menuju Pos 4 hanya makan waktu sekitar satu jam. Jarak dari Pos 3 ke Pos 4 relatif pendek namun selisih ketinggian cukup besar. Sehingga kemiringan track mulai ekstrim. Sama seperti track menuju Pos 5. Rute zigzag dengan kemiringan 45 derajat banyak ditemui. Namun karena berjalan di sore hari itu di selimuti kabut dan udara dingin, dehidrasi tidak terjadi. Sebuah padang ilalang akan kita temui di pertengahan jalan menuju Pos 5. Berdiri di padang ilalang itu kita bisa menyaksikan puncak Tambora yang datar seperti meja. Bagai tumpeng yang terpenggal setengahnya, begitulah rupa fisik Gunung Tambora.

Memulai perjalan menuju Pos 5
Memulai perjalan menuju Pos 5
Padang ilalang , rute dari Pos 4 kr Pos 5.
Padang ilalang , rute dari Pos 4 ke Pos 5.
Pendirian tenda di Pos 5, sebelum summit attack
Pendirian tenda di Pos 5, sebelum summit attack

Tiba di Pos 5 pukul 5 sore, kami melihat Heru dan Ichsan (pendaki Bogor yang kami kenal di Pos 3) telah mendirikan tendanya. Mereka sedang memasak. Tandanya mereka telah lebih dari satu jam tiba di lokasi. Sambil duduk istirahat, saya rasakan udara dingin mulai menusuk tulang. Rasa lapar mulai melanda pula. Porter-porter kami yang membawa logistik baru sampai pukul 7 malam. Makan siang yang terlewatkan membuat kami lapar berat. Suhu makin menantang. Dua lapis baju tidak cukup untuk menahan rendahnya suhu. Setidaknya tiga lapis baju, terdiri dari baju kaos, sweater, jaket satu atau dua buah jika suhu dirasa masih terlalu menusuk, Tak cukup dengan itu. Kaki masih harus memakai kaos kaki rangkap dua, sarung tangan dan penutup kepala juga rangkap dua. Barulah tubuh agak nyaman untuk melanjutkan aktifitas di area kemah.  Sumber air di Pos 5 berupa sisa air hujan dalam cerukan batu. Air itu coklat karena tidak mengalir. Air itu kami minum langsung dengan penuh syukur karena itulah sumber air terbaik yang tersedia. Menyeduh kopi dan merebus mie juga memakai air itu. Mie direbus campur dengan sulur pakis muda sisa panenan di sekitar Pos 1 tadi pagi. Tidur di ketinggian 2100 mdpl lumayan sulit. Kami terbiasa tidur di suhu hangat pesisir. Suhu rendah menusuk tulang sepanjang malam. Beberapa teman dan porter ternyata punya cerita cukup menegangkan sekitar pukul dua malam. Rupanya pada jam tersebut merupakan jadwal babi hutan melintas perkemahan kami. Mungkin tujuannya adalah sumber air di lereng dekat tenda kami. Hewan-hewan itu mungkin sedang mencari air. Teman-teman yang masih terbangun terpaku melihat hewan-hewan itu mendekati tenda. Syukurnya tenda tidak diseruduk kawanan babi hutan itu.

[6] Summit Attack

6.09 Wita, tepi kawah Tambora.
6.09 Wita, tepi kawah Tambora. (Kanzu)
Tepi kawah menjelang puncak. (Manan)
Tepi kawah menjelang puncak. (Manan)
Sunrise Tambora 30 Mei 2014
Sunrise Tambora 30 Mei 2014
Act on Summit Tambora 30 Mei 2014
Act on Summit Tambora 30 Mei 2014
Aneka bentuk tebing kawah Tambora.
Aneka bentuk tebing kawah Tambora.

