Posted in Diary, Opini

NatGeo Wild-isme

Wow…kalau soal alam ada banyak rupa gerakannya. Menurut saya yang bisa dijadikan patron utama adalah tayangan National Geography-Wild  yang ditayangkan dalam satu channel khusus di televisi. Akibat tayangan NatGeo-Wild itu dan reaksi seorang teman di dunia maya, munculah tulisan ini.

Sumber : https://www.pinterest.com/pin/344736546446223405/
Sumber : https://www.pinterest.com/pin/344736546446223405/

Sepengetahuan saya selama bergaul di dunia nyata dan tidak nyata (dunia maya di berbagai sosial media) bisa disebutkan beberapa gerakan cinta alam misalnya : di sekolah dan perguruan tinggi dengan grup pecinta alamnya dan juga di fakultas yang memuat mata kuliah ekologi, kehutanan, pertanian, peternakan juga perikanan. Gerakan cinta alam di tengah masyarakat juga muncul secara acak, ada tabloid atau website yang khusus mengupas tujuan wisata alam, dan ada juga acara stasiun tivi yang cukup menjamur berbicara soal alam liar Indonesia, destinasi spot alam cantik tersembunyi di berbagai pelosok negri. Ada juga sosok-sosok pecinta alam yang mau mengajak teman-temannya hingga terbentuk komunitas khusus untuk menjelajah alam liar, baik jalan kaki, naik sepeda, menggunakan motor trail atau kendaraan-kendaraan roda empat. Jutaan bahkan lebih rupa gerakan yang ada, maka jutaan pula jejaknya. Namun satu objeknya yaitu : to love nature –mencintai alam.

Kita menjatuhkan diri pada pilihan “cinta alam” kadang-kadang karena terjebak pekerjaan. Kadang juga memang sudah dititiskan ke darah kita sejak lahir. Kalau di soal kerjaan, kadang kita terlibat dengan orang-orang yang memiliki hobi jelajah alam. Akhirnya kita tenggelam di dunia itu dan berenang-renang menikmatinya. Itu namanya tergiring lalu tercebur di arena. Bagi yang bisa menikmati , ia akan mengembangkan perannya untuk menyebarluaskan kecintaan alamnya pada masyarakat luas. Bagi yang setengah-setengah saja menikmati, gaungnya akan berhenti di permukaan kulitnya. Bagaimana pun hasrat kecintaan tidak bisa dipaksakan. Kalau kita terjun di dalamnya, itu sudah garis tangan. Menurut bahasa yang lebih serius disebutkan : Tuhan sudah memilihmu.

Jadi kalau sudah cinta ya jangan marah lihat gerakan orang lain yang punya rupa beda. Yang suka jalan, ya nggak perlu marah lihat orang lain yang sedang gembar-gembor mempromokan gerakan komunitasnya. Ada komunitas modal dengkul (tak memerlukan banyak biaya) , ada komunitas banyak biaya (karena kebetulan anggotanya orang-orang berduit), ada komunitas yang dibiayai negara (karena ia bergerak dalam institusi pendidikan milik negara), ada juga yang disponsori swasta dan ada yang mencari uang dari gerakan cinta alamnya. Beberapa yang saya sebutkan di atas juga masih sangat terbatas jenisnya. Terbatas kemampuan saya untuk menjabarkan motivasi gerakan mencintai alam. Terlalu luas.

Saya ingin cerita tentang motivasi gerakan cinta alam yang mendatangkan duit. Saya terkesan dengan sepak terjang dan motivasinya. Seorang mantan reporter tivi, yang juga penyiar berita, memutuskan pensiun dari pekerjaannya dan mengambil kerjaan baru di bidang traveling. Ia membangun website bersama fotografer rekan kerjanya. Websitenya memuat foto-foto bagus yang membuat saya jatuh cinta. Kualitas foto yang bagus memang bisa menarik jutaan calon pelancong untuk datang ke tujuan wisata yang sedang di promokan. Sang fotografer itu juga berhasil menjangkau pulau terpencil di kawasan perairan Maluku untuk berjumpa burung pelikan yang datang ke pulau tersebut pada musim tertentu.

