Posted in Diary, Mikropreneur

Sebentuk Utang di Puncak Rinjani

Gunung Rinjani 3726 mdpl.
Gunung Rinjani 3726 mdpl.

Daerah-daerah di Indonesia maupun di luar negri pasti memiliki ikon yang bernilai jual. Baik ikon bentang alam maupun budayanya. BNI sebagai bank kebanggaan anak negri tentu saja selalu memperhatikan ikon-ikon tersebut. Tempat tinggal saya selama tujuh belas tahun terakhir ini adalah pulau Sumbawa. Sebuah pulau yang terletak di antara pulau Lombok (NTB) dan kepulauan Komodo (NTT). NTB sendiri memiliki dua gunung yang menjadi ikon penting. Keduanya sama-sama punya “prestasi” ledakan dahsyat yang pernah mengguncang dunia. BNI  Cabang Sumbawa Besar mempunyai kegiatan olah raga rekreasi bersama nasabah. Olah raga rekreasi itu familiar disebut HASH. Apa itu hash? Dahulu tahun 1938 seorang berkebangsaan Inggris yang tinggal di Kuala Lumpur Malaysia merintis kegiatan lari di tengah padang bersama teman-temannya. Kegiatan lari yang dilakukan itu berakhir di sebuah rumah makan Cina bernama Hash House yang terletak di ujung padang. Dari Hash House  itulah nama kegiatan lari lintas padang ini bermula hingga sekarang. Meski tak setenar atletik (misalnya), kegiatan ini menyebar ke seantero jagad. Kini kegiatan itu lebih bersifat olah raga rekreasi. Berjalan atau pun berlari dengan mengambil rute-rute lintas alam yang unik sambil menikmati pemandangannya. Semacam kegiatan lintas alam.

Kegiatan hash di kabupaten Sumbawa mulanya hanya diikuti oleh komunitas entrepreneur Chinese. Mereka — para pengusaha Chinese — itu sebagian merupakan nasabah BNI. Sekitar tahun 2008/2009 saat datang pemimpin baru, Pak Saiful, sebagian pegawai BNI mulai dianjurkan ikut bergabung dalam kegiatan hash. Anggota grup hash pun bertambah banyak. Seiring berkembangnya keakraban antara pegawai dan nasabah dalam grup, masukan baru juga bermunculan. Diantaranya yaitu tidak membatasi keikutsertaan masyarakat untuk ikut serta di berbagai kegiatan hash. Sejak itu mulailah berdatangan keluarga maupun teman dekat para anggota dalam berbagai kegiatan hash. Anggota baru itu datang dan pergi silih berganti. Saya mulai bergabung pada tahun 2013. Suami yang juga pegawai BNI, mengajak saya ikut bergabung. Jadwal rutin kegiatan hash Sumbawa Besar saat itu adalah hari Minggu sore dan  jalan pagi tiga kali seminggu. Minggu sore  grup sering memilih rute jalan makadam menyusur lembah dan bukit di dusun Semongkat Sampar. Sedangkan jadwal paginya terkadang menyusuri jalan dalam kota atau ke rute makadam lainnya di dusun Perung. Semua tempat tersebut ada di sekitar kota Sumbawa Besar. Anggota grup yang mayoritas berusia sekitar 50 tahun sangat antusias menjalani kegiatan demi kegiatan. Mereka cukup disiplin. Kesadaran akan kebutuhan kebugaran badan cukup tinggi. Terlebih  aktivitas bisnis mereka masih tinggi.

Selain rutinitas tersebut, ada kegiatan besar dengan persiapan khusus seperti naik gunung atau berkunjung ke tempat yang agak jauh. Besar biaya ditanggung secara gotong-royong. Anggota grup hash Sumbawa Besar tergolong solid. Sumbawa Besar merupakan kota kabupaten yang relatif kecil. Masih tinggi karakter gotong-royong masyarakatnya. Karakter itu lebih mudah kita rasakan ketika kita pernah tinggal di kota besar. Akibatnya, ikatan anggota grup hash menjadi kuat. Nasabah, pegawai BNI maupun teman/kerabat di dalam grup berbaur dengan lancar. Nasabah senior yang telah sukses membina usaha tidak segan membagi ilmu bisnisnya. Budaya Cina mereka tularkan juga pada anggota lain. Sesekali kami di undang ke klenteng di hari raya Imlek. Duduk bersama sambil melihat dari dekat tata cara peribadatan mereka. Rasanya seperti keluarga. Bagi saya mereka seperti kakak yang membagi ilmu pada adiknya. Persamaan minat dalam petualanganlah  yang merekatkan kami bagai keluarga. Seperti momen-momen ketika menerobos dusun terpencil lengkap dengan romantika tersesatnya. Juga keasyikan saat sama-sama kelelahan di tengah hutan jauh dari peradaban penduduk dan momen-momen dalam menaklukkan puncak gunung.

Ikon NTB, gunung Rinjani dan Tambora tak luput jadi sasaran kegiatan hash Sumbawa Besar. Gunung berfungsi sebagai pasak bumi, agar daratan menjadi ajeg. Tidak bergeser dengan liar di atas lautan magma yang bergelora dalam perut bumi. Gunung Rinjani memasak Pulau Lombok dan Gunung Tambora memasak Pulau Sumbawa. Pendakian ke Tambora pertama kali dilakukan grup hash bulan Mei tahun 2014. Peluncur ide pertama adalah seorang nasabah senior berusia lebih dari 50 tahun. Pak Handoyo namanya. Beliau masuk dalam kategori orang yang mewajibkan diri jalan kaki sesering mungkin. Ide penaklukan Tambora itu tentu saja diremehkan rekan sebaya beliau. Secara sontak muncul celetukan,

          “Mau cari mati saja Handoyo itu.”

Tetapi ternyata hal yang dianggap mustahil itu sanggup dilakukan dengan berbekal tekad kuat. Pak Handoyo memang hanya mencapai pos 5 yang jaraknya 2,5 jam perjalanan dari puncak. Tapi itu sudah merupakan prestasi yang sangat baik untuk usia beliau dan penyakit diabetes yang dideritanya. Rekan beliau –Pak Ade—yang juga sebaya dan tidak ada penyakit diabet, mampu mencapai puncak Tambora 2851 mdpl (mdpl=meter di atas permukaan laut). Bahkan seorang peserta berusia 40-an yang tak pernah berlatih fisik pun sanggup mencapai puncak. Modalnya sebuah tekad : ingin memetik edelweiss untuk mamanya. Hanya itu tekad utamanya. Manis sekali, bukan?