Summit attack adalah tujuan utama semua pendaki. Kekuatan tekad diuji. Meski fisik tak terlalu prima tapi kalau tekad sangat kuat, seorang pendaki akan berhasil mencapai puncak tertinggi gunung. Kesepakatan kami meneruskan perjalanan menuju puncak Tambora adalah pukul 3 pagi. Lama perjalanan sekitar 2,5 – 3 jam. Sehingga diperkirakan sun rise bisa kami temui tepat di puncak. Perlengkapan kami siapkan untuk pulang-pergi dari puncak kembali ke tenda Pos 5. Teman kami ada yang memakai senter kepala, dan ada yang menggunakan senter tangan. Bekal air secukupnya, serta sedikit permen sudah cukup untuk menemani summit attack pulang-pergi dari Pos 5. Perjalanan malam akan melalui tepian jurang dan melintasi  beberapa bukit. Kondisi itu memaksa kami berjalan beriringan agar bisa saling menjaga satu sama lain. Semangat summit attack membuat kami bertahan mendaki selama 2,5 jam. Namun sayang Pak Handoyo harus membatalkan pendakian karena merasa terhuyung akibat diabet yang dideritanya. Beliau kembali ke tenda ditemani seorang porter. Kami berdelapan peserta melanjutkan perjalanan. Jalan pintas rupanya sudah longsor. Kami sempat tersesat mencari jalan alternatif. Dua pendaki asal Bogor, Heru dan Ichsan, telah jauh di depan kami. Mereka membawa gadget yang dilengkapi aplikasi GPS. Arah summit telah mereka temukan namun jalan pintasnya telah longsor. Menyisakan jurang menganga di depan mereka dan tidak memungkinkan untuk dipijak. Jika nekad bisa-bisa terjun bebas ke dalam jurang. Akhirnya Heru dan Ichsan berbalik arah dan bertemu dengan kami. Porter penunjuk jalan kami akhirnya mencari jalan pintas alternatif. Sebuah jurang yang lebih dangkal dia yakini sebagai jalan akses menuju puncak. Kami harus menuruni jurang tersebut dengan kedalaman sekitar 10 meter. Tebingnya 90 derajat dan pijakannya tak mudah dijangkau kaki. Kami saling bantu satu sama lain. Menjaga agar tak ada yang jatuh ke jurang. Langit mulai sedikit membiru. Sedikit cahaya langit membantu kami melalui jurang dan bergegas mencari puncak Tambora. Kawah raksasa telah dekat di depan kami. Gejolak rasa mulai menggelegak ingin segera melihat keajaiban kawah berukuran raksasa. Sedikit rona merah mulai nampak di langit. Sun rise mulai menyapa kami. Senter telah kami padamkan semua. Di kejauhan kami melihat bukit kecil yang menjadi puncak tertinggi Gunung Tambora. Bendera merah-putih tertancap di puncaknya. Sambil menyusuri jalan setapak kami menikmati kemegahan cekungan raksasa. Cekungan itu tepat di sisi kiri kami. Menganga tak terperi luasnya. Goyah hati, berpendar mata takjub luar biasa. Kawah terbesar di Indonesia itu berdiameter 6-7 km dengan keliling 16 km. Anda berminat mengitarinya satu putaran penuh? Sediakan waktu dua atau tiga hari lagi untuk menuntaskan keinginan itu. Sepuluh menit dari kawah akhirnya kami menginjakkan kaki di puncak tertinggi. Pukul 6.41 WITA beberapa anggota telah menyentuh puncak. Spanduk digelar merayakan pencapaian. Tak lupa menyapu pemandangan 360 derajat. Ketika kami memandang ke arah timur-laut, kelihatan sebentuk awan seperti jamur mengembang. Mirip asap letusan gunung. Kami tak menyadari kejadian sesungguhnya. Setelah hp teman kami bisa menangkap sinyal, masuklah sebuah pesan dari keluarga. Keluarganya mengkhawatirkan kami karena ada gunung meletus subuh tadi di daerah Bima. Barulah kami sadar asap yang kami lihat adalah asap letusan gunung yang terjadi subuh tadi. Gunung Sangeang Api adalah sebuah pulau kecil. Sebuah gunung api memenuhi pulau itu. Letaknya di utara kota Bima. Kami menikmati puncak hingga pukul 7.22 saja mengingat sisa waktu libur kami yang terbatas. Kini, berduyun-duyun kami turun. Lutut mulai mengerjakan tugasnya menahan beban berat kami. Seorang kawan kami, Jefry, berpapasan di tepi kawah. Ia baru memulai summit attack. Kami tinggalkan ia dan akan menunggunya di Pos K-Pata.