Pelikan di Baronda Maluku . Sumber : http://marischkaprudence.blogspot.com/search/label/%23BarondaMaluku
Pelikan di Baronda Maluku . Sumber : http://marischkaprudence.blogspot.com/search/label/%23BarondaMaluku

Saya yang karena terbatas geraknya di seputaran pulau Sumbawa, merasa surprise melihat hasrat sampai sejauh itu menunggu kehadiran pelikan-pelikan mendarat di pulau terpencil di Maluku. Ah mungkin tak adil juga yah saya memuji berlebihan di tengah hati Anda yah? Tapi point saya… ada banyak percikan kebahagiaan di sekitar kita, dimanapun kita berada. Berdoalah mendapatkannya. Jika sudah Anda dapat, saya ucapkan selamat! Semoga kebahagiaan tak luntur diterpa badai.

Untuk pembaca “NatGeo Wild-isme” …trims sudah mampir.

Posted in Opini

As Long As You Happy

Saya punya dua tulisan yang tertunda. Seharusnya tulisan-tulisan itu tayang di blog ini pada saat kejadian. Yaitu bulan Mei dan November 2014 lalu. Tapi pengaruh media sosial begitu buruk pada mood menulis saya. Saya malah lebih lama membaca media sosial dibanding menuliskan posting baru. Akibatnya yang muncul justru tulisan ini. Tulisan yang menguraikan seputar menyikapi media sosial .

Bagi saya media sosial menjadi semakin keruh sejak pilpres 2014. Sejak itu, terjadilah banyak perang sengit buingits di berbagai media sosial. Bacaan di timeline makin memusingkan. Orang jadi berpihak sedalam mungkin sekaligus menguraikan sisi buruk sedalam mungkin. Anehnya saya tidak menghentikan membacanya. Makin berat rasanya menulis kejadian-kejadian lumrah yang ringan di tengah timeline keruh di media sosial. Ingin menulis, tapi terbentur suasana yang super sensitif dan keruh di sana. Tadinya saya menolak dan menggugat situasi itu. Mengapa soal keyakinan menjadi serba diumbar. Lima orang tentu akan punya lima keyakinan yang tidak persis sama. Jadi jika satu orang menuliskan keyakinannya di media sosial, tentu dengan mudah akan memunculkan banyak reaksi yang kurang atau tidak sependapat. Pernah saya menghapus pertemanan dengan seseorang karena bagi saya tulisannya arogan. Namun teman saya itu meminta pertemanan lagi. Saya pun menerimanya. Kemunculannya tidak beda dengan sebelumnya. Tulisan sang teman ini masih saja menukik-nukik tidak membuat sejuk. Ketika membacanya terasa makin galau saja. Anehnya lagi (aneh yang kedua), saya tidak menghentikan membaca tulisan di media sosial. Kali ini saya membacanya secara cepat dan sekilas. Tidak lagi detil seperti dulu.

Berbulan-bulan, tahun pun berganti. Sampailah pada kesimpulan. Saya tak perlu lagi merespon apa pun. Saya mulai jarang menulis di berbagai timeline media sosial. Saya mulai meninggalkan menulis kata-kata bijak yang dikutip dari sana-sini. Namun ketika ada berita yang menggelitik saya kembali bereaksi. Tidak berupa kalimat, namun berupa update foto profil baru, atau mengunggah foto-foto alam dan juga lagu-lagu. Apa yang terjadi? Suasana media sosial agaknya tidak berubah. Persoalan keyakinan tetap diunggah. Kritik sosial politik apalagi…. padat!

“Sudahlah…,” batin saya.

“As long as you happy,” itu akhirnya yang tersimpul di kepala.

Eze France
Eze France

Selama engkau senang, buatlah posting yang membuatmu senang, lega dan damai. Teman baikmu pasti mendoakanmu. Selamat berkarya…

See you….

Posted in Diary, Opini

Hijab Story With The Style On It

Ketika saya kuliah di sekitar tahun 1990-an, sebutan penutup kepala adalah jilbab ada juga yang menyebutnya kerudung. Selama ini saya biasa menggunakan kedua kata itu karena suka. Bahasa sekarang memakai istilah ‘hijab’ ya? Baiklah,  saya akan menggunakan kata itu sekarang di artikel ini.