Rinjani adalah sasaran kegiatan selanjutnya. Ia menjadi gunung kedua yang kami pijak di tahun yang sama. Tepatnya bulan Oktober 2014. Ketinggian 3726 mdpl membuat saya sedikit termenung. Ada sedikit keyakinan bahwa saya sanggup mencapai puncak Rinjani. Tambora bisa saya capai puncaknya, mengapa Rinjani tidak? Demikian keyakinan saya. Saya masih ingat betul cara mengatur nafas dan emosi selama pendakian Tambora lima bulan sebelumnya. Dengan keyakinan dan ingatan itu saya mengambil waktu latihan fisik hanya seminggu sebelum keberangkatan. Saat keberangkatan pun tiba. Kami memulai perjalanan darat dari kota Sumbawa Besar, dilanjutkan mengarungi Selat Alas untuk mencapai Pulau Lombok. Tiba di daratan Lombok, perjalanan dilanjutkan menuju lereng gunung yang dinamakan kawasan Sembalun. Kendaraan angkutan turun di Sembalun Lawang. Subuh di Sembalun Lawang tusukan udara dingin yang tajam mulai sedikit menggerus semangat saya. Pendakian direncanakan setelah subuh. Kendaraan bak terbuka mengantarkan sampai ke sebuah tempat sebelum  gapura Taman Nasional Gunung Rinjani. Sinar matahari yang mulai hadir membuat semangat bangkit kembali. Langkah mulai ringan, diselingi lari-lari kecil, seakan siap menaklukkan puncak setinggi 3726 mdpl. Rencananya ada 14 orang di antara puluhan peserta yang akan bermalam di pos tertinggi Pelawangan Sembalun. Sepuluh diantaranya akan melakukan summit attack (istilah untuk menjejak puncak gunung). Delapan pria dan dua wanita. Selebihnya hanya sampai pos satu atau ke pos tiga lalu kembali lagi ke hotel di Sembalun. Lembah kaki Rinjani adalah sabana yang luar biasa indahnya. Pemandangan terbaik sebelum pos tiga saya suguhkan foto-fotonya di bawah ini. Jelang pukul 12.00 perjalanan mulai berat akibat tanjakan yang makin banyak.

Sabana melalui jalur Sembalun.
Sabana melalui jalur Sembalun.

 

Sabana di jalur Sembalun.
Sabana di jalur Sembalun.

 

Bukit di kaki Rinjani.
Bukit di kaki Rinjani.

 

Bukit di kaki Rinjani.
Bukit di kaki Rinjani.

Sampai pos tiga, kami istirahat makan siang. Sekitar sepuluh porter kami libatkan untuk memandu, memasak dan mengangkut perbekalan kami. Sambil menanti bahan mentah siap disantap, kami duduk memandangi banyak pendaki lalu-lalang. Banyak juga yang naik dan tak kalah banyak pula yang turun. Saya memperhatikan lalu-lalang itu dan menemukan beberapa warna kulit dari berbagai ras. Demi memenuhi rasa penasaran, saya bertanya asal negara mereka. Tiga kali bertanya ternyata jawabannya juga tiga macam negara yang berbeda. Teman anggota hash yang lain juga penasaran dari mana saja asal negara pendaki-pendaki itu. Selesai makan siang, kami melanjutkan pendakian. Sepanjang jalan kami selalu diberi semangat oleh pendaki yang sedang turun. Wajah-wajah Melayu akan mengatakan ,

“Ayo semangat… semangat..”

Wajah-wajah kulit putih juga tak kalah gencar  mengatakan sambil mengepal tangan,

“Come on… you can do it.., you can do it.”

Saya mulai grogi. Seberat apakah gerangan meraih summit attack? Kami balas dengan ucapan terimakasih setiap semangat yang mereka berikan, sambil kami terus bertanya asal negara mereka. Hingga mencapai perkemahan di Pelawangan Sembalun kami telah mengumpulkan setidaknya sepuluh macam kewarganegaraan yang tersebar dari empat benua. Hanya pendaki dari benua Afrika yang kebetulan tidak saya temui saat itu. Lima bulan sebelumnya ketika naik Tambora, kami hanya bertemu pendaki dari negri sendiri. Namun Pulau Lombok yang telah memiliki bandara internasional rupanya turut berpengaruh pada kehadiran pendaki dari berbagai negara. Jumlah mereka pun sangat banyak.  Bulan Oktober sepertinya menjadi salah satu puncak musim pendakian. Perkemahan di Pelawangan Sembalun menjadi sangat padat (lihat foto di bawah).

Perkemahan padat di musim pendakian.
Perkemahan padat di musim pendakian.

 

Rinjani12
Perkemahan padat di Pelawangan Sembalun , Oktober 2014.

Selain bertemu banyak kewarganegaraan, kami juga mulai ditantang kemiringan tanjakan yang mencapai 30 sampai 45 derajat. Saya mulai melirik para porter. Lihatlah beban yang dibawanya (lihat foto di bawah ini).

Sosok seorang porter Rinjani yang khas dengan pikulannya.
Sosok seorang porter Rinjani yang khas dengan alat pikulannya.

Tanpa beban saja kami sangat lambat mendaki. Namun para porter dengan beban sebesar itu masih sanggup mendahului kami yang tanpa beban. Perbedaan fisik bagai bumi dan langit itu memberi kesan mendalam pada grup hash kami. Tak sanggup lagi saya berkata-kata. Kekuatan mereka menjadi catatan tersendiri dengan torehan yang kuat di hati untuk bekal menjalani hidup selanjutnya. Saya jadi teringat para pencari belerang di sekitar kawah Gunung Ijen di Jawa Timur. Mereka mirip satu sama lain.