Ichsan, Pak Ade, Heru dan Ivan (ki-ka)
Ichsan, Pak Ade, Heru dan Ivan (ki-ka)
Kawah Tambora dan letusan Sangeang Api
Kawah Tambora dan letusan Sangeang Api
Kawah Tambora dilihat dari puncak tertinggi.
Kawah Tambora dilihat dari puncak tertinggi.

[7] Home

Down the hill and go home
Down the hill and go home
Tebing kawah Tambora
Tebing kawah Tambora

Perjalanan pulang sepakat kami lakukan dalam satu tahap sampai finis di Pos K-Pata. Tak ada banyak waktu tersisa karena telah tersita oleh hambatan di Kempo. Sejak berangkat pukul 3 pagi, kami hanya berhenti makan di Pos 5 kemudian berjalan tanpa banyak jeda hingga pukul 9 malam. Pak Handoyo sampai jatuh terjerembab hingga muka mencium tanah. Lutut kami luar biasa sakit. Namun kepuasan kami membantu kekuatan tubuh menyelesaikan jarak sampai tuntas. Perjalanan 18 jam akhirnya selesai. Syukurlah di pos K-Pata tersedia 4 kamar penginapan. Sebuah pondok rumah panggung kayu yang nyaman menurut ukuran saya. Koordinator perijinan sekaligus pemilik penginapan itu adalah Pak Saiful Bahri. Ia bersama istri melayani tamu-tamu penginapan. Kopi produk gunung Tambora juga dijual di kedai teras rumahnya. Kahawa namanya. Kahawa adalah kopi dalam bahasa Dompu. Kami terhempas lega. Jefry masih tertinggal di Pos 1 ditemani beberapa porter. Ia mengalami mual luar biasa. Tekadnya memang baja meski fisiknya hancur. Ia menginap di Pos 1 dan tiba di Pos K-Pata pagi keesokan harinya.
Pagi hari para porter ikut berkumpul sarapan bersama. Saya melihat porter-porter itu adalah pria-pria muda yang kurus-kurus. Tapi tenaganya beberapa kali lipat dibanding kami. Mendaki sudah menjadi menu harian mereka. Sudah pasti anatomi otot mereka jauh beda dengan kami. Berkat mereka perjalanan kami lebih aman. Terimakasih kesebelasan porter kami… yang dipanggil Jony-Jony semua.

Pemondokan di Sekretariat K-Pata & Tambora Trekking Centre
Pemondokan di Sekretariat K-Pata & Tambora Trekking Centre
Sekretariat Tambora tracking. Dusun Pancasila. ~~~ Saatnya pulang.
Sekretariat Tambora tracking. Dusun Pancasila. ~~~ Saatnya pulang.

Dari kiri ke kanan : Ichsan, Heru, Ibu dan Bp. Saiful Bahri (Koordinator perijinan), Pak Ade, Ivan, Pak Syafrudin, Kanzu, Pak Handoyo, Manan, saya, Pak Sigit dan Pak Budi Siren. Sebuah kutipan bagus saya petik dari Kompas.com untuk mengakhiri posting ini. Terimakasih tak terhingga kami ucapkan kepada pembaca yang mampir atau sekedar tersesat dalam pencarian keyword di web searcher. Demikian petikan itu :