Hijab Story With The Style On It

Cerita hijab yang dibumbui style di atasnya adalah terjemahan bebas untuk judul Hijab Story With The Style On It. Sejauh pengetahuan saya, tidak semua anak muda (yang perempuan) mampu melindungi diri dengan laku dan tutur katanya. Si cerdas yang terbuka akan mudah membentengi dirinya meski tanpa kain kerudung, demikianlah bahasa saya mencerna peran hijab secara kasar (secara global). Hijab di alam Indonesia tidak bisa disamaratakan. Sangat beragam motivasinya. Hijaber atau non-hijaber tidak bisa dinilai secara serampangan, sebagaimana kita tidak boleh menilai seseorang dari penampilannya. Namun anjuran ayat suci yang diulang lebih dari satu kali itu juga tidak bisa diacuhkan begitu saja. Perintah itu ada dan menjadi jangkar pengendali bagi penganutnya. Baiklah saya mulai bercerita aneka foto yang berasal dari koleksi pribadi dan sebagian saya ambil dari internet berikut ini.

Prambanan Temple Style

Prambanan Temple Style 1
Prambanan Temple Style 1 (koleksi pribadi 2014)

Pergi ke Candi Prambanan dengan jalan naik turun, kadang angin kencang, kadang mendung sepoi-sepoi, Mari kita kenakan celana panjang agar pakaian bawah tak diterbangkan angin a la Marilyn Monroe. Mau celana apa aja, terserah keyakinan dan selera masing-masing yah! Area Candi Prambanan, peninggalan peradaban Hindu itu sungguh terkenal hingga kini, wisman (baca : wisatawan manca negara) selalu mudah ditemui di sana. Mata laki-laki di sebelah saya (suami) juga tak lupa mengabadikannya, ini dia hasilnya :

Prambanan Temple Style 2
Prambanan Temple Style 2 (koleksi pribadi)

Borobudur Temple Style 

Borobudur Temple Style
Borobudur Temple Style (koleksi pribadi)

Candi Borobudur adalah lokasi wisata purbakala yang melewati tanjakan tangga dan juga turunan. Jadi celana panjang masih tetap disarankan. Juga belilah topi-topi mirip topi istana kerajaan Eropah. Topi cantik perempuan itu banyak dijual di pelataran parkir menjelang masuk area candi. Topi untuk laki-laki juga banyak. Bukan sekedar untuk bergaya dan pelindung panas, tapi juga bagi-bagi rejeki dengan pengrajin dan pedagang asongan, begitu maksudnya. Di atas Candi Borobudur sekarang banyak Satpam mondar-mandir. Mereka sekarang tegas memberi peringatan supaya pengunjung tidak naik ke stupa. Hanya boleh duduk lantai. Bagus juga begitu , disiplin dan sangat menjaga warisan leluhur kita yang sangat berharga.

Tapi hijab story di Borobudur tak lengkap jika tak menampilkan wisman asal Italia ini , karena bagi kehidupan hijaber, mereka adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan.

Borobudur Temple Style 2 (koleksi pribadi)
Borobudur Temple Style 2 (koleksi pribadi)

Saya menjadi yakin mereka berasal dari Itali. Terdengar mereka mengatakan “…volare” cukup keras dalam perbincangan mereka. Cara pengucapannya seperti yang pernah saya dengar di iklan-iklan makanan khas Itali di televisi.  Mereka tengah mengagumi patung Budha dengan bahasa mereka yang panjang. Saya hanya mendengar sepenggal kata  “volare” saja. Kemudian belakangan kumengerti artinya “terbang”.

Cheap Style

Cheap Style
Cheap Style (koleksi pribadi)

Bahan murah meriah kain Bali bercorak tyedie , berbentuk celana ali baba cukup ringan digunakan ke pantai bareng komunitas kita. Kerudung pashmina elastis bisa diputar-putar secara fleksibel menutupi rambut dan leher. Murah meriah, mengapa tidak? Mengapa malu dibilang ‘kuno’, ‘nggak berkelas’, ‘ndeso’, … masih ada ya yang malu dikatain orang seperti itu gara-gara apa yang kita kenakan? Bebaslah memilih dengan yang kita kenakan asal dengan keyakinan.