Malam hari di perkemahan, tusukan suhu rendah makin melemahkan nyali. Angin juga kurang bersahabat. Di tambah lagi dengan kisah pasir licin yang disampaikan teman nasabah yang pernah melaluinya. Melalui jalur pasir itu ibarat melangkah maju tiga langkah, disertai mundur dua langkah. Saya langsung memutuskan mundur dari rombongan summit attack. Satu jam jelang pendakian, suami saya mengingatkan dengan setengah menantang.          

“Sudah sejauh ini kok mau mundur? Sia-sia saja jadinya yang sudah dilakukan tadi.”

Dua pegawai muda BNI dan seorang wanita –Bu Lanny– yang sedianya bersama saya mendaki juga turut menyayangkan keputusan mundur itu. Akhirnya saya berbalik arah, batal mundur demi tantangan dan semangat yang diberikan suami serta teman-teman dalam tim dini hari itu. Pukul dua dini hari kami sepuluh orang mulai bergerak naik. Empat orang tidak turut serta. Mereka tetap di perkemahan. Waktu kami tidaklah banyak. Karena siang hari grup hash BNI telah dijadwalkan turun ke danau kawah. Di sana akan mendirikan kemah kembali dan menginap semalam di tepi danau Segara Anak. Hempasan angin dingin tidak berhenti sepanjang perjalan naik. Kecepatan angin itu makin keras saja. Luluh lantak mental kami dibuatnya. Sepuluh peserta mampu bertahan dalam tiga jam pertama. Pasir licin dan angin dingin sangat menguras daya tahan saya. Tiga setengah jam saja saya bertahan naik dan akhirnya berhenti. Dari sepuluh peserta, sayalah yang paling belakang. Bu Lanny –rekan saya– adalah wanita 50-an tahun yang jauh lebih tangguh dari saya. Namun beliau juga menyerah bersama saya. Kami berdua duduk di balik batu menahan dingin yang luar biasa. Dua jam kemudian tiga orang juga menyerah. Mereka adalah Pak Dirja, Pak Ade dan Pak Budi. Ketiganya nasabah BNI yang kekuatan fisik serta mentalnya tergolong tangguh di antara kami. Sepertinya faktor usia yang mempengaruhi keputusan mereka untuk turun sebelum mencapai puncak. Berikutnya seorang peserti lagi menyerah. Ia pegawai BNI yang masih muda, namun tenaganya telah habis terkuras karena membantu menarik tangan rekannya sepanjang lintasan pasir licin. Empat orang sisanya tetap melanjutkan naik. Mereka itulah yang berhasil meraih summit attack.

Etape pertama pendakian sekitar 9,5 jam dari Sembalun-Pelawangan Sembalun.
Etape pertama pendakian sekitar 9,5 jam dari Sembalun-Pelawangan Sembalun.

 

Perkemahan Pelawangan Sembalun, sarung tangan mulai dipasang.
Perkemahan Pelawangan Sembalun, sarung tangan mulai dipasang.

 

Sunrise jelang 'summit attack'. Terlihat kemiringan fisik Rinjani.
Sunrise jelang ‘summit attack’. Terlihat kemiringan fisik Rinjani.

 

Pemandangan setelah 3,5 jam pendakian, di ketinggian yang mampu kami capai.
Pemandangan setelah 3,5 jam pendakian, di ketinggian yang mampu kami capai.

 

Pak Ade dan Pak Budi berfoto sebelum turun.
Pak Ade dan Pak Budi berfoto sebelum turun.

 

Danau Segara Anak dan Anak G.Rinjani dari puncak Rinjani 3726mdpl.
Danau Segara Anak dan Anak G.Rinjani dari puncak Rinjani 3726mdpl.

 

Jalur pendakian tepat berada di punggung gunung dengan jurang di kanan-kiri.
Jalur pendakian tepat berada di punggung gunung dengan jurang di kanan-kiri.

 

Tiga di antara empat yang mencapai puncak.
Tiga di antara empat yang mencapai puncak : Danang, Ranza, P.Syafrudin (ki-ka).

 

Jelang sore, kami telah sampai di perkemahan tepi danau Segara Anak. Wajah kami menahan luapan emosi akibat takjub pada bentang alam dan tantangan cuaca pendakian. Otak dan hati kami bergelora mengoreksi kesalahan-kesalahan yang menggagalkan enam orang meraih puncak 3726 mdpl. Saya kemudian memahami arti gencarnya suntikan semangat dari banyak pendaki yang berpapasan dengan kami kemarin hari. Memahami arti kesungguhan niat di awal keberangkatan. Memahami arti persiapan latihan fisik yang sepadan. Pun juga memahami akibat rasa meremehkan. Meski rasa itu hadir sedikit saja di masa persiapan pendakian namun mampu menggagalkan pencapaian.

Danau Segara Anak
Danau Segara Anak

 

Pemandangan Danau Segara Anak tempat berkemah malam kedua.
Pemandangan Danau Segara Anak tempat berkemah malam kedua.

 

Pemandangan pulang melalui jalur Pelawangan Senaru.
Pemandangan pulang melalui jalur Pelawangan Senaru.

 

Puncak Rinjani dan Anak G.Rinjani dari arah Pelawangan Senaru.
Puncak Rinjani dan Anak G.Rinjani dari arah Pelawangan Senaru.

 

Kini sudah hampir setahun sejak pendakian Rinjani Oktober 2014 itu. Masih ada rasa berhutang. Ada kesalahan strategi yang belum terbayar. Serta summit attack yang belum tercapai. Adakah bentuk kegiatan lain yang mampu membayar hutang itu? Namun di balik hutang itu ada bentuk berkah lain yang bisa tergenggam. Peserta pendakian merasakan sendiri bagaimana proses kegagalan itu terjadi. Rupanya ketinggian 3726 mdpl pada Rinjani, karakternya cukup ganas. Tingginya kecepatan angin adalah faktor di luar perhitungan. Ketepatan menejemen pendakian versus toleransi mengakomodasi banyak peserta dengan berbagai usia membuahkan hasil terbaik yang telah kami capai bersama. Setidaknya ada empat orang (dua pegawai BNI dan dua dari nasabah BNI) berhasil mencapai puncak. Ke empat orang yang berhasil itu mempunyai modal tekad besar yang tidak dimiliki enam peserta lainnya. Keunggulan fisik saja –tanpa besarnya tekad– tak akan mampu mengantar seseorang mencapai puncak. Kegiatan yang difasilitasi BNI cabang Sumbawa Besar bersama grup hashnya mengijinkan saya mendapatkan pengalaman berharga. Poin berharga itu antara lain menanamkan nilai kemanusiaan dari hadirnya sosok porter yang luar biasa. Kedua, kami bisa melihat sendiri pengaruh bandara internasional di Pulau Lombok pada besarnya arus wisatawan mancanegara ke Gunung Rinjani.