  • Ada banyak jalan di gunung yang bisa berujung maut. Mulai dari tersesat, jatuh ke jurang, terserang hipotermia, kelelahan, serangan jantung, hingga kekurangan oksigen. Bahkan, pendaki terhebat sekalipun yang didukung perhitungan matang bisa menemui ajal di gunung.
  • Bagi para pendaki, risiko itu dianggap sepadan. Bahkan, seperti dituturkan Ernest Hemingway, penulis Amerika peraih Nobel Sastra, yang disebut olahraga sejatinya hanya mendaki gunung, selain adu banteng. ”Yang lain hanya permainan,” katanya. (Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2012/04/22/08110159/tambora..pendakian.terakhir.widjajono)
Penulis di puncak Tambora (summit attack)
Penulis di puncak Tambora

~ ~ ~ ~ ~

Posted in Diary, Mikropreneur

Klungkung-Pamulung atau Pamulung-Klungkung?

Berugak pabrik "Langsung Enak"
Berugak pabrik “Langsung Enak”

Minggu, 18 Januari 2015 grup hash Sumbawa kembali melakukan kegiatan rutin jalan kaki. Rute perjalanan kali ini adalah Pamulung-Klungkung. Rute itu pernah saya lalui sekitar setahun lalu (Baca di Pengguna Jalan) bareng grup hash. Ketika itu kami memulai dari Klungkung dan finish di Pamulung. Apa perbedaannya? Klungkung letaknya di atas bukit, sedangkan Pamulung di lembahnya. Jika kita memulai dari Klungkung, maka kita cenderung kurang berkeringat karena tidak ada tanjakan yang menantang fisik. Rute dari Klungkung cenderung turun dan datar. Sebaliknya jika berangkat dari Pemulung badan lebih berkeringat karena menanjak. Meski tanjakannya tidak ekstrim, namun jarak yang panjang membuat fisik cukup terkuras.

Anggota hash Sumbawa memiliki kondisi fisik yang rupa-rupa.  Seorang mantan atlit atau penggemar olah raga, tentu tak masalah dengan rute tanjakan. Sementara beberapa anggota yang kurang gemar olah raga, pernah stroke dan sakit lainnya, tentu akan memilih rute menurun saja. Alhasil, hari ini kelompok sengaja dipecah dua untuk mengakomodasi keinginan anggota sesuai kondisi fisik masing-masing. Rencananya kelompok yang turun akan finish di Pamulung. Sementara kelompok yang naik, nantinya akan kembali turun saat bertemu di tengah perjalanan dengan kelompok yang turun dari Klungkung . Kemudian akan turun bersama-sama. Unik juga sih rencananya. Entah bagaimana bisa muncul ide start dari dua lokasi itu. Saya sebagai peserta hanya manut saja. Tidak ada keinginan untuk mencari tahu asal-usul keunikan itu. Telah beberapa tahun kami berkumpul dan berjalan bareng, selama itu memang banyak romantika dalam dinamika kelompok. Kebetulan saya ditarik oleh rombongan yang ingin start dari bawah (Pemulung). Saya diangkut bareng rombongan Pak Dirja. Beliau seorang mantan atlit, yang kini sukses menjalankan bisnisnya. Beberapa dari kami sudah saling memahami peran masing-masing di kelompok. Beberapa anggota baru yang masih muda yang masih perlu banyak belajar. Greget semangat kelompok hash ini yang utama adalah mencari keringat selama berjalan. Semangat yang mengikutinya adalah pertemanan. Diikuti semangat mempererat relasi bisnis, dan sebagainya.