Pastel Color Free Style 

Pashmina sekarang banyak digunakan oleh hijaber. Komposisi busana di bawah ini menggunakan warna pastel yang bebas memadu-padankan corak blus bergaris dan celana motif bunga. Namun keserasian warna pastel yang digunakan membuat penampilan ini enak dilihat dan suasana yang ditimbulkannya santai, hangat. (sumber : sebuah blog di Internet yaitu http://modscarfie.blogspot.com/)

Pastel Color Free Style
Pastel Color Free Style ~~sumber : http://modscarfie.blogspot.com/

Street Style 

Setelah orang memutuskan berhijab, ia akan mencari-cari style terbaiknya. Mahal , murah , simpel atau penuh detil, semua disesuaikan dengan profesi kita sehari-hari. Hati-hati terlalu terjebak dengan mode/style jangan sampai porsi waktu kita untuk memikirkan style lebih banyak dibanding karya kita untuk orang banyak. Kecuali jika profesi kita adalah seorang stylist. Saya banyak sekali membuka laman Pinterest. Sebuah laman penyedia gambar-gambar atau foto-foto aneka kategori. Laman itulah yang membuat saya banyak termotivasi untuk menuliskan banyak hal sesuai suasana foto yang membuat saya tertarik. Foto di bawah ini memuat warna-warna alam yang simpel. Coklat dark khaki, biru langit untuk pashmina kerudung dan celana blue jean. Terdapat pemanis di manset tangan warna hitam, selesailah simplicity model jalanan yang mantap ini.

Street Style 1
Street Style  ~~sumber: http://vigisantissima.blogspot.com/

Go To Campus

Go To Campus ~~sumber http://www.pinterest.com/pin/205687907951775617/
Go To Campus ~~sumber http://www.pinterest.com/pin/205687907951775617/

Foto di atas diambil dari blog milik hijaber yang tinggal di Amerika. Menawarkan pilihan warna padu-padan sebagai tambahan referensi bagi peminatnya. Kiri memadukan warna ungu, biru turquoise dengan celana jean warna gelap. Kanan memadukan warna kuat yaitu warna merah di imbangi dengan warna pastel biru pada blus dan krem celana panjang. Gaya simpel sehari-hari dari baju/blus/celana di atas banyak dijual di pasaran negri kita juga.

Young Style
Young Style ~~sumber : http://zahra-salsa.blogspot.com/

Pada foto Young Style  di atas, kelonggaran masih ditampilkan di lutut ke atas … gerakan bebas untuk anak muda yang enerjik bisa ter-cover dengan model seperti itu. Warna kuat dipilih di bagian kerudungnya, warna pakaian lainnya menggunakan warna netral yang mendukung kekuatan warna kerudung.

Tanggal 4 September kemarin ternyata adalah International Hijab Solidarity Day. Saya baru mengetahuinya kemarin dari timeline di Twitter. Secara tidak sengaja pada tanggal 3 September, tepat sehari sebelumnya saya mengalami rasa gemetar yang meresahkan karena melihat penampilan wanita-wanita yang serba terbuka. Namun saya tidak membencinya. Karena ada pepatah : Janganlah kamu membenci persoalan yang tidak kamu mengerti. Alih-alih mengurusi ketidakmengertian itu, hari ini di tanggal 5 September, saya mengikuti saja dorongan dari dalam. Sebuah dorongan yang mengarahkan untuk membuat tulisan tentang hijab. Biarkanlah kita memilih penampilan menurut keyakinan masing-masing. Itu saja ya…. , if we different, let it be like that. Terjemahannya gini : jika kita beda, ya sudah…biarlah itu seperti itu. Let it be … let it go.

Posted in Facebook, Opini

FACEBOOKER (4)

Sumber : http://www.pinterest.com/pin/146155950381235480/
Sumber : http://www.pinterest.com/pin/146155950381235480/

Makin tua usia Facebook, makin banyak perubahan yang dirasakan penggunanya. Perubahan itu adalah pengguna bisa makin menjauh atau tetap konsisten melakukan log in.  Pengguna yang sejak awal terlihat aktif, sebagian diantaranya cenderung tetap aktif sampai tahun ke 10 usia Facebook. Para penggunanya tetap punya karakter khusus yang relatif mudah dilihat/terbaca. Master marketing berada di urutan teratas dalam frekuensi mengaksesnya. Para penulis , terutama yang masih merintis menjadi penulis profesional, membuat Facebook sebagai arena bermain yang empuk. Katagori motivator juga menempati top updater.Yang malu-malu juga masih sesekali menuliskan sesuatu di Facebook dalam frekuensi entah setahun sekali, satu semester sekali atau sebulan sekali.