Gunung Tambora yang sanggup ditaklukkan puncaknya lima bulan sebelumnya membuat saya agak meremehkan Rinjani. Jadi telah jelas terbukti bahwa mempertahankan prestasi jauh lebih sulit dibanding meraihnya. Pendakian Tambora yang juga difasilitasi BNI adalah pendakian pertama dalam hidup saya. Usia yang sudah mendekati paruh baya membuat saya bersungguh-sungguh dalam persiapan di Tambora. Ketika menghadapi Rinjani, saya menjadi sedikit santai karena “merasa bisa”. Latihan fisik sering saya tunda-tunda. Hingga akhirnya hanya mendapat waktu latihan efektif selama satu minggu saja. Itulah bentuk kesalahan yang nyata. Sebuah pelajaran yang menjadi poin berharga ketiga.

Bersama hashnya, BNI cabang Sumbawa Besar tetap melakukan kegiatan rutin hingga sekarang. Mutasi pegawai dalam lingkup BNI membuat dinamika keanggotaan hash pun tinggi. Anggota yang tidak lagi tinggal di Sumbawa Besar biasanya tetap merasakan ikatan persaudaraan dengan anggota hash kota itu. Kekuatan itu akan tetap diuji dengan jarak yang jauh. Minat yang besar akan mendorong mereka yang jauh untuk datang kembali ke Sumbawa Besar. Mereka datang dengan suka rela untuk bergabung dalam kegiatan besar hash seperti mendaki gunung atau pertemuan rutin tingkat nasional. Setiap tahun selalu ada pertemuan rutin tingkat nasional. Pertemuan diadakan bergiliran di berbagai kota di Indonesia. Minat yang sama akan meleburkan anggotanya di sana tanpa sekat SARA. Mereka bertemu dan langsung berbaur melakukan petualangan dan perjalan. Terjadi saling menantang kekuatan fisik yang membuat suasana kompetisi menggembirakan. Betapa indah dinamika seperti itu. Terimakasih Tuhan, terimakasih BNI.

 

Penulis :

Amalia Tri Agustini (dalam rangka #69TahunBNI)