Ketika kami sampai di garis start Pemulung, aroma udara pepohonan menyambut. Aroma udara dan aura pelosok itulah yang dicari oleh penggila hash ini. Semangat itu memang tidak dimiliki oleh setiap anggota. Namun semangat itu menjadi salah satu motor penggerak keaktifan kelompok kami. Beberapa perjalanan yang lalu mengajarkan kami untuk siap sedia dengan jas hujan plastik. Hujan bisa turun kapan saja dalam perjalanan. Jika memakai jas hujan pemotor terlalu berat. Ada pemasok barang yang menyediakan jas hujan yang terbuat dari kantong kresek. Sangat ringan, murah-meriah dan efektif untuk kegiatan jalan kaki ke berbagai pelosok desa. Jas hujan tersebutlah yang kami pakai. Setelah setengah jam perjalanan naik dari Pemulung hujan deras tumpah dari langit. Serentak kami keluarkan bekal jas kresek kami.

Tak terasa telah satu jam lebih kami menelusuri tanjakan. Namun belum juga bertemu dengan kelompok yang start dari atas bukit Klungkung. Ketua rombongan (Pak Budi Siren) memutuskan untuk berhenti, karena jika diteruskan naik akan kemalaman pulangnya. Pak Budi berkoordinasi dengan kelompok dari atas lewat telepon. Rupanya kelompok Klungkung terjebak hujan deras juga. Setelah dipastikan bahwa kelompok Klungkung tidak melanjutkan turun ke Pamulung, barulah beliau beri komando kami untuk turun kembali. Peserta berkumpul sejenak sebelum turun. Mereka berjas hujan plastik-kresek biru semua. Saya mendadak geli sendiri…. tiba-tiba jadi ingat kartun Smurf. He he he… Seorang peserta -anak kecil- turut mendekat. Saya seperti mengenalnya. Lama saya perhatikan, ternyata dia si Hamim. Anak yang menarik perhatian saya di perjalanan Teba Murin pada bulan Februari 2014. Hamim tetap tampil pede dan lucu. Waktu saya cerita soal Teba Murin pada Hamim, dengan tangkas ia menjawab,

“ O kalau cerita itu nggak perlu diingat lagi ya..,” ia membentengi diri dengan suara tegas, agar orang tidak melecehkannya. Maklumlah, peristiwa saat itu mungkin membuatnya malu.

“Tidak, Nak… justru kamu itu pintar. Orang-orang senang sama kamu.” saya memang senang anak-anak jujur seperti itu. Karena saya tidak menyerangnya, Si Hamim pun akhirnya mengungkapkan sendiri bahwa ia baru nyadar kalo celananya robek. Anak pintar…

Rombongan akhirnya menuruni bukit, kembali ke garis start dan makan jagung ketan rebus. Jagung manis yang berwarna putih itu lo. Pukul setengah enam sore rombongan bergerak ke rumah sepasang suami-istri anggota hash, pemilik pabrik roti. Sebuah pabrik roti (Roti Langsung Enak) yang menghidupi banyak pekerja dengan produk yang disukai masyarakat Sumbawa. Rumahnya sekaligus dijadikan komplek pabrik dan kamar kost pegawainya.  Lengkap dengan musholla dan gereja juga untuk mengakomodasi ibadah sesuai agama pegawainya. Wow, sebuah menejemen yang kompleks dan berhasil dilakukan pasangan pemilik pabrik roti itu. Kami semua pun makan sore di sana. Sayuran urap dan ikan bakar. Syukurlah… saya jadi menghemat pengeluaran makan. Nyonya rumah jago masak dan ramah. Beberapa ibu yang sedang menikmati sayur urapnya penasaran dengan resepnya. Lezat luar biasa sambal urapnya. Dengan berkelakar ia mengatakan, resep sayur urapnya adalah rahasia. Baiklah nyonya…. goodluck. Terimakasih atas ilmu yang Anda tunjukkan dari hasil kerja di lingkungan pabrik Anda.  Kerja luar biasa untuk daerah kami. Semoga keberkahan melimpah atas kebaikan Anda.

Berugak di pabrik roti Langsung Enak.
Berugak di pabrik roti Langsung Enak.