Kejutan Facebook di ultahnya ke 10 cukup mengena di hati penggunanya. Memanah sisi melow penggunanya dengan tepat. Facebook di hari jadinya ke 10 menawarkan video keleidoskop masing-masing penggunanya. Anak-anak, wanita tua-muda, pria tua-muda menyambut tawaran itu dengan mengakses link video tersebut melalui akun mereka masing-masing. Saya termasuk di antara yang mengakses dan mempublikasikan video kaleidoskop itu. Menurut saya, mengenang peristiwa penting yang kita posting di Facebook, bisa tuh menambah sedikit motivasi. Bahkan kilas balik lewat video persembahan Facebook tersebut bisa juga membantu kita makin melihat kekurangan kita.

Pernah ada ramalan bahwa Facebook akan pudar popularitasnya setelah tahun ke 10 usianya. Para peramal sosial media itu membandingkan dengan Yahoo. Yahoo kalah tenar dengan Facebook dan akhirnya menurun pamornya setelah berusia 10 tahun (tahun 2004, Yahoo berusia 10 tahun). Meski tetap hidup,  Yahoo tidak bisa kembali pada masa jayanya dulu. Facebook kini (2014) berusia 10 tahun. Dosis filantropinya (bakti sosial) makin besar , pengembangan teknologi maupun jumlah pengguna juga makin besar. Ramalan penurunan pamor memang belum terbukti. Benarkah Facebook  akan memudar setelah ultahnya ke 10?

Facebook sepertinya sangat berminat sekali pada akses seluas-luasnya. Juga sangat berminat menghubungkan antar manusia sebanyak-banyaknya. Sehingga media sosial yang dibeli Facebook adalah yang memiliki kriteria itu. Lalu apa yang dirasakan penggunanya dengan model koneksi sebanyak-banyaknya antar manusia seperti dalam model koneksi Facebook? Pada awal penggunaannya, para facebooker cenderung hanya membagi tulisan yang dirasakan paling berkesan baginya saja. Facebooker di awal penggunaannya tidak peduli perasaan/reaksi orang lain. Ia menuliskan apa saja yang dirasa menyenangkan hatinya. Beberapa pengguna yang telah berpikiran dewasa dan punya empati terhadap orang lain, lama-lama mereka menyadari bahwa mereka menyukai tulisan-tulisan di wall Facebook yang bersifat universal saja. Kesadaran itu akhirnya membuat dirinya berusaha menuliskan hal-hal yang bersifat universal juga.

Btw… saya pengguna Facebook, maka saya adalah facebooker. Keep calm yaaa  … hanya sampai di sini saja postingnya… salam buat keluarga Anda. Trimakasih sudah log in di site ini…

Posted in Mikropreneur, Opini

WHO CARE?

Who care? (Siapa yang peduli?)

Who care?
Who care?

Pagi menjelang siang, 6 Januari  seperti biasa saya membuka internet mengunjungi alamat-alamat tertentu yang saya butuhkan. Mengunjungi facebook masih saya lakukan sejak 2008, yaitu sejak mengenal social media tersebut dalam hidup saya. Kejenuhan dan rasa muak tentu kerap hadir. Seperti banyak orang juga merasakannya. Terbukti banyak link berita maupun blog pribadi yang menuliskannya. Mereka banyak menuliskan misalnya : siapa yang peduli keluhan Anda di fesbuk? Siapa yang peduli apakah Anda menikah atau baru bertunangan , atau baru lulus studi. Cuman…anehnya… tulisan tersebut diposting di facebook  juga. Logikanya, kalau nggak suka facebook ya nggak usah membukanya, titik. Agak aneh juga kalau nggak suka facebook tapi masih masuk ke dalamnya untuk berkoar-koar mengumumkan jeleknya facebook. Kalau merasa terganggu dan merasa sudah tidak ada manfaatnya lagi, lebih baik tinggalkan saja 100%, selesai. Kalau  mengulik-ulik, meneropong sisi buruknya, menguliti sampai bersih ya silakan, dan lakukanlah tanpa masuk ke dalam facebook.  Quit is quit, 100% quit, without touching the object where you have been out. Berhenti ya berhenti, 100% berhenti, tanpa menyentuh objek tempatmu telah keluar/berhenti.