Sumbawa Besar ~ NTB

 

~~~&&&~~~ 

Posted in Diary, Mikropreneur

Klungkung-Pamulung atau Pamulung-Klungkung?

Berugak pabrik "Langsung Enak"
Berugak pabrik “Langsung Enak”

Minggu, 18 Januari 2015 grup hash Sumbawa kembali melakukan kegiatan rutin jalan kaki. Rute perjalanan kali ini adalah Pamulung-Klungkung. Rute itu pernah saya lalui sekitar setahun lalu (Baca di Pengguna Jalan) bareng grup hash. Ketika itu kami memulai dari Klungkung dan finish di Pamulung. Apa perbedaannya? Klungkung letaknya di atas bukit, sedangkan Pamulung di lembahnya. Jika kita memulai dari Klungkung, maka kita cenderung kurang berkeringat karena tidak ada tanjakan yang menantang fisik. Rute dari Klungkung cenderung turun dan datar. Sebaliknya jika berangkat dari Pemulung badan lebih berkeringat karena menanjak. Meski tanjakannya tidak ekstrim, namun jarak yang panjang membuat fisik cukup terkuras.

Anggota hash Sumbawa memiliki kondisi fisik yang rupa-rupa.  Seorang mantan atlit atau penggemar olah raga, tentu tak masalah dengan rute tanjakan. Sementara beberapa anggota yang kurang gemar olah raga, pernah stroke dan sakit lainnya, tentu akan memilih rute menurun saja. Alhasil, hari ini kelompok sengaja dipecah dua untuk mengakomodasi keinginan anggota sesuai kondisi fisik masing-masing. Rencananya kelompok yang turun akan finish di Pamulung. Sementara kelompok yang naik, nantinya akan kembali turun saat bertemu di tengah perjalanan dengan kelompok yang turun dari Klungkung . Kemudian akan turun bersama-sama. Unik juga sih rencananya. Entah bagaimana bisa muncul ide start dari dua lokasi itu. Saya sebagai peserta hanya manut saja. Tidak ada keinginan untuk mencari tahu asal-usul keunikan itu. Telah beberapa tahun kami berkumpul dan berjalan bareng, selama itu memang banyak romantika dalam dinamika kelompok. Kebetulan saya ditarik oleh rombongan yang ingin start dari bawah (Pemulung). Saya diangkut bareng rombongan Pak Dirja. Beliau seorang mantan atlit, yang kini sukses menjalankan bisnisnya. Beberapa dari kami sudah saling memahami peran masing-masing di kelompok. Beberapa anggota baru yang masih muda yang masih perlu banyak belajar. Greget semangat kelompok hash ini yang utama adalah mencari keringat selama berjalan. Semangat yang mengikutinya adalah pertemanan. Diikuti semangat mempererat relasi bisnis, dan sebagainya.

Ketika kami sampai di garis start Pemulung, aroma udara pepohonan menyambut. Aroma udara dan aura pelosok itulah yang dicari oleh penggila hash ini. Semangat itu memang tidak dimiliki oleh setiap anggota. Namun semangat itu menjadi salah satu motor penggerak keaktifan kelompok kami. Beberapa perjalanan yang lalu mengajarkan kami untuk siap sedia dengan jas hujan plastik. Hujan bisa turun kapan saja dalam perjalanan. Jika memakai jas hujan pemotor terlalu berat. Ada pemasok barang yang menyediakan jas hujan yang terbuat dari kantong kresek. Sangat ringan, murah-meriah dan efektif untuk kegiatan jalan kaki ke berbagai pelosok desa. Jas hujan tersebutlah yang kami pakai. Setelah setengah jam perjalanan naik dari Pemulung hujan deras tumpah dari langit. Serentak kami keluarkan bekal jas kresek kami.

Tak terasa telah satu jam lebih kami menelusuri tanjakan. Namun belum juga bertemu dengan kelompok yang start dari atas bukit Klungkung. Ketua rombongan (Pak Budi Siren) memutuskan untuk berhenti, karena jika diteruskan naik akan kemalaman pulangnya. Pak Budi berkoordinasi dengan kelompok dari atas lewat telepon. Rupanya kelompok Klungkung terjebak hujan deras juga. Setelah dipastikan bahwa kelompok Klungkung tidak melanjutkan turun ke Pamulung, barulah beliau beri komando kami untuk turun kembali. Peserta berkumpul sejenak sebelum turun. Mereka berjas hujan plastik-kresek biru semua. Saya mendadak geli sendiri…. tiba-tiba jadi ingat kartun Smurf. He he he… Seorang peserta -anak kecil- turut mendekat. Saya seperti mengenalnya. Lama saya perhatikan, ternyata dia si Hamim. Anak yang menarik perhatian saya di perjalanan Teba Murin pada bulan Februari 2014. Hamim tetap tampil pede dan lucu. Waktu saya cerita soal Teba Murin pada Hamim, dengan tangkas ia menjawab,

“ O kalau cerita itu nggak perlu diingat lagi ya..,” ia membentengi diri dengan suara tegas, agar orang tidak melecehkannya. Maklumlah, peristiwa saat itu mungkin membuatnya malu.

“Tidak, Nak… justru kamu itu pintar. Orang-orang senang sama kamu.” saya memang senang anak-anak jujur seperti itu. Karena saya tidak menyerangnya, Si Hamim pun akhirnya mengungkapkan sendiri bahwa ia baru nyadar kalo celananya robek. Anak pintar…

Rombongan akhirnya menuruni bukit, kembali ke garis start dan makan jagung ketan rebus. Jagung manis yang berwarna putih itu lo. Pukul setengah enam sore rombongan bergerak ke rumah sepasang suami-istri anggota hash, pemilik pabrik roti. Sebuah pabrik roti (Roti Langsung Enak) yang menghidupi banyak pekerja dengan produk yang disukai masyarakat Sumbawa. Rumahnya sekaligus dijadikan komplek pabrik dan kamar kost pegawainya.  Lengkap dengan musholla dan gereja juga untuk mengakomodasi ibadah sesuai agama pegawainya. Wow, sebuah menejemen yang kompleks dan berhasil dilakukan pasangan pemilik pabrik roti itu. Kami semua pun makan sore di sana. Sayuran urap dan ikan bakar. Syukurlah… saya jadi menghemat pengeluaran makan. Nyonya rumah jago masak dan ramah. Beberapa ibu yang sedang menikmati sayur urapnya penasaran dengan resepnya. Lezat luar biasa sambal urapnya. Dengan berkelakar ia mengatakan, resep sayur urapnya adalah rahasia. Baiklah nyonya…. goodluck. Terimakasih atas ilmu yang Anda tunjukkan dari hasil kerja di lingkungan pabrik Anda.  Kerja luar biasa untuk daerah kami. Semoga keberkahan melimpah atas kebaikan Anda.

Berugak di pabrik roti Langsung Enak.
Berugak di pabrik roti Langsung Enak.