Kami sempatkan keliling area usahanya yang luas. Tanah, kolam, ternak, deretan kamar kost pegawai, rombongan angsa, berugak di tengah kolam, lapangan bulu tangkis, pabrik es dan juga pabrik roti. Tuhan menitipkan itu pada pasangan ramah Bu Yetty dan suami. Pas jelang maghrib tuntas sudah kegiatannya. Kami pulang ke rumah masing-masing. Terimakasih pembaca yang telah sudi mampir. CU…..

Inilah kartun Smurf
Inilah kartun Smurf
Posted in Opini

As Long As You Happy

Saya punya dua tulisan yang tertunda. Seharusnya tulisan-tulisan itu tayang di blog ini pada saat kejadian. Yaitu bulan Mei dan November 2014 lalu. Tapi pengaruh media sosial begitu buruk pada mood menulis saya. Saya malah lebih lama membaca media sosial dibanding menuliskan posting baru. Akibatnya yang muncul justru tulisan ini. Tulisan yang menguraikan seputar menyikapi media sosial .

Bagi saya media sosial menjadi semakin keruh sejak pilpres 2014. Sejak itu, terjadilah banyak perang sengit buingits di berbagai media sosial. Bacaan di timeline makin memusingkan. Orang jadi berpihak sedalam mungkin sekaligus menguraikan sisi buruk sedalam mungkin. Anehnya saya tidak menghentikan membacanya. Makin berat rasanya menulis kejadian-kejadian lumrah yang ringan di tengah timeline keruh di media sosial. Ingin menulis, tapi terbentur suasana yang super sensitif dan keruh di sana. Tadinya saya menolak dan menggugat situasi itu. Mengapa soal keyakinan menjadi serba diumbar. Lima orang tentu akan punya lima keyakinan yang tidak persis sama. Jadi jika satu orang menuliskan keyakinannya di media sosial, tentu dengan mudah akan memunculkan banyak reaksi yang kurang atau tidak sependapat. Pernah saya menghapus pertemanan dengan seseorang karena bagi saya tulisannya arogan. Namun teman saya itu meminta pertemanan lagi. Saya pun menerimanya. Kemunculannya tidak beda dengan sebelumnya. Tulisan sang teman ini masih saja menukik-nukik tidak membuat sejuk. Ketika membacanya terasa makin galau saja. Anehnya lagi (aneh yang kedua), saya tidak menghentikan membaca tulisan di media sosial. Kali ini saya membacanya secara cepat dan sekilas. Tidak lagi detil seperti dulu.

Berbulan-bulan, tahun pun berganti. Sampailah pada kesimpulan. Saya tak perlu lagi merespon apa pun. Saya mulai jarang menulis di berbagai timeline media sosial. Saya mulai meninggalkan menulis kata-kata bijak yang dikutip dari sana-sini. Namun ketika ada berita yang menggelitik saya kembali bereaksi. Tidak berupa kalimat, namun berupa update foto profil baru, atau mengunggah foto-foto alam dan juga lagu-lagu. Apa yang terjadi? Suasana media sosial agaknya tidak berubah. Persoalan keyakinan tetap diunggah. Kritik sosial politik apalagi…. padat!

“Sudahlah…,” batin saya.

“As long as you happy,” itu akhirnya yang tersimpul di kepala.

Eze France
Eze France

Selama engkau senang, buatlah posting yang membuatmu senang, lega dan damai. Teman baikmu pasti mendoakanmu. Selamat berkarya…

See you….

Posted in Uncategorized

2014 Rabu 31 Desember 23.24 Wita

c03b198eb3493f24f52e8a0d85f1e432.jpg

Aku menemukan diriku berdiri di atas sebuah tangkai yang damai

Sulur muda paku berayun ramai di sekitarku

Aku makin menjauh dari keramaian

Tangkai yang kupijak kini begitu damai

Hanya sulur muda paku ramai berayun

Siap kupetik saat kumau

2014 adalah pelajaran seperti yang lalu-lalu

Banyak…amat banyak yang salah

Tapi melalui duri di bawah, akhirnya sampai kumemanjat  di dahan yang damai