Sekali Lagi : Dunia Nyata versus Dunia Maya

Masih sering diperdebatkan antara dunia nyata dan dunia maya. Tentu saja ada bedanya. Meski tipis, dan kadang-kadang malah tak ada bedanya. Kok bisa? Misalnya begini : ada orang yang keukeuh memprotes orang lain dengan ungkapan begini,

“Hei, duniamu itu bukan dunia maya”

Latar belakangnya adalah karena orang yang diprotesnya itu sering terlihat sibuk dengan gadget (ponsel, laptop, notebook, dll). Padahal orang yang dituduh itu telah mengerjakan tugas-tugas dunianya. Hanya kebetulan pas dilihat saja ia sedang sibuk dengan gatget. Karena mereka berdua bertemu hanya pada saat jam istirahat, dimana si tertuduh beristirahat dengan cara bermain gadget, dan yang menuduh merasa tidak diperhatikan. Tentu saja orang yang dituduh tidak merasa hidup di dunia maya, karena ia telah mengerjakan tugas-tugas dunianya. Jika pun yang menuduh merasa tidak diperhatikan … lha mbok yao bilang, “Letakkan sebentar gadget-mu dan pandanglah diriku !” Nah lebih jelas seperti itu , bukan? Lebih menghibur, lebih enak dan tidak menyudutkan secara membabi buta. Gimana, mas bro dan mbak bro?

Kasus lain : misalnya si Kamid, ia pekerja writepreneur (bekerja di dunia kepenulisan). Setiap jam kerja ia sibuk membuka internet. Kadang kala bisa 10 jam per-hari ia bergelut dengan internet. Apakah kita mau mengatakan dunianya dunia maya? Sebenarnya kan ia sedang berada di dunia maya untuk memenuhi tugasnya di dunia nyata. Jadi untuk si Kamid itu boleh dibilang dunia mayanya adalah dunia nyata. Ia pasti berinteraksi dengan keluarganya melalui gadget-nya itu, atau bertatap muka langsung. Ia pasti juga berinteraksi dengan rekan kerja di sela-sela berselancar di internet. Pun ia pasti juga makan, minum, belanja keperluan pribadi, membersihkan diri,  yang hal-hal tersebut pasti dilakukan dengan bertemu langsung dengan orang lain.

Ada lagi persamaan yang jarang disadari oleh kita. Yaitu tentang pasang-surut suasana hati. Interaksi di dunia maya dan di dunia nyata, keduanya sama-sama mengalami pasang-surut suasana hati. Marah, sedih, jenuh, muak, senang, merasa termotivasi, merasa diabaikan, merasa dilecehkan, bangga, dan aneka rupa suasana hati lainnya. Mana yang lebih penting? Mengendalikan suasana hati atau memikirkan saya sedang di dunia maya/nyata?

Ketika Alarm Berbunyi

warning

Ketika alarm berbunyi, tandanya kita harus bangun. Saat kita mengerjakan segala sesuatu , apapun itu, yang penting kita sadar kapan harus bangun, bergerak, dan mengingat Sang Pencipta. Alarm itu misalnya, rasa lelah, suara panggilan ibadah, panggilan orang di dekat kita, atau perut yang keroncongan. Berhentilah sejenak dengan gadget atau kerjaan kita. Jika kita tidak berhenti, akan ada alarm kedua yang sering kali lebih menyakitkan hati atau fisik kita. Percayalah! Karena saya kerap mengalaminya. Hmm jadi terlintas dipikiran, jika kita hendak menggunakan gadget disaat ada orang dekat atau teman di sekitar kita, supaya aman mungkin nggak salah kita izin ,”Saya mau sibuk sama gadget, keberatan nggak?’ Mungkin dengan ungkapan senada itu kita bisa membuat berkah selama menggunakan gadget baik untuk sendiri maupun orang lain. Hmm….

Posted in Diary, Opini

31 Desember 2013 Yang Lalu

Komunitas Kecilku
Komunitas Kecilku

Nama kegiatannya  “gathering“.  Acara ‘gathering’  bukan hal yang asing di telinga kita. Berisi kegiatan makan bersama, bernyanyi, berdoa, unjuk kebolehan lainnya, dan berfoto yang  dilakukan bersama. Serba bersama dalam satu ruangan, makanya dinamakan “gathering“.