Kami sempatkan keliling area usahanya yang luas. Tanah, kolam, ternak, deretan kamar kost pegawai, rombongan angsa, berugak di tengah kolam, lapangan bulu tangkis, pabrik es dan juga pabrik roti. Tuhan menitipkan itu pada pasangan ramah Bu Yetty dan suami. Pas jelang maghrib tuntas sudah kegiatannya. Kami pulang ke rumah masing-masing. Terimakasih pembaca yang telah sudi mampir. CU…..

Inilah kartun Smurf
Inilah kartun Smurf
Posted in Diary, Mikropreneur

Moyo Hilir

Kuda Pacu Menuju Arena
K u d a     P a c u     M e n u j u     A r e n a

Kecamatan Moyo Hilir adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Sumbawa. Moyo Hilir adalah salah satu daerah pertanian yang sangat subur di Kabupaten Sumbawa. Air di saluran pengairan sawah meluber-luber, kian kemari, deras mengalir. Untuk ukuran Sumbawa , air pengairan sawah yang melimpah ruah adalah hal yang amat jarang terlihat. Hanya di daerah-daerah tertentu saja bisa ditemui pengairan yang limpah ruah.

Selain pertanian, tempat pacuan kuda juga banyak terdapat di seantero Sumbawa. Pada suatu pagi, saya menemani suami pergi ke dua tempat, yaitu Kecamatan Moyo Hilir dan Kecamatan Lunyuk (posting yang akan datang). Memasuki pusat desa Pungkit , berjalan pelan di hadapan kami sebuah pickup terbuka mengangkut beberapa kuda pacu. Sepertinya kuda-kuda itu sudah diberi perhiasan di tubuhnya siap menuju lokasi pacuan kuda tradisional. Hadiah pacuan biasanya lumayan bikin peserta antusias dan membludak, yaitu sepeda motor, kulkas dan alat kebutuhan rumah tangga penting lainnya. Bagaimana persaingan tidak keras antar peserta jika melihat hadiah seperti itu?

Peternakan Mentog di Moyo Hilir
P e t e r n a k a n     M e n t o g     d i      M o y o    H i l i r

Sepanjang jalan utama pedesaan terdapat rumah penduduk yang rapat. Namun di belakang rapatnya rumah itu terdapatlah hamparan pertanian yang masih sangat luas sejauh mata memandang hingga kaki bukit terdekat. Kami singgah di salah satu rumah penduduk untuk satu keperluan. Ternyata pemilik rumah itu memelihara mentog di dekat sawahnya. Kebetulan sawahnya sedang merunduk bulir padinya siap dipanen. Sungguh pemandangan yang memukau menyambut kedatangan kami.

Mentog putih nan gemuk
Mentog putih nan gemuk

Mentog-mentog putih mulus yang gemuk itu sedang berjemur di antara pematang yang rumpun padi, Sungguh momen bagus yang harus diabadikan kamera. Syukurlah saya mendapatkan momen pemandangan bagus ini. Maka saya pun mendekati kolam tempat mereka berkumpul.

Beranjak bergerak ke kolam yang lebih luas
Beranjak bergerak ke kolam yang lebih luas

Tiba-tiba sekawanan mentog itu bergerak menuju kolam yang lebih luas. Saya sedang berdiri menghadap kolam tersebut dan mengamati apa yang sedang mereka lakukan.

Mulai membentuk formasi segitiga
M u l a i     m e m b e n t u k     f o r m a s i     s e g i t i g a

Ternyata satu ekor di antara mereka mengarah pada satu titik diikuti beberapa kawanan di belakangnya. Wow… ternyata mereka mulai membentuk formasi segitiga.

Pembentukan formasi segitiga selesai dilakukan
Pembentukan formasi segitiga selesai dilakukan

Formasi segitiga yang mereka bentuk ini dipimpin satu ekor mentog paling kanan seolah ia yang memberi kode untuk membentuk formasi segitiga tersebut. Mentog-mentog di belakangnya menghadap ke arah yang sama dengan sang pemimpin. Pemandangan luar biasa yang tidak terduga yang mereka suguhkan di hadapanku ketika berkunjung di peternakan tuan rumah mereka. Terimakasih para mentog yang cantik, GBU all ya…..

Membubarkan diri dari formasi
Membubarkan diri dari formasi
Adegan berakhir dan mereka beristirahat di tepi kolam
Adegan berakhir dan mereka beristirahat di tepi kolam

Mentog-mentog itu kemudian membubarkan diri dari formasi segitiga secara perlahan dan berangsur sebagian pergi ke tepi kolam untuk beristirahat di bawah rindang pohon kelapa.

Pagi itu tak sampai satu jam kami singgah di Moyo Hilir. Syukurlah urusan dengan tuan rumah bisa berakhir baik. Dapat hadiah bonus pemandangan segitiga mentog pula. Maha Besar Allah….Terimakasih mentog, terimakasih Moyo Hilir.

Posted in Diary, Mikropreneur

Ayo Ke Merente

Sungai di Desa Merente - ALAS - SUMBAWA
Sungai di Desa Merente – ALAS – SUMBAWA

Lagi-Lagi Komunitas Hash

Makin lama bergaul, bergumul, berinteraksi, lama-lama makin hafal, makin mengerti dan kadang-kadang juga makin nggak habis pikir. Pergi ke mana-mana ini adalah akibat bergaul dengan komunitas hash. Apa itu hash? Hash adalah komunitas pejalan kaki. Mengambil rute perjalanan yang dipilih oleh komunitas tersebut. Biasanya rutenya di alam yang cukup menantang, rute-rute liar yang jarang terjamah manusia, kebanyakan di tempat-tempat terpencil, pelosok. Tempat tujuan semacam itu juga digemari komunitas sepeda gunung, komunitas motor trail, dan mobil-mabil offroad.  Indah adalah indah, suka adalah suka. Kalau kita sudah bilang “indah” tidak peduli orang lain mau bilang apa. Kalau kita sudah bilang “suka” ya nggak peduli juga orang lain bilang apa.  Padahal apa yang kita “suka”  hari ini bisa jadi “biasa” di kemudian hari ya!

# ~~Sejarah Hash House Harriers
Hash House Harriers merupakan olahraga yang dilaksanakan di luar ruang atau alam bebas (outdoor activity) yang sangat mirip dengan olahraga lari lintas alam. Kegiatan hashing sebenarnya sudah dimulai sejak 246 SM. yang dilakukan oleh Hanibal berlari dengan start atau on on dari pintu gerbang Roma, dengan rute sepanjang Pegunungan Alpen dengan menandai perjalanannya dengan kotoran gajah (Jumhan Pida : 2001). Tetapi hashing secara modern dilaksanakan pada
bulan Desember 1938 di Kuala Lumpur Malaysia oleh Albert Stephen Ignatius Gispert yang seoarang Akutan di Evant & Co. berkebangsaan Inggris yang berada di Malaysia. Hash House Harriers berawal dari klub yang didirikan oleh Horse Thomson, Cecil Lee, Bennet, dan Albert Stephen Ignatius Gispert yang berada di Kuala Lumpur. Klub ini pertama hanya beranggotakan 12 orang, kemudian dengan keaktifan Albert Stephen Ignatius Gispert di dalamnya dengan berjalannya kegiatan ini anggotanya mulai bertambah. Mereka melakukan run (lari) pertama pada hari Jum‘at yang kemudian diubah pada setiap hari Senin. Dari kegiatan ini maka Registra of Societies mengesahkan Albert Stephen Ignatius Gispert sebagai orang pertama yang mengawali “ The Hash House Harriers”. Pada mulanya kegiatan lari ini hanya mengitari padang. Pada akhir padang terdapat rumah makan Cina yang mereka kenal dengan nama Hash House. Selanjutnya rumah makan tersebut mereka gunakan sebagai tempat finish dari kegiatan lari tersebut selain itu mereka juga minum bir dingin. Pada tanggal 11 Februari 1942 Albert Stephen Ignatius Gispert terbunuh dalam perang Asia Timur Raya di Pulau Singapura. Kegiatan lari (hashing) ini menjadi terhenti dan baru tahun 1946 salah satu anggota Hash House Harriers yang ada di Selangor berhasil mengkoordinir kembali kegiatan lari ini. Bennet selama 12 bulan berusaha mengumpulkan kembali teman-temannya yang selamat dalam perang Asia Timur Raya untuk dapat melakukan hashing kembali. Dan pada bulan Agustus 1946 itulah dapat dilaksanakan run (lari) yang pertama setelah Albert Stephen Ignatius Gispert mangkat. Dari sanalah berkembang kegiatan lari lintas alam yang terkenal dengan istilah Hash House Harriers ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia dan Yogyakarta pada khususnya.(Jumhan Pida, 2001). (Sumber HHH)

Sungai di Merente
Sungai di Merente
Para HASHER
Para HASHER
Para HASHER yang mencari jalan untuk menyeberang sungai
Para HASHER yang mencari jalan untuk menyeberang sungai
Hasher yang sedang istirahat  dan tak lupa "ngGadget"
Hasher yang sedang istirahat dan tak lupa “ngGadget”
Special HASHER
Special HASHER

Hasher

Hasher adalah sebutan untuk peserta Hash. Hash memang berasal dari bahasa Inggris artinya makanan daging yang dicincang halus. Dilihat dari sejarah di atas, restoran Cina yang menjadi asal-muasal nama komunitas ini barangkali memang menjual makanan daging (Hash House). Hasher bukan berarti pemakan makanan daging tersebut , tapi peserta komunitas Hash House Harriers. Kalau di kota Sumbawa Besar cukup familiar disebut komunitas Hash saja. Keuletan mereka memang sangat jelas terlihat dari gerak fisik saat di lapangan. Meskipun beberapa dari mereka kesulitan menyeberang sungai setinggi pinggang, dengan arus yang lumayan deras, mereka ‘ogah’ dibantu sembari mengatakan :

“Jangan..jangan… biarkan mandiri….”

Mereka tidak mau dikatakan lemah, tidak mau dibantu membawakan barang bawaan mereka, dan ingin menyeberang dengan usaha mereka sendiri. Hehehe…. baiklah para bapak-ibu Hasher yang tangguh… kami agaknya harus menjaga dari jauh saja. Sambil was-was…karena usia mereka sudah tidak muda lagi…  Ketika mereka semua telah sampai ke seberang, legalah kami semua. Inilah isi liburan kami bareng komunitas Hash yang ulet, rada keras kepala tapi senyumnya nggak ilang-ilang dari wajah mereka…. whatever..

Saat menyeberang sungai
Saat menyeberang sungai

Hmmm…

 

Posted in Mikropreneur, Opini

WHO CARE?

Who care? (Siapa yang peduli?)

Who care?
Who care?

Pagi menjelang siang, 6 Januari  seperti biasa saya membuka internet mengunjungi alamat-alamat tertentu yang saya butuhkan. Mengunjungi facebook masih saya lakukan sejak 2008, yaitu sejak mengenal social media tersebut dalam hidup saya. Kejenuhan dan rasa muak tentu kerap hadir. Seperti banyak orang juga merasakannya. Terbukti banyak link berita maupun blog pribadi yang menuliskannya. Mereka banyak menuliskan misalnya : siapa yang peduli keluhan Anda di fesbuk? Siapa yang peduli apakah Anda menikah atau baru bertunangan , atau baru lulus studi. Cuman…anehnya… tulisan tersebut diposting di facebook  juga. Logikanya, kalau nggak suka facebook ya nggak usah membukanya, titik. Agak aneh juga kalau nggak suka facebook tapi masih masuk ke dalamnya untuk berkoar-koar mengumumkan jeleknya facebook. Kalau merasa terganggu dan merasa sudah tidak ada manfaatnya lagi, lebih baik tinggalkan saja 100%, selesai. Kalau  mengulik-ulik, meneropong sisi buruknya, menguliti sampai bersih ya silakan, dan lakukanlah tanpa masuk ke dalam facebook.  Quit is quit, 100% quit, without touching the object where you have been out. Berhenti ya berhenti, 100% berhenti, tanpa menyentuh objek tempatmu telah keluar/berhenti.

Sekali Lagi : Dunia Nyata versus Dunia Maya

Masih sering diperdebatkan antara dunia nyata dan dunia maya. Tentu saja ada bedanya. Meski tipis, dan kadang-kadang malah tak ada bedanya. Kok bisa? Misalnya begini : ada orang yang keukeuh memprotes orang lain dengan ungkapan begini,

“Hei, duniamu itu bukan dunia maya”

Latar belakangnya adalah karena orang yang diprotesnya itu sering terlihat sibuk dengan gadget (ponsel, laptop, notebook, dll). Padahal orang yang dituduh itu telah mengerjakan tugas-tugas dunianya. Hanya kebetulan pas dilihat saja ia sedang sibuk dengan gatget. Karena mereka berdua bertemu hanya pada saat jam istirahat, dimana si tertuduh beristirahat dengan cara bermain gadget, dan yang menuduh merasa tidak diperhatikan. Tentu saja orang yang dituduh tidak merasa hidup di dunia maya, karena ia telah mengerjakan tugas-tugas dunianya. Jika pun yang menuduh merasa tidak diperhatikan … lha mbok yao bilang, “Letakkan sebentar gadget-mu dan pandanglah diriku !” Nah lebih jelas seperti itu , bukan? Lebih menghibur, lebih enak dan tidak menyudutkan secara membabi buta. Gimana, mas bro dan mbak bro?

Kasus lain : misalnya si Kamid, ia pekerja writepreneur (bekerja di dunia kepenulisan). Setiap jam kerja ia sibuk membuka internet. Kadang kala bisa 10 jam per-hari ia bergelut dengan internet. Apakah kita mau mengatakan dunianya dunia maya? Sebenarnya kan ia sedang berada di dunia maya untuk memenuhi tugasnya di dunia nyata. Jadi untuk si Kamid itu boleh dibilang dunia mayanya adalah dunia nyata. Ia pasti berinteraksi dengan keluarganya melalui gadget-nya itu, atau bertatap muka langsung. Ia pasti juga berinteraksi dengan rekan kerja di sela-sela berselancar di internet. Pun ia pasti juga makan, minum, belanja keperluan pribadi, membersihkan diri,  yang hal-hal tersebut pasti dilakukan dengan bertemu langsung dengan orang lain.