Dinamika Kelompok

Kurang lebih lima puluhan orang berkumpul dalam satu ruangan itu. Kelompok kecil ini mulai menghangat saat dilantunkan musik lagu-lagu pengiring karaoke sebelum acara resmi dimulai. Adrenalin mulai naik akibat suara musik yang kita senangi. Musik hadir untuk merekatkan beragam manusia aneka latar belakang dalam satu ruangan. Beberapa orang yang berada dekat dengan aura perangkat karaoke, mulai melirik. Mereka mencoba mencari kesempatan untuk ambil bagian menyanyikan sebuah lagu favorit masing-masing.  Satu lagu yang dinyanyikan dengan cukup baik mengundang peminat lain yang berada agak jauh dari perangkat karaoke. Dua orang tergopoh-gopoh menuruni tangga dari lantai dua untuk melihat siapa yang menyanyikan lagu yang menggelitik hati mereka. Maka mereka pun mulai ikut bergabung. Sementara beberapa orang yang kelaparan pun menuruni tangga untuk makan malam di basement. Seperangkat bakso dan lontong dihadirkan di sana. Komunitas bergerak ke atas dan ke bawah menurut dorongan hati masing-masing.

Malam menjelang tanggal 1 Januari , bagi perbankan cukup menjadi penting. Pergantian tahun bukan sekedar blow-up kegembiraan dan dugem semata. Sebuah pekerjaan penyimpulan prestasi berada di titik tersebut. Bukan hanya perbankan saya kira. Tapi semua perusahaan besar maupun kecil-menengah. Sesuai dengan denyut ekonomi nasional yang dilihat di titik akhir tahun, maka perusahaan-perusahaan dalam negri pun menyelaraskan langkah mereka.

Dugem

Dugem
Dugem

Dugem ini dilakukan sekitar tiga jam. Berbagai unjuk kebolehan digelar atas kesepakatan bersama. Selebrasi atas kelelahan bekerja dalam kebersamaan dan leburnya rasa bersama dalam satu ruangan akan membuat keterikatan satu sama lain lebih kuat. Membangun kebersamaan dalam komunitas bisa makan waktu lama atau sebentar. Berapa pun lamanya kebersamaan yang tulus itu bisa terbentuk, selebrasi sebagai bentuk syukur itu relatif perlu. Dalam kebersamaan satu ruangan, bahasa kebersamaan bisa makin kuat. Luka dan kekecewaan yang dialami satu-dua pihak bisa diselesaikan dengan contoh kebersamaan yang baik.

Satu bentuk model kebersamaan yang dipaparkan di sini misalnya, pemimpin berada di tengah komunitas. Beliau memilih lagu dan semua menyanyikan lagu  tersebut sambil berdiri mengelilingi beliau. Masing-masing boleh bergaya bebas dan ekspresi yang bebas pula.  Setengah jam bernyanyi dengan model seperti ini, cukup efektif menambah kekuatan kebersamaan. Bagaimana tidak, dengan gaya masing-masing yang dibolehkan hadir bebas di sekeliling pemimpin tersebut menandakan penghargaan kemampuan masing-masing orang. Nilai lembut yang tak terasa telah tertanam dalam model seperti di atas.

Goyang Oplos
Goyang Oplos

Menyadap gaya goyang Oplos yang sedang tenar di media televisi bisa juga diterapkan jadi media perekat kebersamaan dalam komunitas 50-100 orang dalam satu ruangan. Kemunculan momen-momen lucu yang tak sengaja muncul akan menambah hangat dalam kebersamaan yang beraura positif. Misalnya di sini, seorang anak laki gemuk yang berjoget Oplos sangat lucu dan membuat semua komunitas tertawa senang.  Kebetulan sang anak berkaus coklat tersebut hanya mau berjoget jika ditemani ayah serta kakaknya. Manis sekali bukan momennya !

Selamat memasuki tahun fiskal yang baru ….  semoga kebersamaan di tempat Anda makin baik dari waktu ke waktu.

Posted in Diary, Opini

Blokade Nomor Tiga Barulah Kondom

Kemarin, hari Selasa, dua kali saya mendapat pesan dari Whatsapp tentang hiruk pikuk kondom ini. Kemarin pula , saya telah menuliskannya di jejaring fesbuk. Namun, lama-lama saya hapus sendiri tulisan note saya. Yah…. di fesbuk kita berteman dengan aneka karakter. Agak sensitif menuliskan moral di sana. Salah tulis , bisa-bisa kita sendiri yang kena hawa negatifnya. Ya sudah, akhirnya saya menuliskannya di Kompasiana.

Sibuk-sibuk berita kondom, saya jadi ikut sibuk ngecek stok kondom saya. Halah, kucari-cari ternyata nyelip di antara file-file di laci lemari. Sisa tiga biji, rasa strawberry. Barangkali sudah kadaluwarsa pula.

13861399441912029732
Kampanye Kondom Yang Bagaimana?

Saya memilih untuk membuka tabu saja , ini sebagai reaksi dari hari AIDS, Pekan Kondom Gratis dan kontroversinya sejak 1 Desember 2013 lalu.  Membuka tabuuntuk tidak malu menjelaskan sex (hubungan sex) pada anak.

Pekan Kondom Gratis adalah program pemerintah, yang “boleh” ada saat ini dan “diijinkan” ada saat ini oleh Sang Maha Pencipta. Untuk apa ia boleh ada? Satu hal yang bisa jelas ditangkap adalah untuk membangkitkan orang-orang yang peduli untuk bereaksi. Reaksi apa pun, bisa muncul. Bagi yang pernah punya pengalaman sexual yang buruk di masa lalu, barangkali ia akan diam saja, dan memilih untuk menahan diri. Bagi yang belum punya pengalaman sexual, masih remaja, barangkali ini kesempatan mereka untuk belajar dari internet segala hal tentang lawan jenis yang tidak pernah ia dapatkan melalui keluarga (dari orang tua khususnya)

Apa Hubungan Kondom dengan Pencegahan AIDS ?

~~Ada virus (HIV) penyebab di penderita berasal dari berbagai sumber.  Berpindahnya virus menuju penderita sebagian besar melalui jalan nista : hubungan sex bebas yang kebablasan. Tukar alat suntik pada pecandu narkoba. Sebagian kecil adalah melalui jalan yang memprihatinkan yaitu proses kehamilan dari ibu yang menderita AIDS.

Baiklah, pembaca sekalian. Kalau diutamakan tentang pencegahan AIDS nya. Ada peringkat penangkalnya di urutan pertama , kedua dan seterusnya. Berada di urutan pertama sebagai penangkal AIDS adalah :

  1. Blokade agama, yang jelas mengatakan hubungan sex (coitus interruptus) boleh dilakukan setelah menikah. Blokade ini harus berada di urutan pertama. Blokade ini tentu saja sangat banyak dilanggar di lingkungan yang orang tuanya kurang terbuka membicarakan sex di keluarga. Juga di lingkungan tak beruntung, di mana orang tua telah meninggal tanpa ada wali yang mengganti tugasnya dengan baik.
  2. Blokade kedua adalah blokade lingkungan. Beruntung yang punya lingkungan yang mengajarkan, memberi tahu, melindungi kita dan mencegah masuknya virus HIV pada tubuh kita.
  3. Kondom.

Kondom berada di urutan ke-3 sebagai pencegah AIDS.

Kampanye Kondom untuk Apa?

Lantas apa sebaiknya yang digunakan sebagai jargon dalam berkampanye kondom? Kalau bikin jargon sih mudah ya… ada ribuan , jutaan jargon yang bisa kita bikin.

Misal :

    • Ayo pakai kondom untuk membatasi jumlah anak, dua anak cukup.
    • Ayo pakai kondom, sejahtera dan bahagia dengan dua anak.
    • Kondom? Why not!
    • Pilihlah kondom aneka aroma buah, untuk membuat hubungan suami-istri lebih harmonis.
    • dll.

Bagaimana kalau begini ?

  • Gunakan kondom untuk mencegah AIDS !

Secara logika itu mungkin. Jika memang sejak awal bermain logika, boleh saja dibagikan kondom ke sekolah-sekolah SMA atau bahkan SMP di mana sudah ada bukti terjadi hubungan alat kelamin (coitus interruptus) sepasang anak ABG di sekolah tertentu. Masih ingat video hubungan ’suami-istri’ (coitu interruptus) di salah satu SMP di negri ini kan? Pokoknya kalau memakai logika, program pembagian kondom gratis di UGM itu bisa masuk akal semua. Atas nama logika saja lho ya…

Tapi, itu sudah dan sedang terjadi…

Di level masyarakat seperti saya , paling banter ya bereaksi dengan kekuatan yang ada.  Mau apa lagi?

Salam kondom, Indonesia !  😀  😀