Ada lagi persamaan yang jarang disadari oleh kita. Yaitu tentang pasang-surut suasana hati. Interaksi di dunia maya dan di dunia nyata, keduanya sama-sama mengalami pasang-surut suasana hati. Marah, sedih, jenuh, muak, senang, merasa termotivasi, merasa diabaikan, merasa dilecehkan, bangga, dan aneka rupa suasana hati lainnya. Mana yang lebih penting? Mengendalikan suasana hati atau memikirkan saya sedang di dunia maya/nyata?

Ketika Alarm Berbunyi

warning

Ketika alarm berbunyi, tandanya kita harus bangun. Saat kita mengerjakan segala sesuatu , apapun itu, yang penting kita sadar kapan harus bangun, bergerak, dan mengingat Sang Pencipta. Alarm itu misalnya, rasa lelah, suara panggilan ibadah, panggilan orang di dekat kita, atau perut yang keroncongan. Berhentilah sejenak dengan gadget atau kerjaan kita. Jika kita tidak berhenti, akan ada alarm kedua yang sering kali lebih menyakitkan hati atau fisik kita. Percayalah! Karena saya kerap mengalaminya. Hmm jadi terlintas dipikiran, jika kita hendak menggunakan gadget disaat ada orang dekat atau teman di sekitar kita, supaya aman mungkin nggak salah kita izin ,”Saya mau sibuk sama gadget, keberatan nggak?’ Mungkin dengan ungkapan senada itu kita bisa membuat berkah selama menggunakan gadget baik untuk sendiri maupun orang lain. Hmm….

Posted in Diary, Mikropreneur

Batudulang

Menjalani pekerjaan berat selalu berbuah manis #quoteku

Batudulang nama sebuah desa di kawasan kabupaten Sumbawa. Petikan quote di atas selalu berlaku dalam skala kecil maupun besar. Ini adalah kisah skala kecil. Pekerjaan beratnya adalah jalan kaki , 6 km , nemani nasabah. Tantangan lainnya adalah : Sumbawa sedang pada masa puncak suhu tertingginya. Desa Batudulang letaknya di perbukitan. Jadi rute perjalanan berupa tanjakan dan turunan.

Perjalanan ini adalah kegiatan utama kelompok HASH. Kelompok HASH adalah komunitas pejalan kaki, yang sengaja memilih rute-rute unik dan menantang. Mereka kebanyakan adalah pengusaha Chinese Sumbawa. Penulis di sini hanya penggembira yang agak kurang hobi jalan. Tugas dari suami saja yang menggerakkan penulis untuk ikut jalan. Ibarat ikan sudah kena jaring.  Ini pekerjaan berat yang lain : yaitu  kita melawan untuk mengalahkan yang tidak kita sukai. Maka… ini dia buah manisnya ….. sesampai di bukit , kami disuguhi sebuah lapangan bola hijau. Letaknya bersebelah dengan pemakaman umum. Fotonya ada di bawah ini :

1383007159466736679

Setelah didekati , akan tampak rumpun bunga Amarilis yang bertebaran acak di lapangan bola yang hijau itu. Berikut foto-fotonya :

1383007478171652662

1383007542692385911

1383007612845891221

1383007692927505915

13830077721138259354

Namanya bunga Amarilis.

Nama latin (semoga tidak salah) :  Hippeastrum x ackermannii

Itulah buah manisnya. Selalu sesuai dengan pengorbanan dan kerja beratnya.

Salam dari Sumbawa.

Posted in Mikropreneur

Wort It

watchaaaa

Worth it?

Layak, pantas,  dan sudah sewajarnya.

Banyak sekali keinginan kita. Mimpi pun tak kalah banyak. Katanya teman, Tuhan senang pada yang fokus. Jadi kita boleh banyak mimpi dan keinginan. Asal semua bisa atau sanggup kita kerjakan ya mengapa tidak. Sering terjebak pada perasaan putus asa ya wajar. Asal tetap mengerjakan step-step kecil pekerjaan setiap harinya. Saya mengalami banyak kejadian kecil yang dinamakan worth it tadi.  Begini ceritanya : telah lama saya mencoba membuat id di hp blackberry. Tapi beberapa tahun mencoba membuat id tidak pernah berhasil. Namun saya tetap mencobanya, demi mendapatkan download linkedin.com di ponsel saya. Akun lindkedin sudah saya buat kurang lebih setahun lalu. Saya meminta pertemanan  melalui jalur teman SMA, teman kuliah dan beberapa kenalan, tanpa melihat ada tidaknya hubungan dengan bidang minat saya. Akun itu saya hidupkan beberapa bulan. Suatu hari saya mendapatkan pengakuan (endorsed)  di situs linkedin dari teman , namun saya tidak merasa mampu di bidang yang mendapatkan pengakuan tersebut. Berikutnya, kembali saya mendapat pengakuan pada bidang yang hanya saya kuasai sedikit saja. Saya mulai merasa aneh. Beberapa bulan dengan perasaan aneh itu akhirnya saya memutuskan menghapus akun saya. Beberapa bulan kemudian kembali saya membuat akun baru, setelah saya merapikan fokus keinginan saya. Membuat profil yang lengkap dan cukup detil. Saya berniat mencari penerbit untuk buku tutorial saya. Karena itu saya merasa perlu membuat akun yang fokus. Saya sengaja tidak meminta pertemanan. Namun kalau ada orang meminta pertemanan akan saya terima. Saya masih merasa malu minta pertemanan yang tidak sesuai dengan minat saya. Saya memutuskan untuk mengikuti (follow) perusahaan yang berhubungan dengan penerbitan buku tutorial PowerPoint saya.  Saya berkeyakinan jika memang wort it, akan ada jalan lanjutannya. Setelah itu baru saya coba lagi download linkedin di ponsel saya. Tahap pertama adalah membuat id blackberry yang telah lusinan kali gagal saya buat. Saat itu ternyata : bisa! Worth it. Ini seperti tanda izin dari Tuhan, bahwa apa yang saya lakukan dengan akun linkedin saya sudah on track. Maka saya layak memperolah id di blackberry saya. Tahap kecil yang sangat-sangat melegakan. Merasakan bahwa yang kita lakukan mendapat izin Tuhan. Aduh… siapa yang bisa mengalahkan izin Tuhan? Tidak ada! Sama seperti izin Tuhan atas menangnya Garuda Jaya U-19 di piala  AFF September 2013 lalu.

PowerPoint si Kanzu
PowerPoint si Kanzu

Ini adalah profil  PowerPoint milik si Kanzu (ananda), yang masih dalam harapan untuk diterbitkan. Apakah layak atau tidak? Saya jadi semangat mencoba terobosan-terobosan lagi. Seiring doa, cepat atau lambat jawaban Tuhan akan bisa kita pahami, bisa ya bisa tidak. Apakah itu layak atau tidak. Bagaimana dengan Anda?